
Ditempat lain keseruan keluarga terlihat dirumah Bu Dina. Bu Dina tidak pernah kesepian sebab beliau tinggal bersama Catty. Sedangkan Johan dan Lala tinggal bersebelahan dengan rumah Bu Dina, bersama pasangannya masing masing, maka Bu Dina tidak pernah kesepian karena anak anak dan cucu cucunya berada didekat beliau.
Justru keluarga yang hampir terpecah karena adanya masa lalu kelam, kini menyatu dan saling menggenggam erat satu sama lain. Menciptakan kebahagiaan dengan cara mereka sendiri. Melupakan kegelapan yang dulu pernah mereka rasakan. Saling menyayangi dan bergandengan tangan. Saling mendukung dengan tujuan masing masing. Berjanji untuk tidak akan pernah saling menyakiti lagi seperti dulu. Sama sama kompak melupakan hal hal yang menyakitkan. Kini Lala, Johan dan juga Catty hidup bahagia dengan keluarga kecil mereka. Masa lalu mereka jadikan pelajaran agar mereka bisa hidup lebih baik tanpa harus menoleh kebelakang.
"Oma...tolongin Nayla, Nay dari tadi dikejar kejar mereka mulu.!" Adu Nayla pada Omanya.
"Aduh...kasihan cucu Oma, sini sayang nanti Oma omelin Kakak Kakakmu itu!"
"Nayla yang iseng Oma, David dikerjain katanya dia pingin mangga. Ada tu pohon mangga Om Jamil, lah David panjatin sudah sampai atas malah dia teriak teriak. Om Jamil mangganya diambilin nih Om, kan nyebelin nih orang bikin malu Dav aja kan!" Ucap David dengan nafas ngos ngosan.
"Betul itu Oma, untung Jeco bisa jelasin ke Om Jamil, makanya kita dilolosin dan gak di omelin!"
"Nayla, jangan seperti itu ya nak. Kasihan Kakakmu sampai ngos ngosan seperti itu! Ntar kalau dikira maling beneran gimana terus digiring banyak orang."
"Mereka dulu yang ngisengin Nayla, Oma...pas mau masuk komplek sengaja gangguin anjing depan sana. Eee itu anjing gonggong Nay yang dibelakang ditinggal ngebut sama mereka berdua. Nayla yang diomelin sama yang punya. Giliran Nay udah sampe Om Jamil mereka kelihatan senang Nay goes sepeda sampe ngos ngosan. Ya udah Nay kerjain balik!"
"Ya ampun, kenapa cucu cucuku gak ada yang anteng. Cobalah kalian bertiga akur dan jangan saling iseng seperti itu." Ucap Bu Dina lesu.
"Iya Oma, maafin kelakuan kita ya Oma!" Ucap Mereka bertiga.
"Maaf cuma sebentar doang, besok besok gini lagi pening kepala Oma!"
Ya begitulah kelakuan 3 cucu Bu Dina, David (18) dan Jeco (16) adalah cucu kandung Bu Dina makanya sifatnya sama. Sedang Nayla (16) adalah anak sambung Lala, tapi membuat semua terheran heran kenapa kelakuan mereka sama saja.
Nayla adalah anak Ridho bersama istrinya dulu yang sudah meninggal, Lala dan Ridho menikah selang 3 tahun dengan pernikahan Alan dan Melly. Mereka hidup bahagia walau Lala tidak bisa memberi Ridho keturunan, namun sudah ada Nayla yang melengkapi pernikahan mereka. Walau bukanlah putri kandung tetapi Lala sangat mengasihi Nayla seperti putrinya sendiri.
Lala tidak bisa memberi keturunan pada Ridho, ada rasa bersalah dibenak Lala, namun Ridho selalu memberi pengertian pada Lala bahwa yang terpenting adalah hidup bersama dan saling melengkapi. Nayla begitu menyayangi Lala walau dia tahu Mamanya bukanlah Ibu kandungnya, tapi Nayla selalu merasa nyaman bersama Ibu sambungnya yang begitu sayang dengannya melebihi Ibu kandung sendiri. Selalu memanjakan Nayla.
"Heran aku sama kelakuan cewek satu ini, usilnya melebihi anak cowok!" Ucap Johan yang menghampiri Nayla dan mencubit gemas pipinya.
__ADS_1
"Sakit, PaJo!" Ucap Nayla sambil mengusap pipinya.
"Mirip banget kelakuanmu sama Bapakmu!" Ucap Johan.
"Sama saja, anakmu juga lebih usil." Ucap Ridho.
