
"Ayah..Mas Alan.." Pekik Lala saat melihat tamu yang ingin bertemu dengannya. Dia masih berdiri di tempatnya dengan keterkejutannya itu, sudah hampir tujuh bulan lebih dirinya tak berjumpa dengan keluarga Wiguna.
"Lala..apa kabarmu?" Tanya Alan bersahabat. Lala menarik napasnya dengan panjang, lalu ia keluarkan perlahan.
"Alhamdulillah baik," sahutnya tanpa memandang Alan. Lalu ia meraih tangan Ayah dan mencium punggung tangannya.
"Ayah apa kabar?" Tanyanya ragu, ia takut jika Ayah akan marah dengannya. Seperti yang sudah sudah.
"Seperti yang kau lihat, Ayah baik baik saja." Jawab Ayah dengan menampakan dirinya berbadan sehat.
"Kenapa Ayah kesini?" Tanyanya berusaha tegar dan menahan sesaknya di dada dan enggan bertanya pada Alan.
"Duduk dulu La, ada yang mau beliau sampaikan!" Pinta Bu Surti yang menarik Lala agar duduk sampingnya. Lala pun menurut dan ikut duduk.
"Tujuan Ayah dan Alan kesini, ingin meminta maaf sebesar besarnya padamu La. Maafkan atas semua kesalahan Alan yang sudah membuat dirimu terluka, di sini bukan hanya Alan yang salah. Ayah juga ingin meminta maaf padamu, karena Ayah sudah bersikap acuh padamu. Ayah dulu selalu menyalahkanmu atas ketidak adilan yang Nia terima, hingga Ayah tak pernah melihat kebaikanmu." Tutur Ayah dengan tegas, namun wajahnya menampakkan kesenduhan.
__ADS_1
"Ayah tidak perlu minta maaf padaku, Ayah tidak ada salah apa pun padaku. Ayah bersikap seperti itu karena itu memang salahku dan aku memang pantas mendapatkannya. Penderitaanku tak seberapa di banding penderitaan yang Nia alami selama kami hidup bertiga. Seharusnya dulu aku tak terpedaya oleh ajakan Mas Alan, hingga membuat Nia tak pernah mendapat keadilan sebagai istri pertama." Ucap Lala penuh penyesalan, dia tak bisa membayangkan. Betapa menderitanya Nia dulu.
"Dulu aku hanya tak ingin kehilangan orang yang sangat mencintaiku, karena selama di hidupku. Tak pernah ada yang memberiku cinta, seperti yang Mas Alan berikan padaku dulu. Hingga aku rela menjadi madu, tanpa peduli ada wanita lain yang tersakiti. Ini salahku..ini salahku..Maafkan aku Nia.." Ucap Lala sedikit teriak dengan meneteskan air matanya. Ayah dan Bu Surti pun mencoba menenangkan Lala.
"Itu bukan salahmu La, itu salahku. Andai saja aku tak memaksamu, mungkin semua tak akan seperti ini." Ucap Alan menatap sendu pada wanita yang pernah menjadi bagian di hidupnya. Lala hanya diam dan menangis di pundak Bu Surti.
"Aku benar benar minta maaf padamu La, aku sudah mebuatmu kecewa dengan semua perlakuanku. Maafkan aku La, aku sungguh sungguh minta maaf padamu!" Ucap Alan dengan berlutut di hadapan Lala dan meraih tangannya. Namun Lala menepisnya sebelum Alan menyentuh tangannya.
"Aku sudah melukai dua wanita yatim piatu, dan nyawaku pun tak akan bisa membayarkan sakit hati kalian dan takkan bisa membuat nyawa anak kita kembali. Aku akan melakukan apa pun agar mendapatkan maafmu La," tutur Alan kembali. Lala pun menyeka air matanya dengan kasar, dan menghela napasnya dengan panjang.
"Kamu sudah memaafkanku?" Tanya Alan yang di jawab anggukan oleh Lala. "Terima kasih La," imbuhnya penuh semangat.
"Aku sadar aku laki laki pengecut, egois, sampai tak bisa mengontrol cinta yang berubah menjadi obsesi. Aku ingin kembali menemani kesendirianmu, apa kamu mau rujuk denganku?" Tanyanya hati hati. Dia sangat merasa bersalah atas semua yang di alami Lala.
"Maaf Mas, sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa kembali padamu. Mungkin ini sudah jalannya, kita harus berpisah dan meraih kebahagiaan kita masing masing!" Jawabnya dengan tegas.
__ADS_1
"Ayah hanya bisa mendoakan kalian bisa mendapat kebahagiaan walau kalian tak lagi bersama. Mungkin kalian memanglah tidak berjodoh, jika nanti kalian berjodoh. Sejauh apa pun kalian menghindar, pasti akan di dekatkan!" Ucap Ayah, dia harap anaknya bisa mengerti.
"Semoga kamu bahagia La, kau pantas bahagia." Ucap Alan sendu.
Alan pun paham betul bagaimana perasaan Lala, karena melupakan sesuatu yang sangat menyakitkan itu tak semudah saat jatuh cinta. Wajar saja Lala berkata seperti itu, walau begitu dia sangat lega sudah mendapat maaf dari Lala. Dia hanya berharap Lala bisa berdamai dengan dirinya dan masa lalunya. Setelah Ayah berbicara banyak dan menasehati Alan dan Lala. Akhirnya mereka benar benar berdamai, Alan merasa lega sudah mendapat maaf dari Lala. Dan mereka pun memutuskan untuk tetap menjadi teman.
Seusai kepergian Ayah dan Alan dari Panti.
"Kau harus bisa melupakan semuanya Nak, Ibu yakin akan ada kebahagiaan yang mengahampirimu. Ini semua tak sepenuhnya salahmu," Bu Surti.
"Aku akan berusaha melupakannya Bu, apa iya akan ada kebahagiaan untukku? Setelah banyak kesalahan di hidupku." Tanyanya penuh keraguan.
"Kamu jangan bicara seperti itu, kau pantas bahagia La. Dan bila sudah waktunya pasti bahagia itu akan datang!" Lala tersenyum getir mendengar kata kata Bu Surti, baginya kebahagiaannya adalah bertemu dengan kedua orang tuanya. Namun itu sangatlah mustahil menurutnya.
"Bahagia di sana ya Nak, Mama sayang padamu. Mama akan selalu mendoakanmu dari sini," gumamnya dengan menatap ke arah langit.
__ADS_1
**Wanita yang baik adalah dia yang mampu menjaga hati dan perasaan sesama wanita. Berpikirlah sebelum kamu membuat keputusan yang menjadikanmu buruk. Jangan pernah merebut kebahagiaan wanita lain, karena kau pasti juga tidak akan rela jika kau di posisinya. Semua insan Tuhan pasti pernah melakukan kesalahan, dan setiap kesalahan akan meninggalkan penyesalan. Hidup itu pilihan, jangan kau pilih jalan yang benar benar salah. Jangan pernah kau singgah di kesalahan yang memang kau tahu betul jika itu salah. Jangan karena cinta kamu rela membuat wanita lain tersakiti. Karena kata maaf dan penyesalan, takkan mampu menghapus atau bisa melupakan luka yang kau torehkan begitu saja.**