
"aku sangat menyayangi beliau El, karena satu satunya orang yang sangat peduli denganku hanya beliau. Aku tak bisa membayangkan jika hidupku tanpa Ayah Ilham," ucap Nia pilu.
Dia berdiri dan menatap sendu pada punggung Pak Ilham yang tengah duduk membelakanginya.
"tapi dia Ayahnya Alan, laki laki keparat itu!" geram Ello dengan membayangkan wajah mengesalkan Alan itu.
"aku tahu itu, tapi Ayah lain dari Mas Alan. Beliau begitu menyayangiku, hingga beliau maninggalkan Mas Alan demi menjagaku dari gangguan Mas Alan El. Rasanya aku terlalu jahat jika aku membenci orang yang begitu tulus menyayangiku seperti putri kandungnya sendiri." kini Nia meneteskan air matanya.
"aku mengerti perasaanmu, lupakan masa lalu yang begitu pahit. Aku yakin kamu akan mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari pria kadal itu..." ketus Ello.
Nia menyeka air matanya dan tersenyum lebar pada Ello, lalu melangkah menghampiri Pak Ilham dan Oma.
"terima kasih El," ucap Nia. Ello menjawab dengan anggukan dan senyum bahagia.
"Ayah...," lirih Nia dan duduk di samping Pak Ilham.
"kalian menyusul ke sini, kenapa kalian tidak mengobrol berdua dulu. Mengganggu urusan orang tua saja" goda Pak Ilham pada Nia.
"Ayah..." ucap Nia dengan memanyunkan bibir mungilnya.
"Ayah bercanda," kini beliau merangkul Nia dengan manja.
Ello dan Oma terharu melihat Pak Ilham yang begitu menyayangi Nia, walau Oma tahu jika Pak Ilham hanyalah mantan mertua Nia. Namun kasih sayangnya melebihi dari seorang mertua kepada menantunya, bisa di bilang seperti Ayah kandungnya sendiri.
Ello bersyukur, sahabatnya yang begitu dia sayangai. Mempunyai orang tua sebaik Pak Ilham, begitu menjaga Nia dari sesuatu yang membahayakan Nia.
__ADS_1
"kita kembali ke kedai yuk Yah, kita Sholat Ashar berjamaah!" ajak Nia.
Mereka berempat melangkah menuju kedai, dan menjalankan Sholat Ashar. Dan selesainya Sholat Ashar, Ello dan Oma pamit pulang.
"Oma akan sering sering mampir ke kedai ini!" ucap Oma sebelum pulang.
"Nia akan selalu menunggu kedatangan Oma," ucap Nia dengan wajah riang.
"Oma pamit ya," kini Oma memeluk erat tubuh Nia, dan Nia pun membalas pelukan Oma.
Ello dan Oma pun meninggalkan Kedai Kopi Una Putri. Nia dan Pak Ilham kembali ke dalam dan kembali melayani pelanggannya.
"Assalamu'alaikum..." sapa Melly yang baru pulang kuliah.
"Melly, bantuin ya Mbak!" ucap Melly sambil meraih gelas untuk membuatkan kopi.
"kamu istirahat dulu Mel, biar Mbak yang melayani!" tolak Nia halus. Melly pun menurut dan dia duduk untuk istirahat sebentar sebelum membantu Nia.
๐ฟ๐ฟ
Di dalam mobil, Oma terus menanyakan soal Nia pada Ello. Oma begitu ingin tahu semua tentang Nia, entah mengapa Oma begitu menyukai Nia. Semenjak pertama kali bertemu Nia di taman itu, bahkan Oma kagum saat Nia mengakui jika dirinya seorang janda.
"Mars...apa kamu menyukai Nia?" tanya Oma penasaran. Karena Ello begitu mengetahui sifat Nia, dan Ello sempat mengakui jika dia ingin selalu melindungi Nia.
"e...enggak..Oma...," jawab Ello gugup.
__ADS_1
"Mars dan Nia hanya sahabat Oma," lanjut Ello.
"benar begitu...?" tanya Oma kembali memastikan.
"hm..." jawab Ello dan masih fokus mengemudikan mobilnya.
"Oma setuju jika kamu dan Nia berhubungan lebih dari sahabat..." ucap Oma yang membuat Ello salah tingkah.
"Oma....," ucap Ello tersipu malu.
Oma tertawa keras melihat tingkah Ello, terbukti jika Ello memang memendam rasa untuk Nia.
"Ello memang sudah lama menyukai Nia Oma, tapi Ello tidak bisa memaksa Nia untuk membalas cinta Ello. Karena Ello ingin melihat Nia bahagia bersama pria yang dia cintai kelak," gumam Ello dalam hati. Dia tersenyum getir meratapi nasib percintaannya.
๐ฟ๐ฟ
Di Jakarta, saat malam hari di kediaman Alan dan Lala. Mereka tengah makan malam bersama di meja makan, Alan terlihat melamun dengan mengaduk aduk makanannya.
"Mas, cukup sudah kesabaranku Mas. Bisa tidak kamu menghargai masakanku, aku susah payah memasak tapi kamu tidak pernah mau memakannya!" bentak Lala dengan penuh emosi.
"bisa tidak kamu tak usah marah marah terus La, lama lama aku muak tiap hari mendengar kamu marah marah!" kini Alan membalas bentakan Lala dan meninggalkan Lala di ruang makan.
Lala menangis pilu, Alan yang semakin hari semakin berubah sikapnya pada dirinya. Dia ingin Alan bersikap hangat seperti dulu, menginginkan kasih sayang yang selalu Alan berikan dulu.
Semenjak Alan bercerai dan mulai mencintai Nia, Lala semakin tersisih. Cinta dan kasih sayang Alan kini berkurang untuknya, hari hari Alan di sibukan dengan mencari keberadaan Nia. Membuat Lala semakin iri dengan keberuntungan Nia yang selalu di cintai banyak orang.
__ADS_1