
Flash back on.
Sore hari Alan datang ke Kafe Ayahnya di bandung, dia ingin bertanya langsung pada Pak Ratno. Jika tidak juga mengaku, dia akan memaksa Pak Ratno untuk memberi tahu di mana Ayah dan Nia tinggal.
"saya ikut senang Pak mendengar Ning Nia menikah, semoga Ning Nia bisa bahagia. Saya selalu berharap Bapak dan Ning Nia bahagia dan bisa hidup tenang di Jogja," ucap Pak Ratno melalui sambungan telepon dengan Pak Ilham.
Saat Alan ingin mengetuk pintu ruangan Pak Ratno, Alan tak sengaja mendengar pembicaraan Pak Ratno dengan Ayahnya. Namun yang dia dengar hanya kalimat kalimat terakhir, dan dia tak mendengar kalimat pertama.
"jadi Ayah dan Nia ada di Jogja?" Alan masuk tanpa mengetuk pintu, dan berhasil membuat Pak Ratno kelabakan.
"Alan..." ucap Pak Ilham dari sebrang sana saat mendengar teriakan Alan.
"Aa Alan, ada..." Pak Ratno terkejut dan kata katanya langsung di potong oleh Alan.
"aku sudah dengar semua Pak, jadi jangan bohongi saya. Cepat beri tahu dimana alamat Ayah dan Nia tinggal. Atau aku akan menghancurkan semua kafe milik Ayah..." ancam Alan, Pak Ilham hanya bisa mengusap dada saat mendengar ancaman Alan. Beliau tadinya ingin berbicara namun beliau di panggil Nia untuk mengambil foto keluarga.
"baik A', saya akan kasih tahu alamatnya. Tapi saya mohon jangan menghancurkan kafe Bapak, kasihan beliau membangun semua itu dari nol. Jika Aa Alan menghancurkan apa A' Alan tak takut durhaka pada orang tua."
"diam Pak, cepat beri tahu alamatnya. Saya tidak akan menghancurkan semua milik Ayah!"
Pak Ratno pun dengan terpaksa memberi tahu alamatnya, beliau berharap Pak Ilham dan Nia akan baik baik saja. Alan pun pergi dan langsung melajukan mobilnya menuju Bandara dengan kecepatan tinggi.
Flash back off.
Alan sudah berada di Jogja, dia masih mencari alamat rumah Bu Sri dan Pak Ratno. Dia terpaksa meninggalkan Lala sendirian di rumah, dan dia tega berbohong jika ada meeting penting dan mendadak harus pergi ke luar kota.
__ADS_1
"sebentar lagi aku akan menemukanmu Nia, aku harap dengan usahaku yang terus mencarimu kau bisa membuka hatimu untukku lagi." gumam Alan sambil tersenyum licik.
"Assalamu'alaikum Yah...Nia...." ucap Alan dengan mengetuk pintu rumah Pak Ratno, namun tak mendapat jawaban.
"kenapa sepi sekali," gumamnya.
Memanglah terlihat sepi karena penghuninya sudah tidak tinggal di rumah itu, semenjak Pk Ilham membeli sebuah rumah yang tak jauh dari rumah Pak Ratno. Mereka tinggal di rumah baru, dan Melly pun ikut tiggal bersama Nia agar dia tak kesepian.
Dan saat ini Pak Ilham sedang menyaksikan pernikahan Nia dan Ello, jadi tidak akan bisa bertemu dengan penghuni rumah.
"hallo..." ucap Alan kesal saat mengangkat panggilan dari Lala.
"hallo Mas, apa sudah sampai di tempat meeting?" tanya Lala dari sebrang sana.
"kenapa dia tidak bisa mengerti aku sedikit saja, mengganggu saja..." gerutunya.
🌿🌿
Selesai acara pernikahan mereka kembali ke kamar hotel masing masing, karena Ello menggelar acara pernikahannya di gedung hotel milik Papanya. Mereka pun menempati kamar hotel yang memang khusus di bangun hanya untuk pemilik hotel di perhotelan tersebut.
"sebaiknya aku tak usah mengatakan ini pada Nia, aku takut dia kefikiran. Ini malam pertamanya dengan Ello, aku tak ingin mereka terganggu dengan berita kedatangan Alan." gumam Pak Ilham dalam hati.
❤
Di kamar lain, yaitu kamar Nia dan Ello. Mereka tengah melakukan sholat berjamaah, ini pertama kalinya Nia sholat dan di Imami oleh suaminya. Dulu saat menikah dengan Alan, tak pernah sekalipun Alan memimpin sholat.
__ADS_1
Mereka berharap bisa menjadi keluarga yang shakinah mawaddah dan warahmah.
"Nia..." lirih Ello saat Nia duduk dan bersandar pada kepala ranjang.
"hm..." jawab Nia tersenyum. Ello menghampirinya dan duduk di samping Nia.
"sini," ucap Ello mengulurkan tangannya agar Nia mau bersandar di dadanya.
Nia pun menurut dan bersandar di dada bidang Ello, terasa nyaman dan tenang berada di dekapan suaminya.
"apa bisa kita mulai sekarang?" tanya Ello hati hati dan mengusap lembut kepala Nia. Nia mengerti maksud Ello, dia merasa malu dan takut, karena ini pertama kalinya berhubungan intim.
"Insya' Allah" jawab Nia singkat.
Ello tersenyum dan memulai untuk mencium bibir Nia dengan lembut. Ciuman yang semakin dalam, dan membuat mereka menginginkan lebih dari sebuah ciuman. Ello membuka satu persatu pakaian Nia hingga dia polos tanpa sehelai benang pun yang tertinggal di tubuhnya.
"kenapa?" tanya Ello saat Nia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"aku malu El," jawab Nia jujur. Ello terkekeh mendengarnya, sejujurnya Ello tak tahu jika Nia belum pernah berhubungan intim dengan Alan. Karena hanya Lena satu satunya orang yang mengetahui tentang Nia bahkan soal dirinya yang masih virgin karena Alan tak pernah mau menyentuhnya. Karena yang Ello tahu Nia selalu di abaikan oleh Alan, dan selalu di sakiti oleh Alan. Lena tidak pernah menceritakan masalah intim pada Ello, karena dia juga merasa malu dengan cerita seperti itu pada seorang pria.
"aku suamimu, jadi kamu harus melayaniku dengan baik. Aku takkan seganas Alan," ledek Ello saat mengingat kejadian di Resort milik Alan.
Nia pun akhirnya menceritakannya, Nia fikir Lena sudah cerita pada Ello jika dirinya belum di sentuh Alan. Itu semakin membuat Nia merasa Ello begitu mencintainya apa adanya.
"aku mengatainya bejat, karena sudah rakus menikahi dua wanita sekaligus. Ternyata waktu itu kamu mau di perkosa olehnya,"
__ADS_1