Antara Aku Dan Maduku

Antara Aku Dan Maduku
Part 74. Oma dan Mama yang posesif


__ADS_3

Alan sudah sampai di kedai milik Pak Ilham, dia ragu untuk keluar dan masuk kedalam kedai. Dia takut Ayahnya akan marah marah lagi padanya, dan dia juga takut Ayahnya semakin membencinya. Setelah beberapa saat setelah mengumpulkan keberanian, Alan pun keluar dari mobil. Dia melangkah menemui Pak Ilham di dalam kedai, saat melihat Ayahnya yang tengah sibuk di meja kasir. Alan meneteskan air matanya, dia tak kuasa melihat tubuh tua Ayahnya.


"dulu Ayah selalu melindungiku dan Ibu, Ayah juga menjaga kami dengan baik. Tapi sekarang apa balasan dari pengorbanan Ayah dariku, aku tidak pernah membuatnya bahagia. Justru aku selalu membuat Ayah kecewa dan membuat beliau malu karena sikapku yang kekanak kanakan. Apa aku masih pantas mendapatkan maaf dari beliau?" Alan berdiri dan masih menatap Ayahnya dengan penuh rasa bersalah.


Alan melangkah mendekati Ayahnya, di meja kasir.


"Assalamu'alaikum Ayah...." sapa Alan santun.


"Wa'alaikumsallam," jawab Pak Ilham datar saat melihat siapa orang yang memberinya salam.


"apa hari ini Ayah sibuk?" tanya Alan lembut mencoba sebiasa mungkin.


"maaf, saya sedang sibuk. Jika ada perlu dengan saya, lebih baik lain waktu saja." ucap Pak Ilham formal tanpa melihat ke arah Alan.


"Ayah, Alan ingin bicara sebentar dengan Ayah!"


"tolong pahami ucapan saya tadi, dan tolong jangan membuat keributan di tempat ini..." lagi lagi Pal Ilham berbicara tanpa menatap wajah anaknya.


"baiklah Yah, Alan akan menunggu sampai Ayah mau berbicara denganku." Alan pun duduk di kursi pengunjung yang terletak di luar, dan menunggu Pak Ilham mau menemuinya.


Pak Ilham melihat Alan yang duduk sambil menikmati satu cup kopinya.


"untuk apa lagi kamu ke sini Al, jika hanya untuk menyakiti dan membohongi Ayah lagi. Ayah sudah kecewa denganmu, Ayah tidak akan pernah bisa percaya lagi dengan kata katamu!" batin Pak Ilham.


Beliau semakin sedih setelah mendengar perpisahan Lala dan Alan. Beliau tak menyangka anaknya akan gagal menjalani rumah tangganya dengan kedua istri istrinya. Anak yang selalu beliau banggakan, anak yang beliau kira bisa menjadi pria yang baik dan bertanggung jawab. Ternyata hanya bisa membuat dua wanita tersakiti, dan membuat beliau menahan malu atas ulah Alan.


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


"dasar menantu kejam gak tahu diri, mertua di tinggal di pinggir jalan begitu saja...." omel Oma saat melihat acara pagi kesukaannya.


"itu karma buat mertua yang sudah campakin menantu pertamanya yang baik, giliran punya menantu baru di perlakuin seperti itu. Kapokkkk....." timpal Bu Sanjaya. Oma pun tak terima, dan akhirnya mereka berdua berdebat hanya masalah sinetron. Hingga membuat Nia merasa pusing, dan Nia tidak bisa membuat mereka berhenti berdebat.


"kenapa Oma dan Mama berantem sih....mana aku gak bisa misahin mereka, secara suara mereka lebih nyaring dari suaraku ini..." gumam Nia sambil memijat keningnya yang terasa sakit.


"kenapa malah berantem sih Ma, lebih baik ganti chanel saja. Dari pada Mama baperan lihat sinetron itu, gak ada faedahnya..." ucap Bu Sanjaya kesal, dia merasa lelah sudah bertengkar dengan Ibunya.

__ADS_1


"faedahnya, biar kamu sadar. Harus membuat Mama bahagia dan tidak melakukan hal keji seperti itu..." ucap Oma tak mau kalah.


"Anne memang tidak pernah nurut kata kata Mama, bukan berarti Anne akan berbuat kejam pada Mama. Begini begini Anne juga punya perasaan Ma," sahut Bu Sanjaya kesal. "dasar Oma Oma baperan, suka nyama nyamain anaknya dengan sinetron jahat. Iya faedahnya itu ngomelin anaknya" umpat Bu Sanjaya dalam hati.


"syukurlah kalau kamu tidak seperti itu, aku harap kamu tidak berbohong."


Bu Sanjaya hanya bisa menghela nafasnya dengan berat. Lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, dan tersenyum malu pada Nia.


"Oma memang seperti itu, maafkan Mama dan Oma ya..." bisik Bu Sanjaya pada Nia.


"i...iya Ma..." ucap Nia dengan berusaha tersenyum.


Pukul 13.00.WIB.


Ello pulang ke rumah, dia ingin segera pulang karena ingin cepat cepat menemui Nia dan calon baby nya. Dengan kehamilan Nia, menjadikan Ello lebih dan lebih perhatian lagi pada istri yang dia cintai.


