
Di gedung tempat Ello dan Nia akan melaksanakan akad nikah dan resepsi pernikahannya. Kini Ello sudah duduk dan siap mengucapkan Ijab kabul, dan kini sudah di hadiri banyak saksi.
"bismillahirrahmanirrahiim," Ello berdoa dalam hatinya. Dia berharap acaranya berjalan dengan lancar dari awal hingga akhir acara.
"sudah siap Mas?" tanya Penghulu pada Ello.
"Insya' Allah sudah Pak!" jawab Ello. Ada rasa deg degan hingga tubuh dan tangannya sedikit gemetar dan panas dingin.
Kini Ello telah mengucapkan ijab kabulnya dengan lancar dan dengan satu tarikan nafas. Dia tak bisa menahan air matanya, perasaan yang tadinya tegang kini dia sudah merasa lega karena mereka sudah resmi menjadi suami istri.
Sungguh suatu anugrah yang luar biasa karena bisa menikahi gadis yang begitu dia puja. Kini Nia tengah berjalan dan tersenyum menghampirinya dengan di gandeng oleh Oma dan Bu Sanjaya, dan duduk di samping Ello.
Kini Nia mencium punggung tangan Ello yang telah sah menjadi suaminya, Ello pun mencium kening Nia.
"Alhamdulillah, penantian panjangku kini sudah terwujud." lirih Ello saat mencium kening Nia.
"Alhamdulillah!" balasan Nia.
Setelah selesai melakukan sejumlah rangkaian susunan akad nikah, mereka menyematkan cincin di jari manis pasangannya. Kemudian mereka mendengarkan nasehat untuk sebuah pernikahan.
Ello begitu memahami semua yang di jelaskan Penghulu padanya, begitu juga Nia. Apa lagi tentang hak dan kewajiban pasangan suami istri, yang harus bisa menghargai satu sama lain. Karena sebuah pernikahan harus ada cinta, pengertian, kepercayaan dan yang paling penting bukan karena paksaan.
"dulu aku menikah karena rasa terpaksa di antara aku dan Mas Alan. Mungkin sebab itulah aku dan dia berpisah dan tidak bisa bersama sama, semoga aku dan Ello bersama selamanya hingga maut memisahkan." gumam Nia membayangkan pernikahan yang dulu begitu menyakitkan.
๐ฟ๐ฟ
Acara resepsinya kini sudah di mulai, pembawa acara pun menyambut kedua pengantin untuk masuk ke gedung acara resepsinya dan mempersilahkan pengantin untuk duduk di kursi pelamin. Dan di susul oleh orang tua mereka dan duduk di kursi masing masing.
"Nia.....aku tak menyangka kamu mau menikah dengan jomblo mengenaskan ini." ledek Lena saat memberi ucapan pada Nia dan Ello.
"aku juga gak nyangka aku bisa menikah dengan Ello, tapi jodoh siapa yang tahu Len." jawab Nia dengan menggandeng lengan Ello.
"itu mulut kalau ngomong." ucap Ello kesal dengan mengalihkan pandangannya dari Lena.
"awas minggir..." seru Sinta menarik Lena untuk minggir dan memberinya jalan.
"akhirnya perasaanmu terbalaskan, coba saja dari dulu kamu tak menunda nunda pasti sudah dari dulu kalian bersama." ucap Sinta.
__ADS_1
"kalian berdua bisanya cuma meledek Ello saja, seharusnya kalian beri mereka selamat." seru Johan dengan menggandeng kekasihnya.
"selamat kawan, akhirnya kamu peduli juga dengan hatimu yang haus akan kasih sayang." Johan memberinya selamat namun juga meledek Ello.
"kau sama saja dengan mereka!" gerutu Ello.
"aku baru tahu tentang perasaanmu dari cerita Sinta kemarin El. Kenapa kamu bisa menyembunyikan itu dari kita semua, dan bodohnya kita tidak pernah menyadari jika kau ada masalah yang kau pendam. Sedangkan kita jika ada masalah kau selalu tahu," ucap Ridho dengan menepuk nepuk pundak Ello.
"itu hebatnya aku, bisa tahu masalah kalian. Dan kalian takkan tahu masalahku!" ucap Ello.
"apa kau punya koco benggolo seperti yang mak lampir punya?" celetuk Johan membuat mereka menahan tawanya.
"jelas punya, dia tersimpan di sini dan di sini!" jawab Ello menunjuk mata kanan dan kirinya.
