
๐ฟ๐ฟ
Drt drt drt, ponsel Bu Dina bergetar. Panggilan dari Johan.
"Hallo Ma, Mama di mana?" Tanya Jo khawatir.
"Mama..Mama..sedang jalan jalan, sudah lama sekali Mama tidak menikmati suasana Ibu Kota Jo!"
"Jalan jalan di mana, biar aku susul. Kerjaanku sudah selesai Ma," ucap Jo sambil menyetir mobilnya.
"Mama..Mama..nanti pulang sendiri saja Jo! Nanti biar Mama pulang sendiri." Ucap Bu Dina gugup lalu mematikan ponselnya. "Kalau Jo tahu bagaimana?" Gumam Bu Dina dengan menatap ponselnya.
"Kenapa Mama seperti gugup ya, aku merasa Mama sedang menyembunyikan sesuatu dariku." Gumam Jo, dia memutuskan menyusul Mamanya dengan melacak di mana tempat Bu Dina dengan GPS yang sengaja Jo sambungkan dengan ponselnya tanpa sepengetahuan Mamanya.
"Panti Asuhan Kasih..kenapa Mama berada di situ?" Gumam Jo saat tahu di mana lokasi Mamanya berada. "Apa jangan jangan Mama..." Jo pun melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya di depan panti, Jo turun dari mobilnya dan berdiri di luar gerbang. Dia melihat Mamanya yang duduk di teras Panti dan sedang berbincang dengan seseorang.
"Apa jangan jangan anak itu di titipkan di sini, dan Mama sengaja ikut aku ke Ibu Kota untuk menemui anak itu!" Ucap Jo dengan mengepalkan tangannya.
Satu jam berlalu, Jo sudah lelah berdiri di depan gerbang. Dia tak melihat orang lain selain Mamanya dan Ibu Surti yang sedari tadi berbincang. Jo memutuskan kembali ke dalam mobilnya, dan akan menayakan ini pada Mamanya nanti.
Namun saat dia sudah masuk ke dalam mobil, dia melihat seorang wanita yang membuka pintu gerbang. Seseorang yang ia kenali dan sangat dia benci.
"Wanita mu****n itu, kenapa dia di sini." Merasa penasaran Jo pun turun kembali dan memutuskan untuk mengintainya.
"Assalamu'alaikum.." Ucap Lala.
"Wa'alaikumsallam," sahut Bu Dina dan Bu Surti bersamaan. Bu Dina pun terkejut melihat Lala yang pernah menjadi karyawannya berada di panti itu.
__ADS_1
"Lala.." ucap Bu Dina terkejut.
"Bu Dina.." ucap Lala yang tak kalah terkejutnya.
"Kalian sudah saling kenal?" Tanya Bu Surti bingung.
Mereka pun menceritakan kenapa mereka saling mengenal, Bu Surti pun terkejut.
"Lala ini adalah Adella Natasya yang Ibu cari!" Jelas Bu Surti, Bu Dina semakin terkejut.
"Adella Natasya..itu kan nama anak yang Mama ceritakan dulu. Apa jangan jangan Lala itu..? Tidak..tidak mungkin Lala itu Adella anak Papa dan Bulik. Tidak..tidak..!" Johan sangat gemetar mendengar itu, dia pun terjongkok di samping gerbang.
"Adella..dia Adella?" Ucap Bu Dina dengan menitihkan airmatanya.
"Ada apa ini Bu?" Tanya Lala yang bingung melihat Bu Dina menangis saat tahu namanya Adella. "Apa saya punya salah saat bekerja di toko Ibu, sampai Ibu mencari saya ke sini?" Tanya Lala yang mengira jika Bu Dina mencarinya karena ada kesalahan di tokonya.
"Adel..kamu tidak ada salah apa pun dalam pekerjaanmu, di sini saya lah yang salah." Ucap Bu Dina dengan suara yang gemetar, beliau memeluk Lala.
"Ibu salah apa dengan saya? Karena setahu saya Ibu tidak ada salah." Sahut Lala yang merasa semakin bingung, sementara Jo masih mendengarkan dengan jelas perkataan Mamanya.
"La..dia adalah Budemu kakak dari mendiang Ibumu, beliau yang menitipkanmu sewaktu kamu masih kecil. Orang yang selalu kamu nanti nanti kedatangannya." Jelas Bu Surti dengan tegas.
Lala terdiam dan mencoba mencerna semua perkataan Bu Surti. Sedang Jo semakin panas, wajahnya memerah dan tangannya mengepal.
