Antara Aku Dan Maduku

Antara Aku Dan Maduku
Part 53. Berjumpa Dengan Mars


__ADS_3

Beberapa hari kemudian kini waktu menunjukan pukul 13.00.WIB, di Kedai Kopi Una Putri. Terlihat sedang ramai pengunjung. Nia dan dua karyawannya terlihat kwalahan, karena Melly hanya bisa membantunya saat sore hari sepulang kuliah.


Nia tetap tersenyum pada semua pengunjung, meski dirinya terlihat lelah. Pak Ilham semakin salut pada Nia, dia bukan hanya wanita berhati kuat. Dia juga wanita yang kiat dalam bekerja, tidak pernah mengeluh walau kelelahan.


"apa kita cari karyawan lagi Nak?" tanya Pak Ilham saat Nia sedang membuatkan kopi pesanan pengunjung.


"tidak usah Yah, Nia dan yang lain pasti bisa melayani pengunjung. Ayah tenang saja..." ucap Nia.


"apa kamu yakin Nak?" tanya Pak Ilham.


"Nia yakin Yah...." jawab Nia.


"Mbak, ada tamu yang mencari Mbak Nia!" ucap Atin salah satu karyawan Nia.


"siapa Tin?" tanya Nia.


"katanya Oma Carolien Mbak...," jawab Atin.


"Oma Carolien...," gumam Nia.


"Nia temui tamu dulu ya Yah...," ijin Nia pada Pak Ilham. Beliau mengangguk, Nia pun menemui orang tersebut.


"Tin, aku tinggal menemui tamuku sebentar ya" ucap Nia. Karena pelanggan masih berdatangan, namun tidak sopan jika dia tidak menemui tamunya tersebut.


"siap Mbak. Mbak Nia tenang saja!" jawab Atin bersemangat.

__ADS_1


Nia berjalan menghampiri Oma Carolien yang tengah duduk sendirian, Nia mempercepat langkahnya.


"Nenek...," ucap Nia terkejut.


"hallo Nia...," ucap Oma Carolien sambil menatap gadis ayu itu.


"Nia kira Nenek gak akan mau mampir ke kedai Nia ini,"


"panggil saja Oma ya..," pinta Oma Carolien.


"baik Ne..., Oma.." ucap Nia gugup.


"Oma kan sudah bilang, kalau Oma pasti akan mampir. Suasananya nyaman, apa kamu yang mendesain tempat ini?" tanya Oma dengan melihat seluruh sudut kedai Nia.


"iya Oma, walau kecil tapi ini sudah membuat Nia dan Ayah Ilham bersyukur. Karena bisa memulai mencari rejeki di kota yang baru kita singgahi ini Oma..." ucap Nia. Oma tersenyum dan merasa kagum dengan sosok Nia yang jujur dan apa adanya.


"Ello..." pekik Nia saat melihat Ello berada di kedai miliknya.


"Nia..., kau di sini. Aku dan Lena mencemaskanmu, karena kamu tak memberi tahu pada kami dimana kau tinggal. Syukurlah kalau kamu baik baik saja," Ello bersyukur karena Nia baik baik saja.


"kalian sudah saling mengenal?" tanya Oma bingung namun juga merasa senang.


"kami bersahabat semenjak kuliah Oma, apa wanita yang Oma ceritakan tadi itu Nia...." tanya Ello penasaran.


Karena Omanya selalu memuji muji wanita berkerudung yang baik dan jujur akan jati dirinya yang sudah janda.

__ADS_1


"hemm...tapi kamu sudah mengenalnya. Jadi Oma tak perlu mengenalkan kalian" ucap Oma. Ello pun terkekeh karena Omanya merasa kecewa saat ingin mengenalkan seorang gadis namun sudah saling mengenal.


"di mana Ayah mertuamu?" tanya Ello penasaran. Karena dia belum pernah bertemu dengan Pak Ilham, dia ingin mengucapkan terima kasih karena beliau sudah begitu baik kepada Nia.


"sebentar aku panggilkan...," ucap Nia dan menghampiri Pak Ilham dan membuatkan sesuatu untuk Oma dan Ello.


Kini mereka berempat duduk dan berbincang bincang. Oma dan Pak Ilham pamit dan meninggalkan Nia dan Ello di kedai. Pak Ilham mengajak Oma ke taman dekat Kedai, beliau ingin Nia bisa belajar membuka hatinya untuk seseorang.


"aku tak menyangka jika Mars cucu Oma itu kamu El, pantas saja aku seperti pernah mendengar nama itu!" ujar Nia.


"Oma selalu memanggilku dengan nama Mars, karena Oma ingin aku menjadi lelaki yang hebat. Maka dari itu Restaurant dan Hotel ku bernama Mars, agar aku selalu mengingat Oma yang begitu menyayangiku!" tutur Ello dengan membayangkan wajah Omanya yang sudah tak muda lagi.


"ohh...jadi cuma kita berempat yang memanggilmu Ello?" tanya Nia.


"emm tidak juga...Mama dan Papaku juga memanggilku Ello, sama seperti kalian! Hanya Oma saja yang memanggilku Mars. Walau gak begitu nyambung, tapi aku suka dengan panggilan yang Oma buat untukku..." ucap Ello sembari menyruput kopi yang Nia buatkan.


Karena menurut Ello memanglah tidak terlalu nyambung nama Marcello di panggil Mars, namun Ello begitu menyukai panggilan dari Omanya.


Ello menceritakan masa kecilnya yang selalu di perhatikan Omanya, karena Mama dan Papanya sibuk dengan dunia bisnis masing masing. Karena itulah Ello lebih mengutamakan Omanya di banding kedua orang tuanya,.


Oma juga yang selalu mendukung keputusan Ello, terutama tentang bisnis Ello yang sekarang ini. Meski Ayahnya menentang Ello berbisnis sendiri, namun berkat Oma dia bisa bertekad untuk memulai bisnisnya.


Mereka mengobrol hingga lupa jika Oma dan Pak Ilham belum kembali ke kedai. Nia menghawatirkan Pak Ilham, dan dia mengajak Ello menghampiri Ayah dan Oma ke taman.


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ

__ADS_1


"syukurlah, Ayah baik baik saja..." ucap Nia sambil mengelus dadanya. Saat melihat Pak Ilham duduk dan mengobrol dengan Oma, terlihat seperti Anak dan Ibunya.


"kamu begitu menghawatirkan Om Ilham," ucap Ello. Nia tersenyum manis, sedang Ello merasa bingung dengan sikap sahabatnya yang begitu peduli dengan mantan Ayah mertuanya itu.


__ADS_2