Antara Aku Dan Maduku

Antara Aku Dan Maduku
Part 84. Kejutan


__ADS_3

Hari demi hari pun berganti, dan weekend ini Ello mengajak Nia dan yang lain berlibur ke sebuah hotel yang baru akan di buka sekaligus memberi kejutan untuk istri tercinta dan keluarga besarnya. Kejutan jika hotel yang baru di buka adalah miliknya. Dia ingin istri dan keluarganya menghadiri peresmian hotel baru miliknya. Dia juga ingin keluarganya ikut serta dalam meresmikan pembukaan hotelnya. Acara pun berjalan dengan lancar, selesai acara mereka bersantai di ruang khusus untuk berkumpulnya keluarga pemilik hotel.


"Papa bangga denganmu El, kamu anak yang mandiri. Tidak mau melibatkan nama besar perusahaan Papa dalam semua bisnismu!" ucap Papa sambil memeluk erat anak semata wayangnya.


"terima kasih Pa, terima kasih juga untuk Mama. Maafkan Ello Pa, Ma, bukannya tidak mau melibatkan nama besar Papa, atau menentang ke inginan Papa agar Ello meneruskan usaha Papa. Tapi Ello hanya ingin memulai semua itu dari nol, agar Ello tahu bagaimana susahnya mencari uang dan sulitnya memulai bisnis. Karena Ello tahu betul, jika dulu Papa tidaklah mudah untuk membangun perusahaan Papa itu untuk menghidupi Ello, Mama, Oma dan mendiang Opa. itu sebabnya Ello tidak mau memanfaatkan nama besar perusahaan ataupun nama besar Papa sendiri. Dan semua ini juga tak jauh dari dukungan Oma tercinta, Oma selalu mendukung apa pun keputusan Ello. Walau itu di tentang oleh Papa dan Mama. Terima kasih Oma.."jelas Ello panjang lebar dan di peluk erat oleh Omanya.


"dan aku juga ingin mengucapkan banyak banyak terima kasih padamu sayang!" ucap Ello yang menghampiri Nia dan memeluk mesra istrinya.


"kenapa berterima kasih padaku, aku saja tidak tahu jika kamu punya banyak hotel dan restaurant!"


"terima kasih karena kamu...aku jadi semakin semangat untuk lebih serius dalam berbisnis. Dan terima kasih kamu sudah hadir dan melengkapi hidupku. Dan sebentar lagi akan hadir seorang baby yang menambah kebahagian keluarga kecil kita," ucap Ello.


"ah...so sweet, Mama sudah tidak sabar ingin cepat cepat menggendong cucu Mama!" ucap Mama dengan suara yang sedikit lebay.


"kau tidak boleh menggendongnya, nanti cicitku pasti akan menangis terus jika kamu yang mengajaknya!" sahut Oma dengan begitu sinis.


"mana mungkin cucuku menangis, aku kan Grandma nya yang cantik, baik, lembut, tidak cerewet alias tidak berisik dan Grandma yang penyayang tentunya..." sahut Mama tak mau kalah.


"heleh..lembut dari mananya, suara bagaikan toa seperti itu lembut." lagi lagi Oma sinis pada Mama.


"aduhh...Mama...apa Mama tidak pernah ngaca? Suara Mama sendiri saja mengalahkan sound system konser rock n' dut, pakai ngatain orang." sindir Mama.


"bodoh kamu Ne...emang suara bisa ngaca?" ledek Oma dengan tertawa. "baru tahu aku, kalau suara bisa ngaca," imbuh Oma yang kembali tertawa. Sedang semua hanya menepuk jidat dan menggeleng gelengkan kepala. Sedang Mama diam dan menatap kesal pada Oma, karena tidak peka pada sindirannya.


"iya Anne salah, suara tidaklah bisa ngaca!" Mama pun mengalah dan tak mau berdebat, karena beliau takut akan mendapat hukuman yang lebih berat dari Papa.


"itu tahu..." ucap Oma penuh kemenangan.


