
Di malam yang sama dan di tempat yang berbeda. Tepatnya di rumah Ello, pukul 21.00.WIB, suasana rumah masih nampak ramai dan hangat dengan obrolan yang di penuhi canda gurau dari penghuni rumah dan tamunya. Bahkan Oma, Papa dan Mama juga berada di rumah Ello dan belum pulang ke rumah. Mereka bercerita banyak tentang keluarga Sanjaya pada Lena dan Nia yang belum Nia ketahui. Yaitu tentang Oma dan Opa, karena Ello belum cerita itu padanya.
"pasti dulu Oma yang menggoda Opa kan?" Ledek Ello pada Oma saat menceritakan pertemuan Oma dan Opa dulu.
"sembarangan, dulu Oma itu pemalu. Mana mungkin Oma menggoda Opa duluan, yang ada Opamu yang suka godain Oma sampai Oma klepek klepek padanya." Elak Oma.
"dulu Opa supir Oma, mana mungkin supir berani menggoda majikannya. Mars tak percaya itu, dulu Opa pernah bilang sama Mars, kalau Oma sangat ngotot ingin tetap bersama Opa. Sampai sampai Oma rela minggat dari rumah orang tua Oma," ucap Ello.
"he..he..kenapa Opa mu itu sangat menyebalkan. Tapi jika Oma tidak nekat seperti itu, maka tidak ada kamu di dunia ini. Dan kamu tidak akan bertemu dengan bidadari di sampingmu itu!" Ketus Oma yang membuat Ello bersimpuh di kaki Oma.
"he..he..jangan marah Oma, maafkan cucumu ini Oma, terima kasih karena Oma sudah mau menikah dengan Opa hingga Mars tercipta di dunia ini. Dan bisa bertemu bidadariku," ucap Ello sambil mencium punggung tangan Oma.
"idih..lebay amat kamu El," ledek Lena yang tengah duduk di tengah tengah Oma dan Mama.
"sirik amat," sahut Ello dengan ketus, lalu kembali ke tempat duduknya.
Oma kembali menceritakan masa kecil Papa dan bagaimana susahnya kehidupan Oma dan Opa dulu setelah di usir oleh kedua orang tua Oma. Namun seiring berjalannya waktu orang tua Oma menerima pernikahan Oma dan Opa. Dan Oma juga menceritakan jika beliau juga memiliki adik laki laki yang sudah tiada, dan dia meninggalkan satu anak perempuan. Dan anaknya itu kini sudah memiliki putra dewasa yang tampan nan gagah seperti Ello.
"tunggu Oma, cucu adiknya Oma pasti sangatlah tampan. Ya kan..?" Tanya Lena sambil membayangkan wajah tampan yang ada di pikirannya.
"tentu dia sangat tampan, tapi tetaplah tampan Mars cucu Oma!" Ucap Oma yang selalu membanggakan Ello, walau kadang cucu kesayangannya itu membuat Oma kesal.
"idih..bisa mekar tu kepala di puji tampan!" Ucap Lena sinis dengan menyunggingkan bibirnya.
"memang yang di katakan Oma itu benar, aku itu tampan." Sahut Ello.
"itu cuma kebetulan, jika kau itu hanya tertolong dari wajah bule mu itu. Jika tidak berwajah bule, pastinya kau sangat sangatlah jelek!" Lagi lagi Lena meledek Ello.
"sekarang aku tanya padamu. Coba kamu bandingkan aku dengan Zacky, tampan aku atau dia?" Tanya Ello penuh arti, dan Lena pun terdiam dan berpikir.
__ADS_1
"kenapa harus Zacky? Kalau aku jawab tampan Zacky, pasti tu orang akan besar kepala dan itu membuatku malu. Kalau aku jawab tampan Ello, bisa bisa dia semakin membanggakan dirinya!" Gumam Lena dalam hati.
"sama sama jeleknya," sahut Lena.
"bilang saja kamu malu mengakui diriku tampan." Ello pun tertawa.
"huekk.." Lena menjulurkan lidahnya. "percaya diri sekali kamu El," imbuhnya.
"memang suamiku ini tampan Len," puji Nia yang bergelayut manja pada tangan kekar Ello.
"sayang..mungkin si bar bar matanya katarak, sindir Ello yang merangkul mesra Nia.
"sudah sudah, jadi lanjut tidak ceritanya?" Sahut Oma.
"jadi dong, Lena mau tanya. Apa Opa juga berwajah bule?"
"oh..jadi Opanya Ello itu asli Jawa, dan Oma yang bule Eropa!" ucap Lena sambil mengangguk anggukan kepalanya.
"betul sekali..makanya Ello mirip Oma dan Papanya, gak mirip Mamanya!" seloroh Oma dengan terkekeh.
"Mama..walaupun Anne bukan seorang Bule, tapi Anne juga berdarah Bule Ma..." sahut Mama kesal.
"berdarah Bule? Mamamu atau Papamu yang Bule?" tanya Oma bingung.
"nenek moyangku sebelum adanya perang dunia," jawab Mama penuh percaya diri. Lalu Mama tertawa yang di ikuti oleh Lena dan Ello saja, sedangkan Nia dan Papa hanya menggelengkan kepala.
"cah gend*ng.." ucap Oma sambil memukul lengan Mama.
"memang nama nenek moyangnya siapa Tante?" Tanya Lena sambil menahan tawa.
__ADS_1
"namanya Carolien," jawab Mama terkekeh kembali.
"mantu gend*ng, durhaka kamu.." Ucap Oma kesal.
"memangnya yang namanya Carolien cuma Mama doang. Siapa tahu dulu nenek moyangku juga bernama sama," ucap Mama sambil melengoskan bibirnya.
"haduh..Oma sama Tante tiap harinya seperti ini kah?" Tanya Lena.
"ya seperti itulah Oma sama Mama Len, tapi aku senang. Aku merasa terhibur, karena selama ini aku tak pernah merasakan kehangatan, canda tawa bersama keluarga setelah kepergian Ayah dan Ibu!" Jawab Nia sambil tersenyum dalam pelukan Ello, namun hatinya sedih mengingat kehangatan keluarganya dulu.
"kamu yang sabar ya Nak, doakan Ayah dan Ibumu bahagia di surga!" Ucap Papa sambil mengusap lembut kepala Nia.
"iya Pa.." Sahut Nia.
"sekarang ada suami tampanmu ini, ada Papa dan juga ada biang rusuh!" Ucap Ello mengecup pucuk kepala Nia.
"astaga..Ello.., bisa tidak kamu jangan bermesraan di depanku!" Protes Lena sambil memanyunkan bibirnya.
"memangnya kenapa?" Tanya Ello yang semakin mengeratkan rangkulannya dengan Nia dan mencium seluruh wajah Nia.
"jiwa jombloku meronta ronta..." Rengek Lena dengan menghentakan kedua kakinya di lantai.
"ha..ha..kau jomblo lagi? Apa kau di tinggalkan kekasihmu lagi?" Tanya Ello yang melepaskan pelukannya pada Nia.
"tidak perlu di bahas..itu hanyalah butiran embun!" sahut Lena kesal.
"aku pikir butiran kerikil, emang ada butiran embun?" Tanya Ello sambil menggaruk tengkuknya.
"Ello..maksud aku itu butiran debu.." teriak Lena yang berhasil membuat Nia tertawa.
__ADS_1