Antara Aku Dan Maduku

Antara Aku Dan Maduku
Part 118. Makan Pasta


__ADS_3

"Nia sayang.." Teriak Mama yang langsung memeluk Nia saat di depannya.


"Tumben sekali.." ketus Ello.


"Mama sudah semingguan gak menemani Nia, Mama sibuk menemani Tantemu. Jadi Mama sangat merindukan menantu dan calon cucuku." Ucap Mama dan gantian mengusap lembut perut Nia.


"Lebay.." Letus Ello kembali. "Ayo masuk Sayang, kamu sudah lelah dan harus istirahat." Ucap Ello dengn merangkul Nia dan mengajak masuk kedalam rumah. Dan Ello meminta Bibi untuk membawa belanjaannya kedalam rumah.


"Kalian dari mana? Kita sampai lelah menunggu kalian pulang." Ucap Oma


"Habis periksa kandungan sama belanja keperluan baby, kenapa menunggu kita pulang." Ketus Ello.


"Kenapa tidak mengajak kita? Kamu ini El..selalu saja ketus pada kita." Gerutu Mama.


"Nia takut ngerepotin Oma sama Mama."


"Bagaimana gak ketus coba, kalian pasti akan membuat kerusuhan di rumahku." Ucap Ello.


"Kamu itu El, curiga saja sama kita. Kita tidak akan pernah merasa repot untuk menemanimu di rumah atau pun periksa kandungan Nia."


"Jika Mama dan Oma ikut Nia periksa kandungan, yang ada seluruh pasien rumah sakit akan keganggu."


"Mereka tidak akan terganggu, mereka pasti akan terhibur dengan kehadiran Oma dan Mama..iya kan Ma?" Tanya Mama pada Oma.


"Kalau ada kamu pasti terganggu, kalau ada aku mereka gak akan terganggu." Sahut Oma.


"Mama ini selalu memuji diri sendiri." gerutu Mama dengan mulut yang komat kamit.


"Wah..belanjanya banyak sekali, boleh Mama melihatnya?" Tanya Mama saat melihat paper bag belanjaan Nia dan Ello yang baru saja Bibi letakkan di sofa ruang tengah.


"Gak boleh!" Sahut Ello.


"Pelit.."


"Biarin," sahut Ello kesal.


"Kandungan Nia baik baik saja kan?" Tanya Oma.


"Alhamdulillah baik Oma, babynya sehat dan sangat aktif. Berat badannya juga bagus," Jawab Nia.

__ADS_1


"Alhamdulillah, Mama sudah gak sabar menggendong cucuku."


"Kalau berat badan babynya bagus dan baik baik saja, kenapa perut kamu sebesar ini Nia? Kamu jangan terlalu banyak makan, di kontrol pola makannya."


"Iya Oma..tadi dokter juga sudah kasih Nia peringatan agar mengontrol nafsu makannya." Jawab Nia berbohong.


"Bayinya laki laki atau perempuan?" Tanya Oma penasaran, karena Ello dan Nia selalu merahasiakannya.


"Itu rahasia, nanti Oma dan Mama akan tahu sendiri jika sudah lahir." Sahut Ello dengan mengusap lembut perut Nia.


"Astaga..mereka itu begitu pelit, pingin tahu laki laki atau perempuan saja gak di kasih tahu. Sungguh terlalu.." Ucap Mama mendengus kesal.


"Pernikahan Zac dan Lena siapa yang mengurusnya Ma?" Tanya Nia mengalihkan.


"Mama," jawabnya singkat.


"Jangan jutek pada istriku," ucap Ello.


"Iya maaf, pernikahan Zac dan Lena yang mengurus Mama. Tante Binti kan masih lemah, jadi dia meminta Mama yang nyiapin semuanya." Jawab Mama lesu.


"Baguslah..semoga keadaan Tante lekas membaik," sahut Ello.


"Kucing sama tikus gak bakalan bisa akur," celetuk Oma.


"Contohnya Oma dan Mama..iya kan?" Ucap Ello dengan mengedipkan kedua matanya.


"Kamu ngatain Oma dan Mamamu kucing dan tikus." Teriak Mama berdiri dari duduknya dan berkacak pinggang pada Ello.


"Bukan aku yang bilang tapi Mama sendiri yang bilang kan," jawab Ello.


"Kapan Mama ngomong jika Oma dan Mama seperti kucing dan tikus," geram Mama.


"Itu dua kali ngomongnya," jawab Ello enteng.


"Ello kamu itu menyebalkan," ucap Mama dengan melempar bantal sofa pada Ello.


"Sakit Ma..tega sekali sama anak sendiri,"


"Anaknya saja tega sama Mamanya,"

__ADS_1


Mereka pun melanjutkan obrolan dan canda rianya. Kehangatan yang selalu tercipta di keluarganya, dan selalu melengkapi satu sama lain.


.


.


.


Malam harinya mereka duduk di meja makan, karena Nia seharian lelah karena banyak beraktifitas. Dia hanya membuat pasta untuk makan malam Oma, Mama dan Ello.


"Kenapa kamu itu selalu saja enak jika membuat makanan apa saja Nia." Ucap Mama.


"Ya jelas dia itu anak yang mandiri pintar ga manja sepertimu, jadi dia selalu pandai memasak."


"Maksudnya kalau anak manja itu gak bisa masak gitu?" Tanya Mama.


"Betul.." Sahut Oma.


"Itu bukannya sama dengan Mama, manja.." Sahut Mama gak mau kalah.


"Bisa tidak jangan berdebat di meja makan, tinggal makan saja susah banget. Sama sama manja dan gak bisa masak saja suka salah salahan." Ucap Ello.


"Kalau ngomong benar benar menohok hati kamu itu Mars." Ucap Oma.


"Jangan dengarkan Ello Oma, dia hanya bercanda." Ucap Nia menengahi.


"Aku gak bercanda, aku bicara sesuai kenyataan loh." Sahut Ello.


"Babang sayang, bisa gak sih sedikit berbohong biar Oma dan Mama itu sedikit merasa senang." Bisik Nia.


"Gak bisa, aku orangnya gak bisa berbohong!"


"Semoga cicitku gak seperti Ayahnya yang suka ceplas ceplos kalau ngomong." Ucap Oma.


"Ha..ha..Oma lupa, ini itu keturunan dari Oma loh." Sahut Ello.


"Mars..." geram Oma dengan memanyunkan bibirnya.


Semua pun tertawa bahagia di meja makan dan menghabiskan hidangannya.

__ADS_1


"Keluarga aneh..untung gak serumah, kalau serumah pasti aku ikut ikutan jadi aneh seperti mereka. Bentar berantem, bentar ketawa tawa." Gumam Bibi yang sedari tadi melihat perdebatan keluarga Tuannya.


__ADS_2