
Kini Alan tengah duduk di depan rumah Pak Ilham dengan perasaan yang membakar hatinya. Karena pintu tak juga di buka oleh pemilik rumah, Alan mengepalkan kedua tangannya dan merasa geram.
"sebenci itukah Ayah padaku, sampai sampai pergi dari bandung dan membeli rumah di sini!" gumam Alan dengan mata yang terus menatap rumah berlantai satu, tidak terlalu besar, sederhana tapi terlihat nyaman.
"Ayah dan Nia sengaja menghindar, pasti Pak Ratno sudah memberi tahu Ayah jika aku akan ke sini." Alan terduduk di kursi dengan perasaan kesalnya.
"maaf Mas, cari siapa ya?" tanya asisten rumah tangga saat dia baru datang. Biasanya dia pagi pagi sudah datang, namun Pak Ilham memintanya agar datang siang saja karena Pak Ilham dan Nia sedang tidak di rumah.
"ini Teh...eh...Mbak, saya mencari Pak Ilham sama Nia. Mereka pergi atau di dalam ya Mbak?"
"ohh...Pak Ilham sama Mbak Nia memang sejak kemarin pergi dan belum pulang Mas."
"pergi...pergi kemana ya Mbak?"
"mereka ada acara Mas, mungkin nanti siang kembalinya!"
"acara..." gumam Alan.
"acara apa ya Mbak, kok acara dari kemarin belum pulang?"
"aduhhhh...ni orang banyak tanya..." gumam si Mbak dalam hati.
"Mas siapanya Pak Ilham dan Mbak Nia ya?" tanya Mbak curiga karena dari tadi Alan bertanya terus terusan.
"saya Anaknya Pak Ilham, dan Nia itu is..." perkataan Alan terpotong saat ada bunyi klakson mobil. Seketika Alan menoleh ke arah mobil yang masuk ke halaman rumah Pak Ilham.
"Mas Alan," ucap Nia saat melihat sosok Alan di depan rumah.
"maaf Ayah semalam ingin kasih tahu, tapi Ayah tak ingin mengganggu kalian karena kalian sudah terlihat sangat lelah." ucap Pak Ilham.
__ADS_1
"jadi Ayah tahu jika Mas Alan ke sini?"
Pak Ilham pun menjelaskan semuanya pada Nia dan Ello kenapa Alan bisa ada di sini, dan kini tahu rumah baru Pak Ilham. Setidaknya Nia bersyukur karena Alan tak mengacaukan pernikahannya dengan Ello.
"kamu turunlah bersama Ayah, jika dia macam macam. Aku akan keluar!" ucap Ello dengan mengelus kedua punggung tangan Nia dengan lembut lalu mencium keningnya.
"hm..." jawab Nia ragu, Dia takut Alan berbuat macam macam.
Pak Ilham dan Nia pun turun dan berjalan menuju pintu rumah dan di susul Melly di belakangnya. Nia menggandeng erat lengan Pak Ilham, dan tak berani menatap wajah menyeramkan Alan.
"Assalamu'alaikum," ucap mereka bertiga bersamaan. Namun Alan hanya terdiam tak menjawabnya, entah kenapa Alan susah sekali menjawab salam.
"Wa'alaikumsallam." jawab Mbak.
"Ayah..." Alan meraih tangan Pak Ilham dan mencium punggung tangan beliau.
"silahkan duduk!" Pak Ilham mempersilahkan Alan duduk di kursi depan rumah.
"kamu dan Nia bukan Mahramnya lagi, jadi untuk menghindari fitnah kita bicara di sini saja!"
"Mbak, tolong buatkan minum ya!" pinta Pak Ilham. Mbak dan Melly pun masuk kedalam dan meninggalkan mereka.
Sementara Ello masih di dalam mobil dan menilik di dalam mobil, dia mengambil foto dan mengirimkan pada seseorang.
"kirimkan padanya!" pinta Ello melalui pesan. Ada seringai di wajah Ello setelah foto itu terkirim pada seseorang.
"kamu tidak akan bisa menyakiti lagi wanita yang ku cintai Al!" gumam Ello.
**
__ADS_1
"kenapa kamu ke sini?" tanya Pak Ilham datar.
"aku mencari Ayah, kenapa Ayah tega pergi dan tak memberiku kabar sama sekali. Bahkan nomor ponsel pun Ayah ganti dan aku tak mengetahuinya!"
"untuk apa kamu mencari Ayah?" beliau tidak menjawab alasan berganti nomor ponsel.
"aku anak Ayah, tentu saja aku mencari Ayah. Kenapa Ayah lebih memilih bersama Nia ketimbang bersamaku dan Lala?"
"jika kamu anakku, mana mungkin kamu menyakiti hati Ayahnya dengan menikahi wanita lain tanpa sepengetahuan Ayahmu. Tentu saja Ayah lebih memilih tinggal bersama Nia, dia bisa menjaga Ayah dengan baik. Tidak sepertimu!"
"Ayah tahu, aku mencari kalian sampai ke seluruh kota tapi tak juga menemukan kalian. Sampai lupa makan lupa waktu istirahat!" adunya mencoba mencari simpati dari Nia dan Pak Ilham.
"siapa yang menyuruhmu mencari kami?" ketus Pak Ilham.
"aku mencari kalian karena aku khawatir pada kalian, dan kau Nia kenapa kamu mengajak Ayah menjauhiku?" Alan berpura pura kesal pada Nia di depan Ayahnya.
"apa perlu aku mengatakan semua perbuatanmu di depan Ayah Mas?"
"kamu tak perlu berpura pura Al, Ayah sudah tahu semuanya."
"Ayah, maafkan Alan Yah. Alan ingin kembali pada Nia, Alan janji Alan akan meninggalkan Lala dan akan setia pada Nia. Maafkan Alan jika Alan banyak salah, bukankah Ayah sangat menginginkan Alan bersama Nia. Alan sudah mencintainya Yah, Alan akan menikahi Nia kembali agar Ayah bisa bahagia!" ucapnya sambil bersujud di kaki Ayahnya.
"itu dulu Al, sekarang tidak. Dan selamanya kamu tidak akan bisa kembali kepada Nia. Ingat jangan pernah melakukan kesalahan untuk kedua kali dengan menyakiti seorang wanita!" Pk Ilham mencoba memberi peringatan pada Alan agar tak menyakiti Lala juga.
Alan tak mendengarkannya, dia menatap Nia dengan seringai di wajahnya. Dia bangkit dan menarik tangan Nia menuju mobilnya. Ello yang melihat tak tinggal diam dan langsung keluar dari dalam mobil.
"lepaskan tangannya!" teriak Ello. Alan menoleh pada sumber suara yang tak asing di telinganya.
"kau...." ucap Alan terkejut, dia masih mencengkram kuat tangan Nia. Nia meringis kesakitan dan mencoba melepaskan tangan Alan darinya.
__ADS_1
"aw...aw...." pekik Alan saat kakinya di injak kuat oleh Nia. Nia pun berlari menuju Ello dan bersembunyi di balik tubuh Ello.