
Dua bulan telah berlalu, Alan semakin terpuruk setelah kehilangan kedua istrinya. Bahkan dia juga harus kehilangan calon buah hatinya bersama Lala, dan sudah terlambat untuk menyesali semuanya. Dia orang yang terlalu berambisi untuk memiliki apa yang dia sukai, dan akan menjauhi apa yang tidak dia sukai. Seperti dia menjauhi Nia yang dulu tidak dia sukai, dan setelah rasa cinta itu tumbuh dia berambisi ingin memiliki Nia seutuhnya. Dan setelah rasa cintanya dengan Lala berkurang, dia rela menukar Lala demi mendapatkan Nia. Secara tidak langsung dia menukar nyawa anaknya karena ke egoisannya dan ambisinya yang terlalu tinggi.
Kini dia duduk di ruang kerja di rumahnya, merenung menatap kosong pada laptopnya.
"aku kehilangan semuanya.....agrhhhhhh...." Alan kesal pada dirinya sendiri dan membanting semua barang barang di meja kerjanya, hingga laptop kerjanya pun hancur.
"percuma aku punya banyak harta, jika cinta tak ada yang mau singgah dihatiku. Nia pergi karena ketidak adilanku, dan Lala pergi karena ke egoisanku. Mereka pergi karena kesalahanku yang tak akan pernah bisa termaafkan oleh mereka. Dan Ayah pun kini sangat membenciku dan tak akan pernah percaya denganku lagi." Alan menatap nanar pada figura di meja kerjanya, gambar dirinya, Pak Ilham dan mendiang Ibunya.
Dia sadar jika dirinya sudah membuat Ayah dan mendiang Ibunya kecewa. Andai Ibunya masih ada di dunia ini, beliau orang yang paling terluka dan kecewa dengan kelakuan anaknya.
"Ayah...Ibu...maafkan Alan, Alan sudah membuat Ayah dan Ibu malu dan kecewa." Alan memeluk erat figura tersebut dan menciumi tanpa henti.
"aku harus bertemu Ayah," Alan pergi dari rumahnya dan melajukan mobilnya menuju Bandara untuk menemui Ayahnya kembali.
๐ฟ๐ฟ
__ADS_1
Di kediaman Keluarga Sanjaya, mereka tengah berkumpul di ruang tengah. Hari minggu ini adalah hari yang membuat Keluarga Sanjaya merasa di penuhi kebahagiaan yang lengkap.
"Alhamdulillah, akhirnya Mama akan segera menimang Cucu Pa...." ucap syukur Bu Sanjaya dengan memeluk Pak Sanjaya setelah Nia memberitahu pada semua, jika dirinya tengah hamil.
"Nia, terima kasih. Kamu harus lebih extra hati hati lagi, karena kini kamu sudah berbadan dua. Dan tidak boleh terlalu lelah, dan kamu harus banyak banyak istirahat di rumah..." nasehat Oma pada Nia.
"iya Nak, kamu tidak boleh lagi ikut Ayah ke kedai. Kamu di rumah istirahat yang cukup, dan di rumah kamu tidak akan kesepian. Ada Mamamu dan Oma, yang akan menemanimu." Kini Pak Ilham ikut menasehati Nia, beliau begitu bahagia karena Nia sudah mendapatkan kebahagiaan yang hampir sempurna.
"tapi Nia, jenuh di rumah tidak ngapa ngapain Yah..." protes Nia dengan wajah memelasnya.
"tidak baik melawan perkataan orang tua sayang...." Ello membujuk Nia agar mau diam di rumah. Dia tidak mau terjadi sesuatu pada istrinya dan calon buah hatinya.
"tidak ada tapi tapian, aku sudah membuat keputusan untuk kita menetap di kota ini dan mengurus semua usahaku disini. Dan semua Hotel dan Restaurant di Ibu Kota, aku sudah mendapatkan orang yang bisa ku percaya dan aku percayakan semua pada kawan lamaku. Jadi....aku akan tetap mengawasimu agar kamu tidak melanggar perintah dari Oma Mama Papa dan Ayah!" ucap Ello dengan menyilangkan kedua tangannya di dada bidangnya.
"apa dulu Mama waktu hamil Ello, juga di perlakukan seperti ini sama Oma dan Papa?" tanya Nia, berharap mendapat jawaban yang bisa membuat dirinya tidak di larang pergi agar dia bisa ikut mengurus kedai.
__ADS_1
"em..em..Mama dulu sama kok, di larang keluar rumah sama Oma dan Papa. Mama selalu menurut pada perintah mereka, kan itu juga demi kebaikan Mama dan bayi Mama...." jawab Bu Sanjaya.
"maaf Nia, Mama berbohong. Dulu Mama sering melanggar perintah Oma dan Papa, sering kabur hingga membuat Omamu marah sampai sampai Oma illfeel dengan sikap Mama..." gumam Bu Sanjaya dalam hati, beliau tertawa geli saat membayangkan dirinya dulu sering kabur melanggar perintah Oma dan suaminya saat masih mengandung Ello.
"Mama bohong ya..?" tanya Nia curiga.
"Mama gak bohong, betulkan Ma.... Anne dulu selalu menurut dan berdiam diri di rumah..." ucap Bu Sanjaya pada Oma dengan mengedip ngedipkan satu matanya.
"iya, dulu Mama mu ini selalu menurut kata kata Oma dan Papamu. Dan kamu juga harus menurut, boleh pergi asalkan dengan Oma atau Mamamu...." ucap Oma berbohong, beliau memberi sebuah cubitan kecil pada perut menantunya. Bu Sanjaya menahan sakitnya, dengan mengigit bibir bawahnya agar tak mengeluarkan suara.
"baiklah, Nia menurut." ucap Nia menunduk dan pasrah.
"tapi, Nia khawatir dengan Ayah yang harus kerja sendirian mengurus kedai."
"kamu tidak usah khawatir, Ayah baik baik saja. Lihatlah Ayah sehat kan? dan kamu janganlah terus terusan menghawatirkan Ayah lagi ya! Kan ada Melly yang juga membantu Ayah!" Pak Ilham mengusap lembut kepala Nia.
__ADS_1
Nia pun menurut, dan tak lagi mencoba protes. Wajar saja mereka terlalu menghawatirkan Nia, mereka takut jika Alan masih akan berbuat yang tidak tidak apa lagi setelah tahu Nia hamil. Hari hari Nia kini hanya duduk di rumah, dan di temani Oma dan Bu Sanjaya yang sangat sangat posesif. Ini dan itu selalu di larang oleh Oma dan Bu Sanjaya, bahkan ke toilet pun di ikuti Bu Sanjaya dan menunggu di depan pintu toilet.
"apa semua ibu hamil di larang ini itu? jika iya, aku akan di perlakukan seperti ini sampai sembilan bulan dong! Itu artinya aku setiap hari harus berdiam diri di rumah, ke toilet juga di ikuti Mama. Ah....mereka terlalu berlebihan," gumam Nia dalam toilet sambil menatap dirinya di pantulan cermin.