Antara Aku Dan Maduku

Antara Aku Dan Maduku
Part 77. Suami impian


__ADS_3

Pukul 04.00.WIB, seperti biasa setelah melakukan aktivitas malam mereka. Mereka beranjak ke kamar mandi, sehabis mandi bersama, mereka menjalankan sholat subuh berjamaah dan melantunkan Ayat Suci bersama.


"shadhaqallahul 'adziim...." mereka pun mengakhiri membaca Al-Qur'an. Nia melipat mukena sedang Ello merapikan kitab suci dan meletakkan kembali ke atas nakas. Rumah tangga yang begitu Nia impikan selama ini, mendapat Imam yang sempurna. Selalu menuntunnya di jalan kebenaran, selalu memuliakan dirinya.



"sayang...kira kira, anak kita nanti laki laki atau perempuan?" tanya Ello yang kini meletakkan kepalanya di atas paha Nia. Dia mengusap dan mencium lembut perut rata Nia.


"entah itu laki laki atau perempuan, itu sama saja. Itu anugerah dari sang pencipta, jadi kita tinggal terima apa yang akan di berikan!" jawab Nia sembari mengelus lembut rambut Ello.


"kita USG saja, biar kita tahu jenis kelaminnya. Jadi kita nanti bisa persiapkan barang barang yang cocok untuk anak kita!"


"Ello sayang...kehamilanku baru enam minggu. Kalau di USG, ya belum kelihatan laki atau perempuannya!" jawab Nia sembari mencubit gemas kedua pipi suaminya.


"cubitanmu membuat hatiku berdansa riya..." bisik Ello di dekat telinga Nia. Nia langsung menegakkan kepalannya, lalu memberi pukulan kecil pada Ello.


"berhenti membuat rayuan, lanjut bicarakan tentang anak kita saja..." ucap Nia.


"oh...iya, nanti kalau anak kita sudah lahir. Kamu pinginnya di panggil apa?" tanya Ello.


"aku gak mau di panggil Mama, aku maunya di panggil Bunda saja..." jawab Nia.


"baiklah...kira kira anak kita panggil Oma apa ya...?" tanya Ello sambil berfikir.


"kalau itu, kamu nanyanya sama Mama dan Oma. Mereka pinginnya di panggil apa!" jawab Nia.

__ADS_1


"oke...nanti, kita tanyakan saja pada Oma Oma rempong!"


"aku mau bicara soal Oma dan Mama, boleh...?" tanya Nia.


"bicaralah aku akan mendengarnya..." jawab Ello, dia bangkit dari pangkuan Nia dan duduk di sampingnya.


"sayang, lebih baik kamu bilang sama Mama dan Oma. Agar pagi ini mereka tidak perlu ke sini, aku bisa di rumah sendirian. Kan ada Mbak," ucap Nia. Dia tidak ingin terlalu di manja oleh Mama dan Oma. Hingga dia tidak bisa bergerak bebas.


"memangnya kenapa? Kemarin aku sudah peringatin Mama dan Oma, agar mereka tidak membuat keributan yang bisa membuat kamu stres." ucap Ello, Nia menatap tajam pada suaminya.


"kenapa kamu menegur Oma dan Mama, pasti Mama dan Oma mikir jika aku orangnya suka mengadu!" ucap Nia lemas. Dia pikir, kalau mengatakan semua pada Ello. Ello akan melarang Oma dan Mama menemaninya lagi, ternyata Ello mengadukan semua pembicaraan Nia pada mereka.


"aku cuma menegur Oma dan Mama agar tidak terlalu banyak melarang kamu bergerak dan tidak bertengkar di depanmu, aku tidak mengatakan jika itu aduanmu. Nia sayang....mereka hanya ingin memastikan kamu dan anak kita baik baik saja, aku harap kamu memahami. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu padamu seperti yang di alami Lala," ucap Ello memeluk dan mengusap lembut punggung Nia.


"aku sudah lapar...." ucap Ello mengalihkan.


"ya sudah, kamu rapi rapi. Biarku bantu!"


Ello pun memakai pakaian kerjanya, yang di bantu Nia memakaikan dasinya kemudian jasnya. Lalu Nia memakai kerudungnya kembali, setalah rapi dia membawakan tas kerja Ello.


Mereka pun keluar untuk sarapan, seperti biasa Pak Ilham sudah menunggu mereka di meja makan. Mereka pun menikmati sarapan pagi dengan tenang, dan suasana tenang itu. Terganggu dengan kegaduhan Oma dan Mama yang sudah datang.


"selamat pagi semua...." sapa Oma dan Mama bersamaan.


"selamat pagi...."

__ADS_1


"Oma dan Mama, pagi sekali datangnya? sudah sarapan?" tanya Ello dengan mengeryitkan dahinya.


"sudah....Oma sama Mama, ingin mengajak Nia pergi belanja. Jadi harus pagi pagi datang ke sini...." jawab Bu Sanjaya.


"belanja ke mana?" tanya Ello penasaran.


"sudah tenang saja, Oma dan Mamamu pasti akan menjaga Nia dengan baik. Kau kerja saja dengan tenang," sahut Oma.


"iya Mars percaya Oma, tapi belanja apa dan kemana?"


"ke butik langganan Oma!" jawab Oma cepat.


"baiklah, jangan menyusahkan Nia!" Ello tahu betul sifat Oma dan Mamanya yang suka bertengkar, meski itu berebut hal hal kecil.


"iya.." jawab Oma dan Bu Sanjaya bersamaan.


Selesai sarapan, Ello dan Pak Ilham berangkat dan di ikuti oleh Melly. Tak lupa Nia mencium punggung tangan suami dan Ayahnya. Ello juga tidak lupa mencium pucuk kepala Nia dengan lembut. Sepergian mereka kerja, Nia masuk ke kamar dan bersiap siap untuk pergi bersama Oma dan Mamanya.


"ingat kata kata Mars, jangan membuat keributan!" ucap Oma dengan menunjukkan jarinya pada Bu Sanjaya.


"Mama juga harus mengingatnya, jangan bisanya cuma kasih tahu orang saja!" Bu Sanjaya tak mau dirinya di salahkan.


"diam kamu...." bentak Oma, Bu Sanjaya pun menurut dan diam.


"nenek nenek pinginnya menang sendiri," umpat Bu Sanjaya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2