Antara Aku Dan Maduku

Antara Aku Dan Maduku
Part 52. Bertemu Nenek


__ADS_3

Hari hari Alan di penuhi rasa kecemasan, karena sampai detik ini dia belum menemukan keberadaan Nia. Bahkan dia tidak berani pulang ke rumah Ayahnya dan mencari Nia di sana. Dia takut jika Ayahnya akan semakin marah dengannya, karena dia sudah membuat Nia ketakutan sehingga Nia menghilang.


"apa aku harus pulang ke Bandung, siapa tahu Nia ada di sana. Aku yakin Nia tidak mungkin bisa mendapatkan pria selain aku...," gumamnya penuh percaya diri.


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Satu bulan sudah Nia dan Pak Ilham tinggal di rumah Pak Ratno. Nia dan Pak Ilham membuka kedai kopi di kota yang jaraknya sekitar setengah jam dari rumah yang mereka tempati. Namun jarak tak membuat Nia dan Pak Ilham patah semangat, mereka begitu menikmati kehidupan baru di kota Jogja.


Karena mereka asli Bandung, mereka menambah Seblak, rujak cireng dan Cuanki di menu makanan kedai tersebut. Kedai yang baru sebulan buka, sudah memiliki banyak pelanggan. Nia dan Pak Ilham merasa senang, karena menu di kedai miliknya begitu di terima oleh banyak orang, entah tua atau pun muda di kota itu.


Saat sore hari, Nia dan Melly pamit pada Pak Ilham untuk jalan jalan sebentar ke sebuah taman di dekat kedai. Mereka berjalan santai menuju taman, taman terlihat ramai saat sore hari.


Nia dan Melly membeli minuman kaleng dan menikmatinya dengan duduk di sebuah kursi yang terlihat kosong. Di belakang mereka, terdengar seseorang sedang menangis sesegukan.


"hay...Nek, Nenek kenapa?" Nia memberanikan dirinya untuk bertanya. Dia merasa kasihan melihat nenek itu menangis sedih sendirian di taman itu.


"Nenek tidak apa apa Cu...," jawab Nenek. Beliau menunduk dan mengusap lembut air matanya.


Nia tersenyum dan mengerti, dia merasa Nenek itu sedang ada masalah yang berat. Dan dia tidak berani mencampuri masalah Nenek tersebut. Beliau terlihat seperti orang berada, karena beliau ternyata di kawal oleh supirnya yang tengah duduk agak jauh dari Nenek.

__ADS_1


"apa Nenek boleh cerita...?" tanya Nenek ragu. Nia dan Melly saling menatap, Nia tersenyum dan mengangguk.


Nenek itu pun menceritakan masalah keluarganya, beliau begitu kecewa terhadap menantunya. Karena menantunya memaksa cucunya untuk mau di jodohkan dengan gadis pilihannya. Nenek itu menginginkan cucunya memilih sendiri pasangan hidupnya.


Nia mengerti perasaan Nenek itu, karena dia juga pernah merasakan di posisi tersebut. Di jodohkan dan tidak di cintai pasangan itu sangatlah menyakitkan, mungkin Nenek itu takut jika wanita itu akan tersakiti karena cucunya tidak mencintai wanita itu.


"sebuah hubungan berumah tangga jika tidak ada pondasinya, maka rumah tangga itu akan mudah retak....," ucap sendu Nenek.


"Nia paham Nek, namun tidak semua hubungan perjodohan akan mudah retak. Jika Allah mengijinkan, rumah tangga itu akan berdiri kokoh dengan tumbuhnya cinta sebagai pondasi dari mereka masing masing...," ucap Nia.


Karena memang tidak semua perjodohan akan berakhir begitu saja, karena ada juga perjodohan yang akhirnya bisa saling mencintai. Dan cinta itu pun tidak bisa di robohkan oleh apa pun.


"Mars...," gumam Nia. Dia seperti pernah mendengar nama itu.


"dia begitu sibuk dengan pekerjaanya, sampai melupakan dirinya sendiri. Hingga Mamanya berinisiatif menjodohkanya dengan wanita grandong itu." ucap Nenek itu dengan nada kesalnya.


"apa Cucu Nenek keberatan dengan perjodohan itu?" tanya Nia hati hati.


"tentu saja dia keberatan, dia masih ingin mengejar karirnya. Dan dia juga ingin mencari cinta sejatinya sendiri, tanpa di campuri oleh siapa pun...!" jawab Nenek itu.

__ADS_1


"maaf Nek, Nia tidak bisa memberi saran apa pun. Karena Nia juga pernah tersakiti karena perjodohan," jawab Nia jujur. Karena dia takut jika dia memberi saran yang salah pada Nenek.


"kamu di jodohkan?" tanya nenek itu terkejut.


Nia juga menceritakan luka karena di jodohkan dengan pria egois seperti Alan. Nenek itu merasa iba dengan nasib Nia, beliau juga menghawatirkan cucunya kelak akan sakit hati seperti Nia. Karena beliau tahu jika wanita pilihan menantunya itu mempunyai sifat yang begitu buruk.


"tapi kamu masih beruntung, karena kamu janda tanpa anak Nak," ucap Nenek itu sambil mengusap lembut kepala Nia yang tertutup kerudungnya.


"bagaimana bisa punya anak Nek, karena dulu Mas Alan tak pernah menyentuhku Nek," gumam Nia dalam hati.


"hari sudah semakin sore Nek, Nia dan Melly pulang dulu ya Nek. Jika lain hari Nenek ada waktu, jangan lupa mampir di kedai kami ya Nek..." ucap Nia.


"Nenek pasti mampir!" ucap Nenek dengan tersenyum.


Nia dan Melly pun meninggalkan Nenek itu di taman itu sendirian. Nia merasa Nenek itu begitu menyayangi cucunya, karena terlihat jelas pancaran kesedihan di wajah Nenek itu.


***


Di tempat lain, terlihat seorang pria sedang berbicara dengan ponselnya.

__ADS_1


"iya Oma, lusa Mars akan pulang menemui Oma." ucap pria tersebut, lalu mematikan ponselnya dan memasukan ponsel tersebut ke kantong celananya kembali.


__ADS_2