"Assalamu'alaikum..." sapa Ello saat memasuki rumah, membuat Nia dan yang lain kaget saat asyik menonton acara kesukaan Oma di televisi.


"Wa'alaikumsallam..." jawab mereka bersamaan.


"memangnya tidak boleh Ma?" tanya Ello yang sudah duduk di saping Nia dan bergelayut manja di pundak istrinya.


"kamu itu, pulang kerja itu jangan langsung nempel nempel sama istrimu. Ganti pakaian bebersih dulu, baru boleh dekat dekat sama istrimu..." ucap Oma sambil menarik telinga Ello.


"aw...aw...sakit Oma..." pekik Ello sambil memegang tangan Oma yang berhasil menarik telinganya.


"memangnya kenapa Oma....dia istriku dan aku sangat merindukannya, jadi Oma jangan melarangnya!" ucap Ello sambil berjalan untuk duduk kembali di sebelah Nia. Namun Oma segera menarik kerah baju Ello dari belakang.


"bocah ini ngeyele....kamu tau istrimu lagi hamil. Kamu harus menjaga kebersihan, agar istri dan calon anakmu itu selalu sehat dan terhindar dari kotoran kotaran dari luaran sana." ucap Oma.


"ribet amat Oma ini," gerutu Ello sambil berjalan ke kamarnya dengan langkah gontai. "aku mandi dulu sayang...." ucap Ello pada Nia. Nia hanya tersenyum dan diam, dia merasa lelah karena seharian hanya di suruh duduk dan mendengar perdebatan kecil antara Oma dan Mamanya.


"syukurlah Ello sudah pulang, setidaknya ada yang menemaniku mendengar Oma dan Mama berantem." batin Nia.


Setelah beberapa menit Ello pun keluar, dan kembali duduk di samping istrinya.

__ADS_1


"hallo anak Papa, hari ini para Oma Oma menjaga Mamamu dengan baik kan Nak?" ucap Ello sambil mengelus dan mencium lembut pada perut Nia yang masih terlihat datar.


"tentu saja kami menjaga Nia dengan baik, kamu meragukan Oma?" ucap Oma ketus, dan Nia hanya bisa tersenyum.


"Ello tidak meragukan Oma dan Mama, terima kasih sudah menjaga istri dan anak Ello dengan baik..." ucap Ello.


"sama sama," ucap Oma dan Bu Sanjaya bersamaan.


Ello mengajak Nia masuk ke kamar untuk istirahat, karena Nia terlihat sangat lelah. Ini pertama kalinya dia tidak melakukan aktifitas apa pun, dan hanya di suruh duduk hingga pantatnya terasa pegal pegal.


"apa Mama dan Oma merepotkanmu?" tanya Ello pada Nia yang tengah bersandar di kepala ranjang setelah melakukan sholat dzuhur berjamaah.


"jawab jujur atau berbohong?" tanya Nia datar.


"jujur, kamu mau berbohong pada suamimu?


"tentu saja tidak. Oma sama Mama terlalu posesif El, masa aku gak boleh ngapa ngapain, hanya di suruh duduk dan diam di sofa dari pagi sampai siang hari. Makan minum gak boleh ambil sendiri, ke toilet di ekori Mama. Dan masih banyak lagi...." ucap Nia sedikit menahan rasa kesalnya.


"Sayang....itu artinya, Mama dan Oma sangat menyayangimu. Dan mereka tidak ingin terjadi sesuatu padamu dan anak kita, maklum lah ini kan cucu dan cicit pertama mereka.


"aku tahu Marcello Sayang, tapi itu semua sangatlah berlebihan." ucap Nia manja, kemudian dia menceritakan semua kelakuan Oma dan Mamanya itu. Dan Ello hanya menanggapinya dengan tawa yang sangat keras.


"kamu senang istrimu kesusahan?" ketus Nia.


"bukan begitu Sayang, kamu tidak usah kaget. Memang kelakuan Oma dan Mama seperti itu, walaupun mengesalkan tapi itung itung hiburan buatmu."


"aku lelah, aku ingin istirahat...." Nia sudah lelah untuk melakukan protes pada Ello. Dan Nia pun membaringkan tubuhnya yang terasa lelah, dan memunggungi Ello.


"istirahatlah sayang...." ucap Ello sambil mengecup lembut kening Nia. Ello sebenarnya merasa kasihan pada istrinya, setelah Nia terlelap tidur. Ello pun keluar kamar dan menghampiri Oma dan Mamanya yang masih asyik menonton televisi di ruang tengah.


Ello hanya menggelengkan kepalanya, Oma dan Mamanya lagi lagi berdebat masalah acara televisi.


"Oma dan Mama itu seperti anak kecil," ucap Ello menengahi perdebatan dua wanita itu.


Ello pun menegur Oma dan Mamanya, agar tidak lagi bersikap berlebihan pada Nia. Dan tidak berdebat di depan Nia, Ello tidak ingin Nia lelah dan stres dengan kebiasaan mereka.

__ADS_1


"Oma dan Mama sudah membuat istriku pusing, jadi hukumannya Oma dan Mama harus menuruti semua kata kata Ello dan Nia!" pinta Ello dengan seringai di wajahnya.


__ADS_2