
"E..buset, tuh dua tuyul benar benar absurd. Gak ada bedanya sama Oma, Mama dan Kak Ello." Lirih Zac yang masih melihat keponakannya berjalan menjauh darinya.
"Aku mendengarnya Zac, jangan mengumpat anak anakku!" Ucap Ello.
"Sudah sudah, sebentar lagi masakannya siap. Kita ke meja makan saja, jangan bertengkar terus!" Ucap Nia.
"Gak Kak, tadi aku sudah di suapi Bulan tiga piring Nasi sama lauk Kak. Lihatlah perutku yang sudah buncit, dan aku benar benar lemas Kak!" Adu Zac dengan memperlihatkan perutnya.
"Bukannya tadi kamu minta di buatkan makanan yang enak? Ya sudah aku bungkusin buat makan di rumah sama Lena!" Ucap Nia, dia pun kembali ke dapur.
"Terima kasih Kak!" Ucap Zac senang.
"Enak ya Zac.."
"Enak dong..ehem..ehem.." Ucap Zac berdehem sambil melirik tangan Ello yang memegang kunci mobil.
"Aku tahu Zac, ini kunci mobilnya!" Ucap Ello sembari melempar kunci itu pada Zac.
"Wah..terima kasih Kakakku yang tampan!" Ucap Zac senang.
"Surat suratnya mana Kak?" Ucap Zac kembali.
"Nanti, setelah makan siangku selesai!" Ucap Ello.
Dan benar saja selesai makan siang, Ello pun memberikan surat suratnya pada Zac. Dia pun tersenyum riang dan berkali kali mengucapkan terima kasih pada Ello. Ello pun mengantarkan Zac keluar rumah, sedang Nia kembali ke kamar bersama anak anaknya. Namun senyum Zac yang merekah berubah menjadi senyum yang getir. Bagaimana tidak, melihat mobil Ello yang begitu menyedihkan.
"Pajak telat satu bulan plus denda plus ganti plat mobil, ganti ban mobil empat empatnya. Itu ban mobil atau pipi bayi Kak, sampai mulus seperti itu? Ada ya orang kaya sepertimu Kak!" Ucap Zac dengan mengusap usap ban mobil Ello. Dan Ello langsung memukul kepala Zac yang sudah berani mengatainya.
__ADS_1
"Ganti filter oli dan oli mobil, kamvas rem, filter udara, aki, busi. Oh tidak..tak sesuai ekspektasiku, bukannya untung malah buntung." Ucap Zac frustasi dan berjongkok di samping mobil Ello yang kini menjadi miliknya.
"Mau tidak? Kalau gak mau, aku tarik kembali!" Ucap Ello yang berdiri dan bersedekap di belakang Zac.
"Kamu ngerjain aku kan Kak," ucap Zac lemas.
"Siapa yang ngerjain kamu, niatku menggantikan mobilmu yang di rusak Mamaku! Kalau gak mau ya sudah, kembalikan kunci mobilnya!" Gertak Ello.
"Barang yang sudah di kasihkan pada orang tidak boleh di minta lagi." Ucap Zac yang tidak mau kehilangan mobil yang Ello berikan.
"Sebaiknya kau cepat pulang, servis mobilnya dan urus pajak dan dendanya. Itu gak seberapa sama mobilmu yang di tabrak Mama, apa lagi sepedamu yang gak ada remnya!"
"Maksud Kakak apa?"
"Aku tahu sepedamu itu gak ada remnya, makanya Mama sampai menabrak mobilmu. Dan satu lagi, mobilmu itu sudah penyok sebelum di tabrak Mama kan!" Ucap Ello yang membuat Zac susah menjawab perkataan Ello.
@@
"Kak Nia, suamimu sungguh kejam. Bagaimana bisa pajak dan servis, uangku sudah habis buat biaya bersalin Lena Kak!" Adu Zac lewat pesan.
"Iya aku tahu, dan itu uang buat pajak sama servisnya. Jangan bilang sama Kakakmu, bisa bisa kamu yang kena masalah!" Isi pesan dari Nia untuk Zac, yang sudah mentransfer uang pada Zac.
"Terima kasih Kak, aku gak akan bilang ke Kak Ello." Balas Zac dengan senyum yang kembali merekah.
"Ini untuk Langit, bukan untukmu!"
@@
__ADS_1
"Kenapa kamu senyum senyum!" Ucap Ello saat melihat Zac senyum senyum pada ponselnya.
"Gak apa apa Kak, Lena sudah menyuruhku pulang. Katanya dia sudah kangen pada suaminya yang cute," jawab Zac dengan menaik turunkan alisnya.
"Huek..."
"Bye..bye..Kak, thanks ya mobilnya!" Ucap Zac dengan bersemangat memasuki mobilnya.
"Jangan lupa pajaknya!"
"Iya..tenang saja,"
"Servisnya!"
"Iya..iya!" Sahut Zac dari dalam mobil, dan ia pun melajukan mobilnya dengan senyum penuh kemenangan.
"Kak Nia bagaikan malaikat, menolong adik sepupunya yang malang ini. Masa ngerjain orang malah balik di kerjain, kan gak lucu!" Teriak Zac dengan tertawa keras.
"Dapat mobil, dapat uang servis, sama dapat makanan gratis. Hari yang indah,"
๐ฟ๐ฟ
Sementara itu Nia yang tengah bermain dengan kedua anaknya di dalam kamar. Tersenyum melihat Ello dan Zac dari balkon kamarnya.
"Kalian berdua seperti anak kecil saja, suka ngerjain satu sama lain. Padahal sebenarnya kalian itu saling menyayangi!" Ucap Nia dengan bergeleng geleng, dan kembali masuk ke kamarnya.
"Bunda harap kelak anak anak Bunda terus saling menyayangi, rukun terus dan melengkapi satu sama lain." Ucap Nia saat melihat Bulan dan Bintang bermain.
__ADS_1
Setiap orang tua pasti berharap anak anaknya bisa menjadi saudara yang rukun dan saling melengkapi. Begitu juga dengan Nia, dia juga berharap anak anaknya tidak merasakan kepedihan yang pernah ia rasakan. Dia juga berharap dirinya dan juga suaminya di beri umur panjang. Agar bisa merawat dan membesarkan anak anaknya hingga anak anaknya dewasa menikah dan memiliki anak.