"Wajar dong anakku laki laki, lha anakmu perempuan kelakuan bar bar. Gimana besok gedenya ya, jangan jangan mirip si Lena!" Celetuk Johan yang tertawa lepas membayangkan masa masa dulu waktu kuliah bersama ke empat sahabatnya.
"Anak anaknya emang usil semua, tapi Bapak Bapaknya lebih usil dari anak anaknya!" Teriak Catty menghentikan khayalan Johan.
"Kenapa coba?" Tanya Romi.
"Lihat itu!" Tunjuk Catty pada sofa diruang keluarga yang sudah tidak tertata rapi bahkan bantalnya pun sudah berlarian entah kemana.
"Ridho noh, dia duluan yang ngajakin gelud!" Ucap Johan mengelak.
"Romi, iya Romi yang mulai!" Ucap Johan melempar kesalahan.
"Dia yang buang gas, dia juga yang ngelak. Kita yang mabok gas, dia juga yang pura pura nanya yang kentut siapa sambil mukul mukul. Ya kita berdua gak terima lah, tau tau sofa sudah kemana tahu!" Ucap Romi.
"Kamu tuh ya, dah tahu kalau buang gas baunya bikin mual orang satu komplek malah buang gas sembarangan. Orang mah ditahan!" Ucap Dessy menyalahkan Johan.
"Mungkin Kak Johan sudah berusaha menahan, hanya saja gasnya yang gak mau bertahan sama dia!" Ucap Lala, dan semua tertawa.
"Betul, betul banget kamu istriku. Hanya Kak Desy saja yang mau bertahan dengan kelakuan absurdnya!" Ucap Ridho yang masih tertawa karena candaan receh istrinya.
"Sialan kamu Dho,"
"Cepat bereskan, atau tidak kita bagi makan malam!" Teriak Catty yang sangat galak diantara mereka semua.
__ADS_1
"Baik Kak Ros!" Ucap ketiga pria itu dan mereka mengikuti kata kata Catty.
Mereka bertiga pun merapikan sofanya menata kembali ketempat semula. Dan ketiga bocil tadi tertawa menyaksikan Bapak mereka membereskan kerjaannya.
"Hanya Mamaku saja yang bisa membuat para Papa kita ketakutan." Ucap David.
"Karena Mamamu bagaikan singa yang sedang beranak." Ucap Jeco.
"Aku bilangin ke Mamaku ya!" Ancam David.
"Aku laporin juga ke Mamamu kalau kamu suka bolos sekolah buat pergi pacaran!" Ancam Jeco balik.
"Cie...ancam-ancaman nih, awas nanti gedenya ngancam 'aku rebut ya cewekmu!' ha..." Ucap Nayla sambil tertawa.
"Cewek bakal milih aku dari pada Jeco!" Ucap David dengan pedenya.
"Kita lihat saja nantinya!" Ucap Jeco malas.
"Oke,"
"Punya sepupu dua gini amat ya, aku akan memilih diam ketika kalian mau berebut pacar. Aku akan menyaksikan sambil berkata, sudahlah yang waras mengalah saja!" Celetuk Nayla.
"Asem kamu Nay!" Ucap Jeco dan Dav bersamaan sambil menggelitiki perut Nayla.
"Ampun!" Teriak Nayla yang kalah karena diserang oleh dua sepupunya.
Kini kehidupan Lala terasa begitu indah, mendapatkan suami yang menerimanya apa adanya. Bahkan keluarga besarnya juga menyayanginya. Termasuk Johan yang dulu sangat membencinya bahkan tidak mengaggapnya sebagai adik. Kini Johan sudah menerima Lala dan Johan juga menyayangi adiknya itu. Lika-liku dikehidupan mereka kini berakhir bahagia, cinta selalu menghiasi hidup mereka. Sakit yang dulu pernah mereka rasakan, kekecewaan akan kehidupan juga pernah mereka rasakan bahkan dunia serasa gelap tanpa cahaya pun pernah mereka rasakan. Namun kini kehidupan mereka terasa indah, bahagia, bahkan selalu bercahaya ketika mereka melupakan masa lalu yang menyakitkan dan mulai menata masa depan yang mereka inginkan seperti sekarang. Tujuan mereka sama, melepaskan kepahitan untuk memeluk sebuah hal yang manis.
Harapan setiap insan pasti ingin kehidupan yang damai dan bahagia. Namun terkadang kenyataan tak sesuai dengan khayalan. Tapi kita bisa menciptakan kebahagiaan kita sendiri dengan cara kita sendiri juga! Tak perlu iri dengan kehidupan orang lain, karena hanya akan membuat penyakit hati dan lama lama menjadi akut.
__ADS_1