
Saat mereka akan pulang, langkah Pak Ilham terhenti saat tangannya di tahan oleh Alan. Alan bersimpuh di kaki Ayahnya, ini bukan kali pertama Alan melakukan ini. Pak Ilham tidak ingin tertipu oleh kata kata Alan kembali.
"jangan pernah menampakkan dirimu di depanku lagi!" pinta Pak Ilham dengan menahan air matanya.
"Ayah, tolong maafkan Alan. Kali ini Alan benar benar menyesal Yah, tolong percaya sama Alan Yah!" ucap Alan dengan mencium kedua punggung tangan Pak Ilham.
"pergilah, lakukanlah sesuka hatimu. Aku sudah lelah dan sudah bosan memberimu peringatan. Aku juga sudah lelah menasehatimu, karena semua nasehatku tak pernah kau cerna sedikit pun." tegas Pak Ilham, beliau mendorong tubuh Alan hingga Alan tersungkur.
"Ayah...." lirih Nia dari samping mobilnya, sedang Ello hanya merangkul Nia dan dia juga siap siaga jika Alan berbuat macam macam.
"sayang....sepertinya Alan bersungguh sungguh." ucap Ello, karena sedari tadi di dalam kedai. Dia juga mengamati gerak gerik Alan, namun tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan dari Alan. Yang dia lihat hanya Alan yang duduk dan terus terus menopang kepalanya di atas meja.
"kamu tahu sendiri Mas Alan, pintar sekali berakting. Sampai sampai Ayah percaya, dan ternyata semua itu hanyalah dusta Mas Alan." ucap Nia yang mengingat ingat kelakuan Alan yang berkali kali berbohong pada Ayahnya.
"pergilah, aku sudah rela jika aku hanya akan kau beri kekecewaan. Mungkin memang sudah takdirku, harus terus terusan menelan pil pahit dari anakku sendiri!" Pak Ilham pun sudah tak kuasa menahan air matanya yang sedari tadi tertahan di pelupuk mata.
"Ayah, maafkan Alan. Maafkan Alan Yah....." Alan hanya bisa berkata seperti itu, dia tidak tahu ingin berkata apa lagi. Karena Ayahnya sudah terlalu membencinya, terlalu kecewa dengan semua kebohongan Alan. Bahkan secara langsung sudah di permalukan di Keluarga Sanjaya oleh anak kandungnya sendiri.
Pak Ilham kembali mendorong Alan yang berlutut di kakinya. Beliau menyeka air matanya dan meninggalkan Alan begitu saja, tanpa menoleh pada anaknya.
__ADS_1
"ayo kita pulang...." ajak Pak Ilham yang langsung masuk ke dalam mobil Ello.
"aku temani Ayah di belakang!" ucap Nia pada Ello, Ello pun mengangguk.
Mereka meninggalkan Alan yang masih menangis dan terduduk di tanah.
"Ayah....tolong maafkan Alan, Nia aku juga ingin meminta maaf padamu. Aku benar benar menyesal, ini semua memang pantas untukku. Aku di benci semua orang, bahkan Ayahku sendiri sudah tidak sudi memberiku maaf!" Alan menangis dan terus menatap mobil yang di tumpangi Ayahnya, hingga mobil itu menjauh dan tak terlihat.
"Alan janji, Alan akan membuktikan jika Alan benar benar sudah menyesal Yah.... Alan ingin berbakti kepada Ayah."kini dia bangkit dan melajukan mobilnya.
๐ฟ๐ฟ
"maafkan Ayah ya El, Ayah terus saja merepotkanmu!" ucap Pak Ilham.
"merepotkan apa Yah? Ello tidak pernah merasa di repotkan!"
"karena Ayah, kamu harus tinggal di rumah Ayah yang kecil. Kalian boleh tinggal di rumahmu El, Ayah bisa tinggal bersama Melly..." ucap Pak Ilham. Beliau merasa tidak enak dengan Ello, karena beliau. Nia harus mengajak Ello tetap tinggal bersamanya, dan itu lah yang membuat beliau ingin Nia mengikuti suaminya.
"Ayah jangan bicara seperti itu..." sahut Nia.
__ADS_1
"Ayah...Ello harus katakan berapa kali lagi, Ayah sekarang adalah Ayahnya Nia, dan Nia adalah istri Ello. Jadi Ello juga anak Ayah, dan Ayah jangan merasa merepotkan Ello. Itu sudah kewajiban seorang anak untuk tetap berbakti pada orang tuanya,"
Pak Ilham merasa tersentuh dengan kata kata Ello yang selalu baik padanya. Lain dengan kata kata anaknya yang selalu manis di depan lain di belakang.
"Ayah istirahat duluan ya! Ayah lelah, kalian tidak perlu menghawatirkan Ayah. Ayah sudah baik baik saja." pamit Pak Ilham dengan tersenyum saat turun dari mobil, beliau menuju kamarnya.
"kasihan Ayah..." ucap Nia.
"kasihan diriku...." rengek Ello.
"kenapa?" tanya Nia bingung, karena dia melihat Ello baik baik saja.
"hatiku sakit, saat melihatmu bertemu mantan suamimu yang terobsesi padamu itu...." ucap Ello dengan seringai di wajahnya.
"kita bertemu juga gak menyapanya, kenapa harus sakit hati. Aku menyalaminya aja tidak, menegurnya pun tidak." protes Nia dengan sangat kesal.
"tapi aku merasa hatiku menangis bagai di tusuk tusuk duri, coba kau dengar!" ucap Ello menarik Nia dan menempelkan kepala Nia di dadanya.
"aku hanya mendengar jantungmu berdetak...." ucap Nia polos.
__ADS_1
"kau dengar baik baik ya!" Nia pun menurut. "Thania Sayang, aku mencintaimu...." ucap Ello sambil tertawa dan langsung menggendong Nia ke dalam kamarnya. Nia pun memukul dada bidang suaminya, lalu menenggelamkan kepalanya di dada tersebut. Dia sangat malu sekaligus kesal, karena masih saja bisa di kerjai oleh Ello.