
Satu minggu telah berlalu, saat kembali ke Ibu Kota Lala memutuskan untuk pergi dari kehidupan Alan. Dia sudah sangat kecewa pada Alan, cinta mereka tak bisa bersatu seperti dulu. Alan sudah banyak berubah dan banyak menyakitinya, dan yang lebih menyedihkan dia kehilangan janinnya karena keegoisan Alan. Lala pergi tanpa pamit pada Alan, Lala mengundurkan diri dari perusahaan Hans.Group.
Sinta yang mendengar kabar Lala yang mengundurkan diri dari perusahaan suaminya pun terkejut. Dia berfikir jika pengunduran diri Lala karena dirinya yang terus terusan menjahui Lala. Namun saat Sinta memberi tahu pada Ello, Sinta pun akhirnya mendapatkan jawaban alasan Lala berhenti kerja.
"ya ampun Lala, kasihan sekali kamu. Alan pria kejam yang pernah aku temui di dunia ini, habis manis sepah di buang. Enak banget perlakukan Lala seperti mainan saja, tapi ini juga salahnya Lala sih. Sudah tahu pacarnya punya istri, bodohnya mau menikah dengannya tanpa memikirkan akibatnya. huft...." Sinta menghela nafasnya dengan berat, sambil duduk berputar di kursi kerjanya.
**
"Sinta bilang Lala mengundurkan diri..." ucap Ello saat mendapat kabar dari Sinta.
"kenapa Lala mengundurkan diri?" tanya Nia.
"aku juga gak tahu pasti, mungkin karena dia ingin menenangkan diri dan bisa istirahat total pasca keguguran." jawab Ello tanpa ekpresi. Ello sebenarnya tahu jika Lala dan Alan pasti sedang tidak baik baik saja. Dia hanya tidak ingin Nia terlalu banyak fikiran tentang Lala lagi.
๐ฟ๐ฟ
Pov Lala.
Ya Allah, apa ini teguran darimu. Harus kehilangan cinta dan harta berhargaku dalam waktu bersamaan. Aku kehilangan cinta Mas Alan dan juga calon anakku, apa aku tidak pantas mendapatkan cinta dari mereka. Aku begitu mencintainya dan tak ingin kehilangannya, sedang Mas Alan ingin menukarkan diriku agar mendapatkan Nia seutuhnya. Cintanya ternyata tak sebesar cintaku padanya, dan saat ku kehilangan janinku. Membuatku semakin sadar jika diriku sudahlah tidak berarti untuknya, dan dia sudah tidak menginginkanku bersamanya.
Dulu kamu begitu memuja muja diriku, hingga aku terhanyut akan kata katamu yang tak ingin kehilangan diriku. Bahkan kamu meyakinkan diriku jika dirimu takkan pernah meninggalkan diriku, dan memintaku untuk menjadi istrimu.
__ADS_1
Aku ingat betul kata katamu yang membuatku bisa luluh padamu.
"sayang maafkan aku, aku sudah menikah dengan gadis pilihan Ayah." itu kata kata Mas Alan yang begitu menusuk jantungku.
"kamu tega Mas, aku tidak bisa berhubungan dengan suami orang. Kita akhiri sampai di sini hubungan kita, dan simpan saja janji janjimu dulu Mas!" aku menangis dan tak terima dengan kenyataan pahit itu.
"La...maafkan aku, aku benar benar terpaksa. Ayah sakit dan memintaku menikahi gadis kumuh itu. Sedikit pun aku tidak mencintainya, bahkan aku tidak sudi menyentuh wanita yang tidak aku cintai itu."
"dia istrimu, jadi jangan sampai kamu menyakitinya. Dan kita cukup sampai di sini Mas...biar aku yang mengalah," ucapku sambil berlari meninggalkan Mas Alan, tapi dia mengejarku dan memeluk erat tubuhku.
"aku ingin menikahimu, dengan atau tanpa persetujuan perempuan kotor itu. Aku tidak mau kehilangan kamu La, aku akan selalu di sampingmu apa pun yang terjadi. Aku rela Ayah membenciku asalkan kamu tidak pergi dari hidupku. Aku tak bisa hidup tanpa dirimu La, aku mohon kamu mau menikah denganku!" Mas Alan berlutut di hadapanku dengan sangat memohon.
