Antara Aku Dan Maduku

Antara Aku Dan Maduku
Part 106. Menunggu seseorang


__ADS_3

Sudah empat bulan ini Lala merasa hidupnya selalu menderita. Dari kecil dia tak pernah merasakan kasih sayang dari orang tuanya, jangankan kasih sayang. Wajah kedua orang tuanya pun dia tak pernah melihatnya. Dan kini dia kembali ke tempat di mana dia di besarkan dari usianya masih satu tahun. Empat bulan lalu dia di pecat oleh Bu Dina, tanpa dia tahu alasannya yang jelas. Dan Johan telah mempermalukannya di depan karyawan Bu Dina.


Dan saat itulah dia merasa malu dan tak berani lagi keluar kos, karena banyak yang mencibirnya. Hingga dia memutuskan untuk pergi dari perantauannya dan kembali ke Ibu Kota. Yang dia ingat wajah sedih Bu Dina waktu dia pamit dan keluar toko, wajah Bu Dina terpancar jika beliau terpaksa memecatnya. Entah mengapa jika dia berhadapan dengan Bu Dina serasa ada kenyamanan yang tak pernah dia rasakan.


"Apa selamanya aku akan di benci banyak orang, aku sudah melakukan satu kesalahan yang sangat fatal. Dan kesalahan itu akan membuatku di hujat terus terusan, dan orang akan menganggapku sebagai wanita k**or." Lala kini tengah duduk di teras, dengan menatap nanar pada pintu gerbang Panti.


"Kamu kenapa La? Ibu lihat kamu dari tadi melamun." Ucap Bu Surti yang mengagetkan Lala.


"Lala tidak apa apa Bu," jawab Lala tersenyum.


"Ceritalah pada Ibu, Ibu tahu kamu sedang memikirkan sesuatu. Apa kamu memikirkan mantan suamimu?"


"Tidak Bu, aku tidak memikirkan dia." Jawabnya.


"Terus apa yang kau pikirkan, kamu menunggu siapa? Ibu lihat setiap hari kamu selalu pandangi pintu gerbang itu,"


"Dari kecil aku selalu melihat pintu gerbang itu, karena aku berharap ada seorang pria dan wanita masuk kedalam panti untuk menemuiku dan mengajakku pulang. Tapi hingga aku besar dan menjadi janda, tidak pernah ada sepasang suami istri datang ke Panti mencariku." Jawab Lala dengan menitihkan air matanya.

__ADS_1


"Kamu yang sabar Nak, walau mereka tak pernah mencarimu. Di sini ada Ibu dan adik adik yang menyayangimu," ucap Bu Surti. Beliau adalah pemilik Panti Asuhan Kasih, tempat di mana Lala di besarkan.


"Aku tahu Ibu sangat menyayangi aku dan adik adik panti semua. Hingga Ibu tak pernah rela jika aku diadopsi orang lain, tapi apa Ibu benar benar tidak tahu siapa nama orang tuaku dan alamatnya?" Tanya Lala penuh harap.


"Ibu benar benar tidak tahu nama Ibu kamu nak, dia hanya menyerahkan kamu begitu saja. Lalu dia berlari dan pergi tanpa menghiraukan panggilan Ibu. Dia hanya meninggalkan selembar kertas di dalam tas yang berisi perlengkapanmu saja, yang bertuliskan namamu, tanggal lahirmu dan inisial nama entah itu nama Ibumu atau siapa Ibu tidak tahu. Tidak ada petunjuk lain yang bisa Ibu temukan, entah apa alasannya dia menyerahkanmu ke sini di saat hujan lebat. Dan Ibu tak mungkin berlari mengejarnya dengan menggedongmu."


Panti Asuhan Kasih ini lah tempat di mana seseorang menyerahkan bayi cantik berusia satu tahun pada beliau. Dan bayi itu kini sudah tumbuh besar menjadi wanita yang baik, cantik dan selalu bekerja keras untuk membantu biaya sekolah adik adik pantinya walau tak seberapa. Wanita itu adalah Adella Natasya, yang selalu di panggil Bu Surti Lala.


"Terima kasih Ibu selalu menyayangi aku dan adik adik panti di sini. Merawat kami dengan penuh kasih, mendidik kami dengan sabar. Maafkan aku yang sudah membuat Ibu kecewa, maafkan aku jika aku berbohong dengan Ibu. Maafkan aku yang baru jujur sekarang." Ucap Lala dengan menangis pilu.


"Sekali lagi maafkan aku Bu, aku janji tak akan mengulangi kesalahan yang sama." Ucap Lala yang menangis dan dia berlutut dan mencium punggung tangan Bu Surti. "Maafkan aku yang sudah membuat Ibu malu, padahal selama ini Ibu sudah mengajarkanku kebaikan. Namun aku justru membuat kesalahan tanpa mengingat ajaran Ibu, aku sangat berterima kasih pada Ibu yang sudah mau menerimaku kembali. Walau aku ini wanita kotor," Lala tak sanggup menahan air matanya. Dia menangis sejadi jadinya di pangkuan Bu Surti.


"Jangan pernah mengatakan dirimu kotor, Ibu sudah memaafkanmu. Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Dan pastinya tak selamanya akan terus terusan melakukan kesalahan. Kau harus bangkit, hidup harus tetap berjalan. Jangan terus terusan terpuruk," nasehat Bu Surti. Lala mengangguk, sudah empat bulan inilah dia selalu berdiam diri di panti. Dan enggan untuk keluar panti, dia takut kejadian di Dinna bakery terulang kembali.


"Besok aku akan mencari pekerjaan lagi Bu, dan mungkin aku juga akan melamar kembali di perusahaan Hans.Group Bu. Siapa tahu bisa di terima lagi, walaupun hanya sebagai karyawan biasa." Ucap Lala tersenyum dan mengusap lembut air matanya. Dia berdiri dan Bu Surti pun ikut berdiri dan mereka pun berpelukan.


"Nah gitu, harus tetap semangat untuk melanjutkan mimpimu. Ibu doakan agar kamu bisa segera dapat kerjaan." Ucap Bu Surti penuh semangat.

__ADS_1


"Makasih ya Bu,"


**


Pukul 13.00.WIB, Ayah dan Alan telah sampai di Panti Asuhan Kasih. Mereka menuruni mobil dan berjalan menuju rumah panti, Ayah pun mengucap salam dengan lembut.


"Assalamu'alaikum..," Ucap Ayah di depan pintu.


"Wa'alaikumsallam.." Sahut Bu Surti santun, beliau menatap Ayah kemudian menatap laki laki yang berdiri di belakang Ayah.


"Assalamu'alaikum Bu.." Alan pun meraih tangan Bu Surti dan mencium punggung tangannya. Bu Surti pun menjawab dengan lembut, dan mengusap kepala Alan.


"Apa dia Ayahmu?" Tanya Bu Surti.


"Iya Bu, kenalkan saya Ilham Ayahnya Alan." Mereka pun berjabat tangan dan saling tersenyum.


Alan menceritakan maksud kedatangannya, dia dan Ayah meminta maaf pada Bu Surti. Bu Surti pun memaafkannya, dan Alan terkejut setelah tahu jika Bu Surti sudah mengetahui semuanya. Kini Ayah dan Alan duduk di teras, sedang Bu Surti kembali ke dalam memanggil Lala di kamarnya. Tak berselang lama Lala pun keluar menemui tamu yang di maksud Ibu. Lala tidak tahu siapa tamu yang mencarinya, karena Ibu hanya memintanya menemui mereka di depan.

__ADS_1


__ADS_2