"selamat ya El, Ayah memang tidaklah salah menilaimu. Kamu benar benar pria yang bertanggung jawab lahir bathin pada Nia, jika seperti ini. Ayah bisa kembali ke Bandung dengan perasaan yang tenang, karena Ayah percaya kamu akan baik baik saja bersama suamimu Nia..." kini suasana gaduh itu menjadi haru mendengar ucapan Ayah.


"kenapa Ayah ingin kembali ke Bandung, apa Ayah sudah tak menyayangi Nia lagi!" ucap Nia berkaca kaca.


"bukan Ayah sudah tak menyayangimu lagi Nak, hanya saja Ayah harus kembali ke Bandung. Ayah harus mengurus usaha Ayah kembali Nak,"


"tapi Ayah, Nia tidak tega jika Ayah harus tinggal sendirian di Bandung."

__ADS_1


"kamu tidak usah menghawatirkan Ayah, di sana kan ada Pak Ratno dan Bu Sri. Ayah akan baik baik saja, kamu harus menjaga calon cucu Ayah dengan baik. Ayah pasti akan sering sering menjenguk kamu," ucap Ayah mengusap lembut kepala Nia.


"tapi Yah..." Ayah memotong ucapan Nia.


"Nia..Ayah harus kembali, tidak baik membebani Pak Ratno dengan semua pekerjaan di kafe terus terusan Nak. Kamu harus bahagia Nak, dan kamu sudah menemukan kebahagiaan itu!"


"tapi Nia kan sudah janji kalau akan terus menjaga Ayah,"


"Ayah tahu, tapi Ayah masih sehat dan tak perlu kamu jagain. Kamu harus jaga kandunganmu dengan baik, dan jangan banyak stres!"


Setelah Ayah dan yang lain meyakinkan Nia, akhirnya Nia pun menyetujui keputusan Ayah yang akan kembali ke Bandung. Sejujurnya beliau juga tidak ingin menjauh dari Nia, namun beliau sadar jika Nia sudah ada yang menjaga dan melindunginya. Tidak baik juga jika beliau terus terusan berada di Jogja yang harus memaksa Ello tinggal di rumah Ayah karena permintaan Nia. Beliau merasa tidak enak pada Ello, walaupun Ello tidaklah keberatan. Di sisi lain, beliau juga tidak ingin merepotkan Pak Ratno yang harus mengurus sendirian tiga kafe miliknya di Bandung. Maka dari itu beliau sudah mempertimbangkan baik baik keputusan ini jauh hari sebelumnya.


"kamu jangan sedih sayang, Ayahmu pasti baik baik saja. Dan untuk Nak Ilham jangan khawatir, kami semua akan menjaga Nia dengan baik. Kami semua sangat menyayanginya!" Oma pun menghampiri Nia dan menyuruh Ello menggeser duduknya menjauh dari Nia, lalu memeluk lembut tubuh Nia.


"menjaga Nia dengan baik..." bathin Ello dan tampak berfikir, "apa iya Oma akan menjaga Nia dengan baik". Karena biasanya akan membuat Nia kerepotan.


"terima kasih Oma, dan karena kalian semua menyayangi Nia. Saya jadi lega dan tenang meninggalkan Nia di sini," jawab Pak Ilham.


"Alan...iya Alan..aku harus kasih tahu Alan..." gumam Ello dalam hati.


Dia memberi tahu Alan, jika Ayahnya akan kembali ke Bandung. Mendengar kabar dari Ello, Alan merasa senang dan dirinya tak harus bolak balik lagi Ibu kota dan Jogja. Tak lupa Ello memberi pesan agar Alan bisa menjaga Ayahnya dengan baik, dan benar benar serius untuk mendapatkan maaf dari Ayah. Ello memberi saran, agar Alan meminta maaf dengan pelan pelan dan tidak dengan cara memaksa.


Ello berbicara panjang lebar pada Alan, dan tanpa Ello sadari Nia mendengar semua pembicaraan Ello dengan Alan.


"kamu menghubungi Mas Alan?" tanya Nia yang mengagetkan Ello.


"eh...sayang, iya aku habis bicara dengan Alan!"


