Antara Aku Dan Maduku

Antara Aku Dan Maduku
Part 94. Singa kawakan


__ADS_3

Pukul 04.00.WIB, seperti biasa sehabis mandi Junub dan melaksanakan Sholat Subuh. Pasangan suami istri itu mengaji hingga pukul 05.30.WIB, dan selesai mengaji. Nia melipat mukena dan sajadah, sedang Ello meletakkan Al-Qur'an ke atas nakas kembali. Kemudian mereka berdua turun ke lantai bawah, Ello duduk di ruang tengah sedang Nia menuju kamar tamu yang di tempati oleh Lena.


Kini Nia dan Lena melangkah menuju dapur untuk memasak sarapan. Nia selalu memasak sendiri yang di bantu oleh Bibi, bukannya Nia tidak suka masakan Bibi. Karena dia suka memasak dan tidak punya kegiatan lain, dia memilih mengambil alih kerjaan masak Bibi.


Masakan sudah matang dan telah di hidangkan di meja makan, mereka pun menikmati sarapan pagi. Selesai sarapan mereka kembali ke ruang tengah, menyaksikan acara pagi kesukaan Nia setelah hamil. Dan Bibi mengantarkan minuman pada mereka.


"Makasih Bi," Ucap Nia lembut.


"Sama sama Nyonya.." Sahut Bibi sambil menaruh minuman satu per satu ke atas meja


"Oh..iya sayang, semalam yang kalian tuduh Mbak kunti itu Bibi.."


"What..Bibi..?" Pekik Ello dan Lena bersamaan.


"Iya Tuan maaf, semalam Bibi lagi maskeran dan keluar ambil air minum di dapur." Ucap Bibi menundukan kepalanya.


"Astaga, aku pikir rumah Sultan ada hantunya." Seloroh Lena.


"Gak nyangka bar bar takut jurig." Ketus Ello.


"Gak nyangka Sultan takut setan," ucap Lena tak mau kalah.


"Kalian berdua sama sama penakut, dan kau sayang..jika yang muncul itu setan beneran dan aku di culik bagaimana. Kau tega meninggalkanku begitu saja," protes Nia dengan berkacak pinggang.


"Maafkan aku sayang, aku tahu itu Bibi. Makanya aku tinggalin kamu,"


"Alasan saja, aku aduin pada Oma dan Mama!" Ancam Nia.


"Jangan sayang, apa kamu tega aku di mangsa dua singa kawakan?" Ucap Ello memelas.

__ADS_1


"Aku tidak peduli, kamu saja tega sama aku." Ketus Nia dengan bersedekap.


"Kau ini, dari film hollywood turun ke film aneh seperti ini!" Gerutu Lena di tengah tengah perdebatan Nia dan Ello.


"jangan banyak protes, apa pun yang Nyonya Ello tonton, ikuti saja. Tamu banyak protes," ketus Ello yang merangkul Nia.


"Apanya yang aneh, aku suka acara anak anak Len. Acara seperti ini sangat lucu dan menggemaskan, nanti di chanel lain ada lagi yang lebih menggemaskan. Walau itu acara dari kita masih pakai seragam putih abu abu. Dan mereka masih tetap TK, itu acara nomer satu di hatiku." Ucap Nia gemas.


"Sejak kapan istrimu menyukai acara seperti itu El?" Tanya Lena.


"Sejak hamil sepertinya," sahutnya.


"Jangan berisik, tinggal nonton apa susahnya." Ketus Nia yang masih asyik menonton acara pagi.


"Selamat pagi Nyonya dan Tuan Ello..." Seru Mama yang sudah datang bersama Oma, dan langsung duduk di sofa lainnya.


"Pagi Lena.."


"Pagi juga Oma..Tante.."


"Kau kenapa El? Muka di lipet lipet seperti itu, apa kamu tidak pergi kerja?" Tanya Mama yang melihat Ello duduk santai dan menampakan muka masam pada Oma dan Mama.


"Hari ini aku tidak ke kantor, nanti siang baru berangkat sama Lena. Dan kenapa Mama sama Oma datang sepagi ini, apa tidak ada kerjaan di rumah kalian?"


"Tidak ada, kerjaan kita sekarang adalah menemani istrimu dan menjaganya!" Jawab Oma enteng.


"Menjaga apanya," ketus Ello dengan menyunggingkan bibirnya.


"Ah..kalian berisik, mengganggu ke asyikanku saja." Ketus Nia yang sudah terganggu oleh debatan mereka. Mereka pun langsung diam dan ikut menyaksikan acara yang Nia tonton.

__ADS_1


"Polisi gend*ng, masa iya pinteran anak kecilnya. Dan ngapain itu bocah di sebut anak kecil gak mau, jelas jelas masih bocah!" Protes Oma. Namun Nia tak menjawab karena masih asyik, setelah acara selesai dia megganti chanel lainnya.


"Astaga Nia..kamu nonton botak itu lagi!" Celetuk Mama.


"Ah..gak Oma, gak Mama, gak Lena. Protes aja dari tadi, tinggal nonton apa susahnya sih. Bikin film seperti itu susah loh, protes aja kaya' di suruh jadi pemainnya saja!"


"Tamu harus ngikutin apa yang di kata Tuan rumah!" Imbuh Ello yang tertawa puas karena Nia sudah memarahi biang rusuh.


"Tapi sepertinya mereka bisa jadi pemainnya di sini Sayang...." Ucap Ello yang membuat Oma dan yang lain membelalakan mata.


"Perasaanku jadi tidak enak Tante.." Bisik Lena pada Mama.


"Sama Len." Sahut Mama.


"Maksudnya?" Tanya Oma ragu.


"Maksudnya, Oma, Mama dan Lena jadi pemain nyata di sini. Kalian pragain jadi Upin dan kawan kawannya." Usul Ello yang berhasil membuat Oma, Mama dan Lena menelan ludahnya dengan sangat susah.


"Apa apan kamu El, ide konyol." Protes Lena.


"Wah itu ide bagus loh Len, aku jadi bisa menyaksikan adegan nyatanya!" Seru Nia dengan mata berbinar binar.


"Please..Ya Len, aku pingin banget lihat kamu jadi Ipin!" Ucap Nia memohon.


"Aku tidak mau," tolak Lena yang mau beranjak dari duduknya.


"Jika tidak mau, akan aku pecat kamu tanpa gaji dan kamu harus mengganti rugi kekecewaan istriku dengan sangat mahal." Gertak Ello yang berhasil membuat Lena terduduk kembali.


"Ha..ha..Si bar bar akhirnya mau menuruti ide ini!" Bisik Ello senang di telinga Nia.

__ADS_1


__ADS_2