"Nia sudah setuju, dan menerimamu tinggal bersama di rumahku. Jika saja Nia tak setuju, aku tidak peduli dan tetap akan menikahimu. Dan aku tak peduli jika dia terluka, yang paling penting diriku bisa bahagia bersamamu!" Mas Alan terus memaksaku, dan bodohnya aku setuju untuk menjadi yang kedua. Karena aku juga tidak ingin kehilangan cinta yang begitu besar untukku.
Hari hari yang dulu selalu terlewati dengan indah dan begitu manis. Namun saat Mas Alan mencintai Nia, dia perlakukanku seperti Mas Alan perlakukan Nia dulu. Tak pernah perhatian terhadapku, hari harinya di sibukkan untuk mencari Nia. Melupakan diriku yang sangat butuh perhatiaannya, mungkin ini balasan untukku. Yang telah berani masuk ke dalam rumah tangga mereka, dan secara langsung selalu membuat Nia terluka. Andai saja dulu aku tak masuk ke dalam rumah tangga mereka, aku tidak akan melukai hati dan perasaan Nia. Dan aku juga tidak akan merasakan sakit yang begitu dalam seperti ini.
Aku sadar sudah melukai hati sebaik Nia, dan aku sadar sudah merasa iri cinta Mas Alan terbagi untuknya. Hingga aku buta saat Mas Alan memintaku menghancurkan hubungan Nia dan Ello. Hanya untuk mendapatkan cinta Mas Alan kembali, yang ternyata cinta itu takkan pernah kembali lagi untukku lagi.
Aku juga sadar cinta memanglah tak harus bersama, cinta itu merelakan bukan memaksakan. Aku tak ingin memaksanya untuk tetap bersamaku, aku sudah rela melepas Mas Alan. Ku ajukan gugatan ceraiku yang akan di wakili oleh pengacaraku, aku tak sanggup jika harus bertatap muka dengan Mas Alan lagi.
Kini aku pergi meninggalkan Mas Alan, meninggalkan Ibu Kota yang penuh dengan kenangan manis bersama Mas Alan dulu. Meninggalkan rumah yang pernah di penuhi kebahagiaanku, rumah yang menyaksikan ketidak adilan Mas Alan pada Nia. Diriku memang tak sekuat Nia, dan aku menyerah dengan semua ini. Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini, pernikahan yang di awali tanpa restu Ayah. Dan ku akhiri saat Ayah sudah menerima kehadiranku, sedang Mas Alan sudah tak bisa menerima hadirnya diriku.
__ADS_1
Maafkan aku Mas, aku pergi tanpa pamit. Aku pergi membawa luka, aku pergi dan takkan kembali lagi. Aku berharap Mas Alan bisa berubah, dan menyadari semua kesalahannya. Pernikahan bukan sebuah permainan, dan menghargai hati seorang wanita itu haruslah di utamakan. Aku hanya bisa berharap setelah aku dan Nia memilih pergi dari Mas Alan. Dia sadar dan bisa membuang ke egoisannya jauh jauh dari hidupnya, agar dia tidak mengulang lagi kesalahan untuk ketiga kalinya.
**
Kini aku berada di sebuah kota yang takkan bisa Mas Alan temui. Dan takkan mungkin dia mencariku yang sudah tidak berarti apa apa di hidupnya lagi.
"kamu di terima bekerja di sini!"
"terima kasih banyak, Bu..." jawabku senang. Aku di terima bekerja di sebuah toko kue, walau bergaji kecil aku tetap bersyukur dan semangat.
Aku merasa tenang karena kini sudah mendapat pekerjaan di kota baru dan meninggalkan kota penuh kenangan.
Semua yang terjadi pada diriku, tidaklah seberapa di banding semua yang telah Nia rasakan selama hidup bersamaku (madunya). Aku doakan agar Nia bisa hidup bahagia dengan keluarga barunya. Dan biarkan aku dengan segala penyesalanku, dan aku terima semua teguran dan takdir hidupku ini.
๐
๐
Pagi kk semua, maaf kemarin tidak bisa up. Author sibuk dengan kehidupan nyata, merawat kakek yang lagi sakit๐ข. Maafkan jika ada kataยฒ yang sedikit gak nyambung Ya๐๐
Sehat selalu wt kk semua๐๐, Dan untuk yang bertanya karya aku mirip dengan novel sebelah. Aku kasih tahu๐๐ aku sudah di hubungi oleh pihak NT jauh sebelum ada komentar komentar pedas, dan pihak NT itu lebih tahu ya kak.
__ADS_1