
Setelah kejadian di Mall beberapa hari yang lalu, yang sempat membuat Nia malu dan sedikit ketakutan. Alan hanya bisa menyesali perbuatannya, seharusnya dia tidak memperburuk hubungannya dengan Nia. Seharusnya dia membuat cara bagaimana Nia bisa memaafkannya.
Kini dia berada di ruang kerjanya, dia duduk bersandar di kursinya. Dia menatap langit langit ruang kerjanya, dia tampak memikirkan sesuatu.
"Nia, aku tidak bermaksud untuk membuatmu malu di depan umum. Aku hanya tidak suka kamu berduaan dengan pria itu, apa lagi menjalin hubungan lebih dari sahabat!"
"agrhhhhhhh....," Alan putus asa dengan keadaan ini. Karena egonya yang terlalu tinggi membuat Nia meninggalkan dirinya. Cinta yang malu ia ungkapkan karena egonya, kini tidak akan bisa di satukan. Karena Nia tidak akan bisa mengubah keputusannya walau ada cinta di antara mereka.
Dia mengabaikan beberapa panggilan dari Lala, hingga Lala mengirim pesan pun tak juga dia baca. Lala pun mencemaskan Alan, hingga waktu istirahat kerja Lala menghampiri Alan di Kafe pusat.
Sesampainya di Kafe, Lala langsung menuju ruangan Alan. Karyawan Alan tahu jika Lala adalah istrinya, namun mereka tidak tahu jika Alan mempunyai dua istri. Karena Alan tidak pernah membawa Nia ke Kafe, Distro ataupun Resort miliknya. Dia selalu membawa Lala, dan karyawan mengira jika Lala adalah wanita yang sudah di jodohkan Pak Ilham.
"Mas, kamu kenapa di hubungi dari tadi gak di angkat. Aku kirim pesan pun tidak juga kamu baca?" protes Lala saat dia masuk ke dalam ruang kerja Alan.
"ada apa?" jawab Alan enteng. Dia tidak menatap Lala, dia masih menatap ke atas.
__ADS_1
"aku mencemaskanmu Mas, beberapa hari ini kamu diamkan aku. Bahkan kamu berangkat kerja tidak pernah sarapan di rumah, pulang pun tidak mau makan. Jika aku ada salah, aku minta maaf Mas!" ucap Lala. Dia menatap sendu pada Alan, dan Alan pun hanya menghela nafasnya dengan berat.
"kamu tidak salah, aku hanya sedang tidak berselera makan. Dan banyak pekerjaan!" ucap Alan.
"kamu bohong Mas," ucap Lala.
"kamu jangan membuatku semakin pusing La," bentak Alan. Dia menggebrak meja hingga Lala terloncat kaget. Alan yang melihat Lala meneteskan air mata, langsung menurunkan emosinya.
"maafkan aku!" ucap Alan. Dia merangkul Lala dan mengajaknya duduk di sofa.
Lala pun mengerti, dan dia pun mengajak Alan untuk makan siang bersama. Setelah makan siang Alan dengan terburu buru mengantarkan Lala ke kantor tempat Lala kerja. Lalu dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia sampai di depan restaurant milik Ello. Matanya memancarkan kemarahan pada seseorang yang tengah duduk di meja Restaurant.
"Nia, akan ku buat kau mengurungkan niatmu!" gumam Alan dengan seringai di wajahnya.
Saat Lena dan Nia keluar dari Restaurant tangan Nia langsung di tarik oleh Alan dan Lena pun di dorong Alan hingga dia terjatuh. Dengan gerakan cepat Alan menggendong Nia masuk dan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Nia pun berontak, namun Alan membekap Nia dengan sapu tangan hingga Nia tak sadarkan diri.
__ADS_1
Lena yang melihat Alan membawa Nia dengan begitu cepat. Dia langsung menghubungi Ello, tapi panggilannya tidak di angkat oleh Ello. Namun Lena terus menghubunginya, dia khawatir Alan akan melakukan sesuatu pada Nia.
"sialan kamu Al, jika terjadi sesuatu pada Nia. Kau tak akan ku beri ampun," geram Lena sambil menatap mobil Alan yang semakin jauh.
Di dalam mobil, Alan terus menatap Nia dengan seringai di wajahnya. Dia melajukan arah mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hingga dia sampai di Resort Nilan, salah satu Resort mewah di kota Tangerang yang terletak tak jauh dari pantai. Resort miliknya yang baru saja dia buka satu bulan ini.
Alan mengangkat Nia yang masih tak sadarkan diri, dia menuju kamar Resort yang memang di buat khusus untuk pemilik Resort. Dia membaringkan tubuh Nia di atas ranjang, Nia pun segera tersadar dari pingsannya. Saat ini Alan benar benar kehilangan akal sehatnya, dia hanya berfikir bagaimana caranya agar Nia tidak menceraikannya. Karena kini dia benar benar sudah mencintai Nia.
"aku di mana," gumamnya dengan memijat kepalanya yang terasa pusing. Dia melihat seluruh ruangan kamar, dia mencoba mengingat kembali kejadian tadi hingga dia sampai di sini.
"Mas Alan," gumamnya kembali. Dia melihat Alan yang jalan menghampirinya dengan tersenyum penuh kemenangan.
"Nia sayang...," ucap Alan dengan seringainya.
"mau apa kamu Mas?" ucap Nia. Dia berjalan mundur agar Alan tidak mendekatinya. Hingga dirinya tersandung kaki ranjang dan terjatuh di atas ranjang.
__ADS_1
Alan tersenyum dan terus berjalan mendekati Nia yang terbaring di atas ranjang.