"coba ku lihat," ucap Johan kembali. Dia menghampiri Ello dan ingin melihat mata Ello.
"kau mau apa?" ucap Ello dengan menyentil dahi Johan dengan sangat keras.
"aw....jelas jelas aku mau melihat koco benggolomu!" gerutu Johan.
"Nona, kau harus sabar berhubungan dengan pengacara sogokan ini!" ucap Ello pada kekasih Johan.
"dia hanya pintar dalam memisahkan pasangan suami istri, tapi tak bisa memisahkan pikiran bodohnya dari dirinya"
"kau cari saja koco benggolo itu sampai dapat!"
Mereka pun terkekeh dengan omelan Ello, Ello yang selalu peduli dengan sahabat sahabatnya hingga melupakan dirinya sendiri. Itulah yang selalu mereka herankan hingga dia bisa menyembunyikan perasaannya tentang Nia. Dan bodohnya kawan kawan mereka tak pernah mengetahui perasaan itu.
"jelas akan ku cari, agar aku bisa mengintip malam pertamamu dari benda itu." Johan pun tertawa bahak hingga membuat Nia dan Ello menelan air liurnya.
Acara berlangsung lancar dan meriah, di hadiri oleh rekan rekan bisnis Pak Sanjaya dan Ello. Kerabat terdekat dan juga sahabat mereka, Ello juga sengaja memperketat penjagaan di luar gedung agar tak terjadi sesuatu yang tak di inginkan.
Ello juga mempersembahkan sebuah lagu untuk Nia, dia menyanyi dengan meneteskan air matanya.
**Tuhan memberikanku cinta
Untuk ku persembahkan hanyalah padamu
__ADS_1
Dia anugrahkanku kasih
Hanya untuk berkasih berbagi denganmu
Atas restu Allah ku ingin milikimu
Ku berharap kau menjadi yang terakhir untukku
Restu Allah ku mencintai dirimu
Ku pinang kau dengan Bismillah
Hampa terasa bila ku tanpamu Niaaa
Hidupku terasa mati bila ku tak bersamamu
Hanya dirimu satu yang aku inginkan
Ku bersumpah sampai mati hanyalah Thaniaaa**
Seluruh tamu undangan ikut bernyanyi dan ikut meneteskan air mata. Ello begitu menghayati lagu tersebut, hingga Nia pun ikut menangis. Dia merasa beruntung di nikahi oleh orang yang bisa mencintainya begitu dalam, dia pun berjanji akan mencintai Ello seperti Ello mencintainya.
"Thania....aku berjanji akan menyayangimu menjagamu dan mencintaimu seumur hidupku. Aku berjanji takkan ku biarkan satu orang pun menyakitimu, jangan pernah pergi dariku." ucap Ello lalu menghampiri Nia yang tengah duduk dan menangis di kursi pelamin.
"aku juga mencintaimu El, aku janji takkan pergi darimu kecuali pergi menghadap sang pencipta. Kau juga harus berjanji takkan pernah meninggalkanku," ucap Thania dengan sesegukan.
"mana mungkin aku meninggalkan wanita yang begitu aku cintai dan wanita itu pun mencintaiku," Ello memeluk erat wanita yang kini sudah menjadi muhrimnya.
Bu Sanjaya menangis melihat anak yang beliau tahu tak pernah bersikap manis pada wanita, kini dia bisa membuat dirinya tersentuh atas perlakuan Ello pada Nia.
"Pa...Mama kira Ello hanya berpura pura, agar bisa menghindar dari perjodohan Mama. Ternyata dia begitu mencintai gadis itu, Mama jadi merasa bersalah pada Ello..." ucap Bu Sanjaya dan bersandar di bahu suaminya.
"kamu harus minta maaf pada mereka, itu pelajaran buat Mama. Apa yang menurut kita baik belum tentu itu yang terbaik untuk anak kita Ma, jangan pernah mencampuri urusan pribadi anak anak lagi!" tegas Pak Sanjaya.
"iya Pa, Mama akan minta maaf pada mereka. Mama takkan lagi mencampuri urusan mereka, semoga mereka bahagia selalu."
"Aamiin"
__ADS_1
Acara berlangsung lancar hingga akhir acara tanpa ada hambatan, Pak Ilham sangat bahagia. Tadinya beliau cemas karena Pa Ratno menghubunginya, beliau memberi tahu jika Alan sudah tahu di mana Pak Ilham dan Nia tinggal. Namun dia belum tahu jika Nia telah di pinang oleh pria yang begitu dia benci.