Antara Aku Dan Maduku

Antara Aku Dan Maduku
Part 51. Memulai Kehidupan Baru


__ADS_3

Sesampainya di kediaman Bu Sri, Nia dan Pak Ilham sudah di sambut ramah oleh Melly yang kini berdiri di depan rumah. Melly langsung menyapa majikan Bapak dan Ibunya dengan santun.


"selamat datang Pak Ilham, Non Nia...," sapa Melly santun dengan membungkuk kan badannya.


"terima kasih, kamu pasti Melly..." ujar Pak Ilham. Nia dan Pak Ilham tersenyum manis pada gadis ayu dan santun itu.


"iya Pak, mari masuk..." Melly pun mempersilahkan masuk tamunya dan membawakan barang barang bawaan tamunya.


"biar aku bawa saja Mel," tolak Nia halus. Dia tidak ingin merepotkan Melly.


"gak apa apa Non, biar saya bawakan." ucap Melly.


"saya bisa sendiri kok Mel, dan jangan panggil saya Non. Panggil saja kakak atau mbk," ucap Nia dengan senyuman manisnya.


"baik Non..Mbak maksudnya," mereka pun tertawa dan berjalan masuk ke dalam rumah.


๐ŸŒž


Pak Ilham yang kini tengah istirahat di kamarnya, menatap pilu pada selembar foto yang ada di tangannya. Foto beliau bersama istrinya dan Alan, di foto itu tampak keluarga yang bahagia. Namun kebahagiaan itu sudah tidak nampak lagi, beliau merasa gagal mendidik Alan.


Beliau juga merasa bersalah pada mendiang istrinya, karena tidak bisa mendidik Alan dengan baik. Beliau terus terusan meminta maaf pada mendiang sang istri.


Pak Ilham tidaklah salah dalam mendidik Alan, beliau begitu telaten dalam mendidik anak laki lakinya. Alan sebenarnya anak yang baik, namun dia berubah hanya karena di butakan oleh cinta bersama Lala. Itu yang membuat Pak Ilham begitu kecewa, terlebih saat mengetahui pernikahan sah yang tanpa restu dari beliau. Itu membuat Pak Ilham semakin kecewa dengan Alan dan juga Lala.


Sore hari

__ADS_1


Kini Nia sedang keliling kampung bersama Melly, Nia begitu menikmati pemandangan yang indah. Sawah sawah dan tumbuhan yang hijau, dan penduduk yang begitu ramah.


"Mel, ternyata suasana di sini sungguh menenangkan jiwa." mereka duduk di atas bukit dan melihat pemandangan dari atas bukit.


"syukurlah kalau Mbak Nia suka dengan suasana ini..," ucap Melly senang.


"apa Pak Ratno tidak punya sawah?" tanya Nia.


"Bapak sebenarnya punya sawah Mbak, karena beliau masih merantau. Untuk sementara sawah tersebut di garap oleh tetangga. Mbak," ucap Melly.


"ohh...sekarang kamu semester berapa Mel?"


"aku semester 7 mbak," sahut Melly.


"wah...sebentar lagi lulus dong..." seru Nia.


Dia pun memberi kabar pada Lena, karena Lena dari tadi mengirim pesan. Namun Nia baru sempat membalasnya, Nia juga menceritakan semua alasan Pak Ilham mengajaknya berpindah tempat. Namun Nia tak memberi tahu di kota mana dia tinggal, karena Nia tahu betul jika Lena suka keceplosan. Nia takut saat Alan bertanya dengan Lena dan memaksa Lena untuk memberi tahukannya, dan saat itu pasti Lena bisa keceplosan.


Lena memahami, keadaan Nia saat ini. Dia mendukung keputusan Pak Ilham karena itu mungkin yang terbaik. Walau dirinya akan kesepian tanpa adanya Nia bersamanya.


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Beberapa hari kemudian di depan Perusahaan Ayu Group, terlihat seorang pria sedang gelisah di dalam mobilnya. Dia menatap pintu gerbang kantor dengan begitu jeli tanpa mengalihakan sedikit pun pandangannya.


"Lena..." teriaknya saat melihat Lena mengendarai motornya untuk pulang kerja.

__ADS_1


"Alan..," lirih Lena saat menoleh ke sumber suara.


"kenapa Nia tidak pernah keluar kontrakan? Bahkan membuka pintu kontrakannya pun tidak pernah Len? Apa benar kata Ibu Ibu kontrakan jika Nia pergi bersama seorang Pria " tanya Alan penasaran. Karena biasanya Nia pasti membuka pintu walau sebentar saja, dan saat dia bertemu salah satu tetangga Nia. Ibu itu menjawab jika Nia pergi bersama seorang Pria.


"ohhh itu...Nia....ada kerjaan di luar Negeri..," jawab Lena berbohong.


"di luar Negeri...?" ucap Alan terkejut.


"di Negara mana?" tanya Alan lagi. Lena pun menelan salivanya dengan begitu susah, dia bingung harus menjawab apa.


"aku kurang tahu Al," jawab Lena cepat. "tunggu...kamu ngapain nyari Nia, dia sudah bukan istrimu dan biarkan dia bahagia. Jangan sibuk ngikutin Nia terus, kasihan tu teletubise tercintamu..." imbuh Lena sinis.


"mana mungkin kamu tidak tahu, kamu kan temannya. Masalah mencari Nia, itu bukan urusanmu..." ucap Alan ketus.


"tentu itu urusanku, Nia sahabatku dan kamu bukan siapa siapanya Nia. Jika kamu berbuat macam macam dengannya, aku orang pertama yang akan menghajarmu...," kini Lena turun dari motornya dengan berkacak pinggang pada Alan.


"percuma bertanya padamu," ketus Alan. Lalu dia meninggalkan Lena dan melupakan pertanyaannya tentang Nia. Karena Lena pasti tidak akan memberitahu keberadaan Nia padanya, dia berpikir jika lebih baik dia mencari tahu sendiri tanpa bertanya pada Lena.


"kau takut denganku Tuan Alan...," teriak Lena dengan tersenyum sinis pada Alan.


"tidak ada waktu berdebat denganmu," teriak Alan dengan membuka pintu mobilnya.


"hallo Nia...., kamu di mana...," teriak Lena dengan berpura pura berbicara dengan Nia lewat ponselnya. Alan yang mendengar langsung menoleh ke arah Lena, Lena terkekeh karena berhasil mengerjai Alan.


"wekkkk...." Dan dengan gerakan cepat Lena mengendarai motornya dan mengabaikan panggilan Alan.

__ADS_1


"lupakan Nia, dia sudah punya penggantimu yang lebih baik darimu..." teriak Lena tanpa menoleh dan terus melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.


__ADS_2