
"aku fikir Lena cerita padamu!" ucap Nia menahan rasa geli saat tangan Ello astuk bergerilya di tubuh mulusnya.
"lupakan, mau kamu masih segel atau sudah di jamah Alan. Aku tak peduli, karena aku memang mencintaimu apa adanya sayang..." ucap Ello dan memangut bibir mungil dan seksi itu.
Ello melanjutkan aksinya, ini juga kali pertama bagi Ello. Tangannya kini tengah asyik bergerilya di dada Nia, dan masih mencium bibir Nia dengan penuh gairah, Nia membalas ciuman Ello.
Kini tubuh mereka polos tanpa sehelai benang pun. Ello mencium leher jenjang Nia dengan penuh gairah, dan dia membuat tanda kepemilikan di leher Nia.
Ciuman itu berjalan dan turun ke dada Nia, dan menghisap kedua anak kembar Nia dengan kuat. Hingga Nia tak sadar saat mengeluarkan suara desahan, yang membuat Ello senang mendengarnya. Setelah puas pemanasannya, Ello pun bersiap ingin melakukan lebih pada Nia. Karena juniornya sudah sangat ingin membobol gawang untuk mencetak gol.
"aku akan melakukan pelan pelan," bisik Ello dengan suara yang terengah engah. Dia mengusap lembut wajah Nia dan menciuminya.
"hem..." Nia mengangguk. Ello melakukannya penuh hati hati agar Nia tak merasakan sakit, pelan pelan tapi pasti dan....yeiiiiii....akhirnya juniornya pun berhasil membuka segel. Nia meringis kesakitan dengan mengigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara. Dia menahannya dan tak terasa dia mengeluarkan air matanya.
"kini kau milikku sayang," ucap Ello saat berhasil memiliki Nia sepenuhnya. Dia mencium seluruh wajah Nia dan kembali mencium bibir Nia dengan lembut.
"apa itu sakit?" tanya Ello di tengah tengah permainannya.
"hemm...tadi sakit sekali, sekarang masih sakit tapi sedikit." jawab Nia polos. Ello hanya tersenyum, dia masih asyik melakukan permainannya.
Ello kembali memangut bibir Nia, dan terus melakukannya hingga mereka sampai pada pelepasannya. Entah sudah berapa jam mereka melakukan hubungan intim yang pertama kalinya mereka lakukan itu.
"i love you honey......." ucap Ello saat akan mencapai klimaksnya. Mereka pun mengerang bersamaan, dan saling berpelukan. Nia membenamkan kepalanya pada dada bidang Ello, dia masih merasa malu dengan permainannya tadi.
"kenapa?" tanya Ello.
__ADS_1
"gak apa apa!" jawab Nia malu malu.
Ello kembali memangut bibir mungil Nia dengan penuh gairah. Ciuman yang semakin dalam dan dalam lagi, hingga Ello kembali melakukan penyatuan dengan Nia.
Mereka pun kembali mengulangi untuk melakukan aktifitas hubungan suami istri di atas ranjang hingga menjelang subuh. Mereka sampai terkulai lemas di atas ranjang dan saling berpelukan. Ello terus mencium wajah Nia tanpa henti hentinya, dia masih belum percaya menikahi dan memiliki Nia seutuhnya.
"kamu mau kemana?" tanya Ello saat Nia hendak beranjak dari tempat tidur.
"mandi dan sholat subuh!" jawab Nia. Dia bergerak pelan dan menggigit kecil bibir bawahnya karena masih merasakan nyeri di bagian intinya.
"biar ku bantu!" tawar Ello dan mengangkat tubuh istrinya menuju kamar mandi.
Selesai mandi dan keramas, Ello dan Nia menjalankan sholat subuh. Selesai sholat dan berdoa, Nia merasa lemas dan mengantuk. Karena semalaman mereka tak tidur karena sibuk memadu kasih berdua. Mereka berbaring dan kembali tidur dengan saling berpelukan.
πππ
"kenapa Ello tidak keluar keluar, apa mereka tidak lapar." ucap Bu Sanjaya.
"namanya juga pengantin baru, kaya tak pernah muda saja." sahut Oma.
"biarkan mereka istirahat dulu, toh kemarin mereka begitu lelah karena banyak tamu berdatangan." sahut Pak Ilham.
"betul itu," ucap Pak Sanjaya.
"kira kira mereka akan bulan madu kemana ya Pa?" tanya Bu Sanjaya.
__ADS_1
"Papa juga gak tahu, nanti saja jika mereka sudah bangun. Kita tanya langsung sama mereka," sarapan pun berlangsung dengan nikmat.
Di dalam kamar, Nia dan Ello sudah bersiap untuk keluar dan sarapan. Mereka berjalan menuju restaurant, Ello terus mengenggam tangan Nia dengan mesra. Mereka duduk dan bergabung dengan yang lain.
"kamu terlihat pucat, kamu sakit Nia?" tanya Bu Sanjaya kepo.
"Nia baik baik saja Tante, mungkin karena kelelahan." jawab Nia gugup.
"jangan panggil Tante, panggillah seperti Ello!" pinta Bu Sanjaya.
"iya Ma, Nia baik baik saja."
"kau itu bisa tidak gak usah banyak tanya, mereka ke sini mau makan. Malah di kasih banyak pertanyaan," ucap Oma dengan ketusnya.
Selesai menghabiskan sarapan mereka kembali ke kamar masing masing, dan bersiap untuk kembali ke rumah.
πΏπΏ
Di tempat lain, kini Alan tertidur di atas kursi panjang yang ada di depan rumah Pak Ratno. Dia semalaman tertidur di kursi tersebut, karena menunggu Pak Ilham membuka pintu namun tak juga pintu itu terbuka.
"maaf Bu, mau tanya boleh?" tanya Alan pada warga yang lewat.
"nggeh Mas, mau tanya opo toh..!" jawab tetangga Pak Ratno.
Alan pun bertanya tentang orang yang tinggal di rumah Pak Ratno. Ibu itu pun memberi tahu jika mereka sudah pindah rumah, dan Ibu itu menunjukkan rumah yang Pak Ilham beli.
__ADS_1
"sialllll....sudah semalaman nunggu hingga rela di gigit nyamuk. Ternyata mereka tidak di rumah ini..." gerutu Alan dengan melajukan mobilnya menuju rumah Pak Ilham.