"Apa yang aku dengar itu benar benar nyata? Wanita mu****n itu adikku sekaligus sepupuku, tidak mungkin..ini tidak mungkin." Ucap Jo yang langsung berdiri dari jongkoknya dan langsung membuka gerbang itu dengan murka. Tatapan tajamnya dia tujukan pada kedua wanita yang kini tengah berpelukan.
"Mama.." Teriak Johan di ambang pintu gerbang, semua pun menoleh ke arah sumber suara.
"Johan.." Teriak Bu Dina, Johan masih berdiri di tempat dengan wajah yang terlihat marah.
__ADS_1
"Apa aku tak salah mendengarnya Ma, perempuan mu****n itu adalah Adella yang Mama titipkan ke Panti asuhan? Anak h**** dari Papa dan adik Mama sendiri? jika benar. Dia tak jauh berbeda dari orang tuanya yang sama sama suka merusak rumah tangga orang lain!" Teriak Johan penuh penekanan dengan menunjuk tajam pada Lala.
Lala terdiam dengan wajah yang basah di penuhi air mata. Dia terkejut dengan penuturan Johan yang sangat menohok hatinya. Dia tak menyangka dengan apa yang telah Johan katakan tentang dirinya.
"Johan..kamu salah mengira tentang Lala, dia tidak seperti yang kamu tuduhkan." Ucap Bu Dina yang berlari mendekati Johan.
"Aku gak mau anak h**** itu ikut bersama kita, kita pulang ke Surabaya sekarang juga. Biarkan dia tetap di sini, dia bukan siapa siapa kita." Ajak Johan yang langsung menarik paksa Mamanya pergi dari Panti.
Bu Dina menurut dan mengikuti Johan, ini bukan saatnya untuk mengajak Lala ikut bersamanya. Karena emosi Johan yang begitu terkejut saat tahu Lala adakah Adella. Johan melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, wajah yang merah padam, tatapan yang sangat mengerikan.
"Pelan pelan Jo.." Teriak Bu Dina.
"Aku gak suka Mama mencari cari anak itu, terlebih anak itu wanita yang begitu aku benci karena kelakuannya yang gak bener."
"Johan jaga kata katamu, bertahun tahun Mama mencoba untuk berdamai dan menerima kenyataan pahit. Dan saat Mama sudah melupakannya, kenapa justru kamu tidak mau berdamai Jo," ucap Bu Dina menahan emosinya.
"Ma..mungkin itu sudahlah berlalu, tapi aku tetap tidak bisa melupakannya. Aku melihat jelas bagaimana Papa memperlakukan Mama dengan kasar, walau Johan masih terlalu kecil. Tapi ingatanku tak sekecil itu Ma,"
"Kita bicarakan di rumah," imbuh Johan yang masih fokus pada kemudinya. Ia melajukan mobil menuju Bandara.
**
Di panti, setelah Bu Surti bercerita tentang masa lalu orang tua Lala dan Bu Dina pada Lala. Lala semakin meratapi kesedihannya.
"Kenapa hidupku seperti ini Bu, aku bukan anak dari orang tua yang baik baik Bu. Aku anak dari orang yang sudah membuat satu keluarga terpecah belah, dan kini keluarga itu di tumbuhi kebencian untukku. Aku ini anak---" ucap Lala yang tak sanggup melanjutkan kata kata untuk dirinya sendiri.
"Kamu jangan pernah bicara seperti itu La. Bu Dina tidak membencimu La, beliau menitipkanmu di sini karena butuh waktu untuk menerima kenyataan pedih di hidupnya. Beliau tidak bermaksud membuang atau menyingkirkanmu. Percayalah, cepat atau lambat mereka semua akan menerimamu." Bu Surti mengelus lembut rambut Lala.
"Aku menangis bukan karena mereka membenciku Bu, aku menangis karena meratapi hidupku yang begitu terlihat menjijikan di mata orang. Aku sungguh sungguh tidak menyangka jika hidupku sepahit ini. Dan aku memanglah pantas untuk mereka jauhi Bu, bahkan mereka benci sekalipun. Jika boleh memilih, aku memilih untuk tak terlahir di dunia ini. Kini aku sudah tahu semua tentang asal usul diriku. Setelah semua sudah aku ketahui, aku memilih tetap tinggal dan tak ingin menjadi duri di keluarga Bu Dina. Harapan ingin bersama Ibu dan Bapak, hanya akan jadi harapan. Mereka sudah tenang di alam keabadian, walau mereka salah. Mereka tetaplah orang tuaku, dan aku akan selalu mendoakannya." Gumam Lala dalam hati.
__ADS_1