"sejak kapan kamu punya nomor ponsel Mas Alan, dan sejak kapan kalian saling komunikasi?" tanya Nia penuh selidik.


"sejak aku pamit untuk pergi dengan rekan bisnisku waktu itu!" jawab Ello enteng, lalu dia duduk di kursi.


"rekan bisnis? Jadi rekan bisnismu itu Mas Alan?"


"aku tidak ada bisnis apa pun dengan Alan, waktu itu aku berbohong pergi dengan rekanku. Padahal aku pergi dengan Alan, dan waktu itu Alan mengatakan banyak hal tentang penyesalannya padaku. Dan dia hanya ingin mendapatkan maaf dari Ayahnya yang belum dia dapatkan sampai saat ini. Maka dari itu aku menghubunginya, agar dia bisa meminta maaf dan sebisa mungkin. Sering sering menemui Ayah, agar bisa mendapatkan maaf dari Ayah. Bahkan sampai bercerai dengan Lala, dia juga belum mendapatkan maaf dari Lala. Bahkan kamu juga belum memberinya maaf kan sayang, jadi kamu harus memaafkannya. Agar kita semua bisa berdamai dengan masa lalu," ucapnya bijak sana.

__ADS_1


"aku sudah memaafkannya El, walau dia tidak pernah minta maaf padaku. Jelas dia sulit mendapatkan maaf Ayah, Mas Alan sudah berkali kali membohongi Ayah. Jadi Ayah takut Mas Alan hanya pura pura tobat,"


"sayang..aku yakin dan sangat yakin, kali ini Alan benar benar sudah menyadari kesalahannya. Aku rasa dia tulus ingin mendapatkan maaf dari Ayah," Ello menangkup wajah Nia, dan tersenyum pada Nia.


"sayang lihat aku..., semua orang pasti punya kesalahan. Tapi bukan berarti orang tersebut akan terus menerus membuat kesalahan lagi, tolong kamu bantu bicara dengan Ayah ya... Agar bisa memberi maaf pada Alan, aku juga melihat ada kerinduan pada diri Ayah pada anaknya. Namun rindu itu beliau tutupi dengan besarnya kekecewaan"


"Insya' Allah aku bantu sebisaku, tapi aku bangga denganmu sayang!" ucap Nia tersenyum tapi juga meneteskan air matanya.


"bangga kenapa,"


"kamu dengan besar hati mau memaafkan Mas Alan setelah apa yang dia lakukan padamu. Apa kamu tidak takut, jika Mas Alan akan kembali terobsesi padaku?" goda Nia pada kalimat kalimat terakhir.


"kenapa harus takut, dia bilang sudah tidak berselera lagi dengan wanita hamil..." ejek Ello dengan menyunggingkan bibirnya.


"ohh..jadi Ibu hamil itu sudah tidak ada seleranya," ucap Nia kesal.


"hem..." jawabnya enteng.


"jadi kamu juga sudah tidak berselera denganku," ucap Nia dengan nada tinggi.


"hem..." ucap Ello dengan wajah seringainya.


"keterlaluan, semua pria sama saja. Sama sama hanya mengejar hawa nafsu," Nia pun beranjak dari duduknya. Membuat Ello tersenyum puas, dan langsung mengahampiri Nia dan menggedong Nia.


"lepaskan..." pekik Nia dengan memukul punggung Ello.


"maksud aku, aku tidak selera untuk tidak mengerjai Ibu hamil di atas ranjang" ucap Ello dengan tertawa.


"maaf semua...aku sama Nia pamit ke kamar duluan!" pamit Ello yang masih menggendong Nia. Dia berlari menuju kamar hotelnya.


"Mama, tidak boleh melihat itu. Mereka hanya mau bermain gendong gendongan." bisik Mama pada Oma.


"mantu gend*ng, kamu pikir Mama ini anak kecil. Gendong gendongan mbahmu...." jawab Oma sambil memukul lengan Mama.


"bercanda Ma, gitu aja nge gas," sahut Mama dengan tersenyum manis.

__ADS_1


__ADS_2