Antara Aku Dan Maduku

Antara Aku Dan Maduku
Extra Part 3.


__ADS_3

Didapur Nia sedang memasak untuk makan malam bersama keluarga besar, dibantu Grandma sama Eyang Binti dan juga Oma yang melihat dari kursi roda.


"Jangan banyak drama ya Ne, hati hati tangannya yang keiris seperti yang sudah sudah!" Ledek Oma.


"Sudah diam saja Mama, gak bantuin malah mandorin disitu!" Sahut Grandma sembari mengiris bawang. Sedang Eyang Binti bantuin Bunda Nia mengiris sayuran.


"Kamu juga Bin, kalau ngiris sayuran yang kecil jangan gede segede gaban!"


"Hadeh Oma diem bae napa, Binti juga sudah tahu Ma."


"Gak keponakan gak mantu kalau dibilangin pada ngelawan aja, diiket berdua dibawah pohon mangga cocok itu!" Ucap Oma.


"Humm...." Suara Grandma menangis.


"Gitu aja nangis Kak," ledek Eyang Binti.


Grandma menangis saat mengiris bawang merah, dan itu ditertawakan oleh Bulan dan juga Tari yang baru saja bergabung untuk membantu Bunda.


"Yaelah Grandma, disuruh bantuin malah nangis kayak anak kecil saja!" Ucap Bulan tertawa bahak.


"Cucu gak berperasaan, Grandma mu ini nangis karena bawang merah nakal ini!" Rengek Grandma sambil menyodorkan bawang ditangannya.


"Ya begitulah Grandma mu Bulan, banyak drama kalau disuruh bantuin masak Bundamu!" Sahut Oma.


"Kalian tidak tahu penderitaan yang aku rasakan gegara ni bawang, coba kamu gantiin Grandma!" Grandma pun memberikan bawang dan juga pisau pada Bulan.


"Gak mau, bau tau!" Ucap Bulan.


"Bulan... Gak boleh gitu sayang, kalau gak ada bawang mana enak masakan yang kamu makan selama ini. Ayo bantuin Grandma!" Ucap Bunda lembut.


"Tapi Bunda..."


"Ayolah sayang!"


"Iya Bun!" Ucap Bulan lemas.


"Ri...kamu aja ya yang iris bawangnya, aku bantuin Eyangmu aja!"


"ya sudah sini!" Ucap Tari yang langsung mengambil alih pekerjaan yang harusnya dikerjakan Grandma dan Bulan.


"Eyang Bibin, Bulan bantuin ya!" Tawarnya.

__ADS_1


"Pintar benar ya kamu, mirip banget sama Grandma dan Omamu, curang alias urik!" Ucap Eyang, Bulan hanya merenges dan lanjut bantu Eyang.


Suasana sibuk terlihat didapur Bunda Nia, sedang para tetua pria asyik mengobrol diruang keluarga dan juga Mama Lena. Disana juga terlihat Bintang dan Langit yang sedang bercanda berdua. Mereka duduk disofa berdua, saling merangkul dan menempelkan kepala mereka terlihat saling menghayalkan apa yang mereka inginkan.


"Ingat ya Wan, kalau aku sudah sukses seperti Ayahku. Aku baru mau mencari yang namanya cinta sejati dan aku akan menikah satu kali dan tentunya akan menyayangi dan mengayomi pasangaku nanti seperti Ayahku ke Bundaku!" Ucapnya sambil menatap langit langit ruang keluarga, sambil menggoyang goyangkan kakinya.


"Akan aku ingat itu Kak, tapi kalau kelak kamu tidak hanya menikah sekali alias kamu gagal dalam pernikahan. Akan aku rebut dan aku nikahi mantan istrimu!" Ucap Langit sambil tertawa bahak.


"Kalian berdua, jangan kebiasaan duduk berduaan dan saling rangkulbegitu, geli lihatnya. Aduh...bisa bisa kalau ada tamu banyak mereka akan salah paham tentang kalian!" Ucap Lena yang memang selalu malas bantu bantu Nia didapur setelah memiliki dua anak.


"Kamu ngapain, Wan! Nempel nempel kayak perangko!" Ucap Bintang dengan menyingkirkan kepala Langit darinya.


"Lah...Kak Bintang juga ngapain coba!" Sahut Langit.


"Wan...Wan...Wan, namanya Langit bukan Awan. Berapa kali sudah dibilangin masih saja panggil nama lain!" Sahut Lena kesal.


"Sama aja Langit dan Awan tu, bedanya Langit lebih tinggi dari Awan!" Celetuk Bintang sambil ngakak.


"Terserah kamu aja lah Bintang, maunya menang sendiri seperti neneknya!" Ucap Lena yang sudah lelah setiap hari ribut sama Bintang pasal nama.


