Antara Aku Dan Maduku

Antara Aku Dan Maduku
Part 85. Ayah kembali ke Bandung


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


Kini mereka sudah berada di Bandara untuk mengantar Ayah. Karena hari ini Ayah akan kembali ke Bandung, suasana di sana menjadi haru. Nia menangis dalam pelukan Ayah, ingin rasanya dia menahan kepergian Ayah. Tapi dia sadar, tak seharusnya dia memaksa Ayah untuk tetap tinggal bersamanya.


"Ayah akan sering sering mengunjungimu!" ucap Ayah dengan mengusap lembut kepala Nia.


"Nia akan selalu menunggu kedatangan Ayah," ucap Nia dengan menitihkan air matanya. Dia harus berjauhan dengan sosok Ayah yang begitu menyayanginya, sosok Ayah yang tak pernah mengingkari janji pada siapa pun. Bahkan pada mendiang orang tuanya, Ayah selalu melindungi Nia. Walau sempat salah caranya, namun beliau tetap kekeh ingin memperbaiki kesalahannya. Dan mengajak Nia menemukan kebahagiaannya, dan sekarang kebahagiaan itu sudah dia dapatkan. Dan sudah seharusnya Ayah melepaskan Nia pada kebahagiaanya, dan beliau sudah mendapatkan orang yang bisa menggantikan beliau sebagai Ayah.


"saya titipkan putri saya pada kalian," ucap Ayah kepada Ello, Oma, Papa dan Mama.


"Nak Ilham tenang saja, kami akan menjaga Nia dengan baik Nak! Dan akan selalu mengasihinya seperti anak kami sendiri!" Oma pun ikut meneteskan air matanya.


"iya Ham, kami sangat menyayanginya. Mana mungkin aku menyakiti menantu baik seperti Nia," Mama pun ikut memeluk Nia dengan penuh kasih.


"terima kasih banyak Oma, Anne. Dan terima kasih juga untuk Pak Sanjaya yang sudah mau menerima Nia apa adanya! Dan berbaik hati menerima Nia menjadi anggota keluarga Sanjaya." Ayah meneteskan air matanya.


"sama sama Pak, dia gadis baik. Mana mungkin saya tidak menerimanya," jawab Papa dengan tersenyum, beliau pun memeluk Ayah.


"Ello akan selalu menjaga Nia Yah...dan Ayah harus selalu menjaga kesehatan Ayah." ucap Ello penuh perhatian.


"Ayah akan selalu menjaga kesehatan Ayah, terima kasih El, kamu sangat sangat perhatian pada Ayah. Sedangkan anak Ayah sendiri tidak pernah pedulikan keadaan Ayah!"


"Ayah salah, tanpa sepengetahuan Ayah. Sudah lama Alan selalu memperhatikan Ayah. Dia selalu memperhatikan Ayah dari jauh, bahkan dia juga selalu memberikan makanan kesukaan Ayah. Walau tidak secara langsung!" tutur Ello menjelaskan tentang Alan. Tadinya dia tidak ingin mengatakan ini di sini, hanya saja karena Ayah mengungkit nama Alan. Dan Ello harus segera meluruskan permasalahan beliau dengan Alan.


"maksudnya?" tanya Ayah bingung.

__ADS_1


"Alan selalu mengawasi Ayah dari jauh, bahkan makanan yang selalu Ayah dapat dari pengunjung Ayah. Itu semua dari Alan, dia selalu melihat Ayah dari sebrang jalan. Ayah harus tahu, jika Alan sudah benar benar menyesali semua perbuatannya. Dia hanya ingin Ayah memaafkannya, dan dia tidak apa apa jika Ayah membencinya. Asal Ayah mau memberinya maaf!"


"jadi Alan menemuimu?"


"bukan Alan, tapi Ello yang menemuinya. Dan Ello melihat dari sorot matanya, jika dia benar benar tulus Yah..beri Alan kesempatan lagi Yah."


"Ayah ingin melihat kesungguhannya, apa dia sungguh sungguh ingin mendapat maaf dari Ayah. Terima kasih sudah menegur Ayah, Ayah akan lihat dulu seberapa besar kesungguhan Alan." jawab Ayah.


"sama sama Yah, aku harap Ayah mau memaafkan Alan. Agar kita semua hidup dalam ketenangan tanpa ada kebencian!"


"kau benar benar sangat bijaksana Nak,"


"semoga Ayah mau memaafkan Alan," gumam Ello dalam hati.


"apa Alan sudah benar benar menyesali semua kelakuaanya. Ucapan Ello ada benarnya, aku harus memberi Alan kesempatan." gumam Ayah dalam hati.


Kedai yang beliau dirikan, sudah beliau berikan pada Melly. Agar Melly meneruskan usaha di kedai dan belajar dalam berbisnis seperti Bapaknya. Karena dia sudah lulus kuliah, maka Ayah menyuruh Melly untuk meneruskan usahanya.


Beliau juga meminta Melly untuk tetap tinggal di rumah Ayah, karena Nia harus tinggal bersama Ello di rumah mereka sendiri. Melly sangat sangat berterima kasih pada Ayah dan juga Nia, karena kebaikan mereka.


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Ke esokan hari, di rumah baru Ello dan Nia. Nia yang sedang asyik memasak, tiba tiba di kejutkan oleh Ello yang memeluk tubuhnya dari belakang. Dia sudah rapi dan siap untuk pergi ke kantor.


"kau mengagetkanku saja!" ucap Nia yang masih fokus pada masakannya.

__ADS_1


"apa aku boleh membantumu sayang..." bisik Ello.


"tidak usah, sebentar lagi juga sudah matang. Kamu duduk saja di kursi, jangan menggangguku!" ucap Nia.


"kenapa harus memasak, kan ada Bibi!" protes Ello.


"memangnya kenapa, jangan mentang mentang ada Bibi. Aku melalaikan tugasku untuk membuatkanmu sarapan!" jawab Nia, dia begitu cekatan menyiapkan makanan untuk Ello di meja makan.


"ayo sarapan!" pinta Nia dengan menaruh nasi dan lauk di atas piring Ello.


"kamu tidak boleh kecapekan sayang," ucap Ello sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


"memasak bukanlah kegiatan yang membuatku capek sayang. Kamu tahu sendiri, aku suka memasak!" jawab Nia sembari memasukan nasi dan lauk pada tempat makan. Dia menyiapkan bekal untuk Ello makan siang.


"iya aku tahu, baiklah...aku takkan melarangmu memasak. Tapi aku melarangmu mengajari Mama dan Oma memasak!" tegas Ello.


"kenapa?" tanya Nia sambil memakan sarapannya.


"karena mereka pasti akan membuatmu kesusahan seperti yang sudah sudah!" jawab Ello mencoba menakut nakuti.


"itu sudah biasa sayang, aku sudah tidak kaget. Dan Mama sama Oma sudah janji akan datang hari ini untuk belajar memasak di sini!"


"oh..my..god..." ucap Ello menghentikan kegiatannya.


"kenapa lagi..."

__ADS_1


"itu artinya, hari ini akan terjadi kerusuhan di rumahku!" ucap Ello dan dia langsung berlari menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya.


"sayang....kamu kenapa...?" teriak Nia, namun Ello tak menjawabnya.


__ADS_2