"Yailah, cilik ati jadi orang. Mamamu marah tu Wan." Ucap Bintang terngakak.


"Aku akan panggil kamu Langit, kalau kamu berhenti jadi penebar pesona!"


"Wah...itu tidak bisa, aku adalah sitampan yang tidak mudah bucin jadi susah untuk berhenti menebar ketampananku ini!" Ucapnya dengan percaya diri.


"Ya sudah, Awan dan Awan! Seterusnya akan aku panggil kau Awan, tidak boleh protes!"


"Makan malam sudah siap!" Teriak Bulan membuat perdebatan nama itu berakhir.


"Makan...makan...biar bisa menghadapi kenyataan kalau jodohmu itu masih jauh bestie!" Ledek Langit yang mendapat pukulan kecil dari Bintang.


"Sialan kamu Wan."


Seluruh keluarga kini sudah kumpul dimeja makan yang panjang. Mereka mulai menikmati hidangan yang tersaji tanpa tersisa. Sudah hal biasa dikeluarga Sanjaya selalu memakan habis dan tidak pernah menyisakan makanan mereka, sebab kokinya jago masak dan masakannya mengalahkan masakan dihotel atau resto bintang 5.


"Bisa diem gak kakimu!" Ucap Bintang yang duduknya berhadapan dengan Bulan, kaki Bulan yang terus mengusap usap kaki Kakaknya.


"Aku heran sama kamu Kak, kok bisa sih banyak cewek yang ngejar ngejar kamu tapi tidak satupun ada yang kamu lirik atau kamu jadiin pacarlah! Aku curiga kalau kamu sukanya sama cowok, dan cowok itu si Langit!"


"Sembarangan kalau bicara, aku lempar sendok baru rasa kau!" Ucap Bintang yang malah menginjak kaki Bulan dan memekik kesakitan.

__ADS_1


"Sakit woy...sakit!"


"Kak Bintang, aku cowok normal ye...jangan suka aku ya...aku tolak kamu mentah mentah, geli ih...!" Ucap Langit bercanda dengan nada yang ngondek.


"Aku yang geli lihat kelakuanmu Wan!" Ucap Bintang menonyor kepala Langit.


"Bintang, apa benar yang dikatakan adikmu?" Tanya Ayah Ello.


"Kalau masalah gak pernah pacaran memang iya, Yah. Tapi kalau suka sama cowok terlebih itu Si Awan, no no no. Itu tidaklah benar, aku cowok normal Yah tenang saja. Jangan dengarkan mulut lemes itu!" Ucap Bintang yang menatap tajam Bulan.


"Dia hanya mau pacaran sama orang yang tepat dan ingin membawanya kepelaminan dan menikah sekali seumur hidup!" Ucap Langit.


"Benar itu Bintang?" Tanya seluruh keluarga antusias, kecuali Lena. Bintang mengangguk dengan percaya diri.


" Benar yang dikatakan Langit. Tumben ngomongnya bener kamu, Wan. Biasanya aja selalu kesleo itu lidah!" Langit hanya nyengir tanpa menjawab sedang lainnya mengelus dada karena merasa lega.


"Wah...kamu mirip dengan Om Zac!" Seru Zacky bertepuk tangan sendiri.


"No...." Teriak Oma. "Kamu tidak boleh seperti Zac, dapat istri bar bar seperti Tantemu!"


"Oma...!" Ucap Lena cemberut.


"Tenang saja Oma, aku hanya ingin wanita seperti Bunda. Baik, lembut penyayang dan penyabar!" Ucap Bintang sambil mengerlingkan mata pada Bunda, dan tangannya memberi tanda hati.


"Aamiin," seru seluruh keluarga.


"Dengerin Kakakmu Ngit," ucap Oma.


"Maaf Oma, aku dan Kak Bintang beda jalan, aku kanan dia kiri!"


"Kamu yang kiri, Bintang yang kanan!" Timpal Grandma.


"Sudahlah iyain aja. Gak da yang bisa kalah melawan Grandma satu ini!" Celetuk Langit.


"Grandpa hanya bisa mendoakan cucu cucu Grandpa sehat selalu dan bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Kelak nanti sudah dewasa kalian harus bisa jadi kebanggaan orang tua dan bahagiakan orang tua kalian!" Ucap Grandpa.


"Aamiin," seru seluruh keluarga.


Dan kehangatan keluarga mereka berpindah diruang keluarga, bercanda dan saling berdebat disana. Kebahagiaan terpancar jelas dimata mereka semua, bagi mereka hidup bahagia adalah bisa berkumpul dan memiliki keluarga yang bisa kompak dan saling mendukung satu sama lain. Walau diwarnai perdebatan kecil yang tidak pernah mereka permasalahkan menjadi besar. Canda, tawa, bertengkar, berebut kemudian akur lagi adalah hal wajar bagi keluarga Sanjaya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2