
Malam hari saat Lala pulang kerja dan berjalan santai menuju tempat kos kosannya. Dia berjalan sendiri, karena memang biasanya seperti itu. Untungnya dia tinggal di Kota yang sangat ramai, jadi dia tidak akan takut jika pulang malam sendirian.
"brukk..." suara tubuh seseorang terjatuh.
"maaf Mbak.." ucap seorang pria yang tak sengaja sudah menabrak Lala. Pria itu terlihat sangat buru buru, hingga dirinya menabrak Lala.
"tidak apa apa!" jawab Lala yang berusaha berdiri sendiri dan tidak menerima uluran tangan pria tersebut.
"sepertinya kita pernah bertemu!" ucap pria itu saat dia sudah melihat jelas wajah Lala
"kamu bukannya Pengacaranya Nia dulu," ucap Lala dengan nada terkejutnya, dia masih mengingat betul wajah tampan Johan.
"kau istri kedua dari orang yang membuat Nia terluka kan!" kini Johan menatapnya tajam.
"maaf..aku permisi dulu.." pamit Lala terburu buru, karena dia takut jika Alan akan mencarinya di kota ini setelah bertemu Johan. Secara Johan sangat mengenal Ayah Ilham.
"kenapa kau terburu buru Mbak..apa kau takut aku akan memaki maki dan mempermalukanmu di sini!" teriak Johan saat Lala pergi dan tak menjawab pertanyaannya.
"kenapa dia di sini sendiri dan tidak bersama pecundang itu!" gumam Johan yang masih menatap tubuh Lala yang semakin jauh dan tak terlihat lagi olehnya.
***
Keesokan harinya di Dinna Bakery.
Lala sedang melayani pengunjung di meja kasir, dia melayani dengan baik dan ramah. Walau gajinya tak sebesar menjadi sekertaris, namun dia tetap bersyukur dan begitu menikmati pekerjaannya saat ini. Karena tujuannya pergi dari Ibu kota adalah untuk menjauhi dan melupakan Alan, walau sebenarnya dia belum sepenuhnya bisa melupakannya. Namun dia tetap berusaha agar bisa secepatnya melupakan pria yang pernah menjadi suaminya. Dia juga tidak meminta harta gono gini sepeser pun pada Alan.
"selamat pagi Bu.." sambut Lala saat Bu Dina masuk ke dalam toko.
"selamat pagi juga La.." sahut Bu Dina dengan tersenyum.
__ADS_1
"selamat pagi Bu.." sambut ketiga karyawan yang bertugas melayani pembeli. Bu Dina mengangguk, lalu masuk ke dalam ruangannya.
"selamat da-tang.." ucap Lala terbata bata saat menyambut pengunjung masuk, dan ternyata pengunjung itu sangat dia kenal.
"kau.." ucap Johan dengan menunjuk ke arah Lala dengan tatapan tajamnya.
"kau.., kenapa kau ada di sini.." ucap Lala mengalihkan wajahnya dari tatapan tajamnya Johan.
"kenapa kau tak berani menatapku, apa kau takut aku akan memakimu?" tanya Johan ketus.
"kenapa aku harus takut. Aku tidak masalah kamu mau memaki diriku dan mempermalukan diriku di depan umum." jawab Lala.
"wow.." ucap Johan dengan bertepuk tangan. "itu pasti akan aku lakukan Nona, tapi tidak sekarang. Karena tidak lengkap jika aku hanya mempermalukan dirimu saja," ucap Johan sinis.
"maksud kamu tidak lengkap?" tanya Lala bingung.
"suami pecundangku? Apa dia belum mengetahui perceraianku dengan Mas Alan? Ah...syukurlah itu artinya dia tidak akan memberitahu keberadaanku pada Mas Alan." gumam Lala dalam hati.
"Pak Johan sudah di tunggu Ibu di ruangannya!" ucap Nadin menghampiri Johan yang berdiri di depan meja kasir, dan meminta Johan agar segera ke ruangan Bu Dina.
"oke Din.." sahut Johan. " urusan kita belum selesai Nona," ucap Johan pada Lala dengan penuh penekanan. Dirinya pun meninggalkan Lala yang masih tertegun di meja kasir, dia bingung kenapa Nadin dan Johan seperti saling mengenal. Dan untuk mengobati rasa penasarannya, dia pun bertanya pada Nadin.
"Din..." teriak Lala saat nadin hendak kembali ke belakang mengambil stok roti.
"iya La...ada apa?" Nadin pun menghampiri Lala yang terlihat bingung.
"kamu mengenal pria tadi?" tanya Lala.
"pria tadi? maksudnya Pak Johan?"
__ADS_1
"iya.." jawab Lala singkat.
"tentu saja aku mengenalnya, dia itu anak sulungnya Bu Dina. Kakaknya Bu Catty," jawab Nadin.
"anak Bu Dina..." gumam Lala dalam hati.
"kenapa kamu menanyakan Pak Johan, apa kamu mengenalnya?" tanya Nadin bingung, karena Lala terkejut saat mendengar jawaban tentang Johan.
"a-aku..aku hanya merasa pernah bertemu dengannya.Tapi sepertinya aku salah orang," jawab Lala berbohong.
"oh..ya sudah aku ke belakang dulu,"
Nadin pun ke belakang untuk mengambil roti yang sudah matang dan sudah di bungkus rapi untuk dia taruh ke etalase depan. Sedangkan Lala kembali sibuk mencatat pesanan yang masuk hari ini.
๐ฟ๐ฟ
Di dalam ruangan, Bu Dina sudah banyak memberi ceramah pada Johan. Dan isi ceramahnya sama seperti ceramah ceramah sebelumnya, yaitu tentang pasangan hidup Johan. Bu Dina selalu menanyakan kapan dirinya akan menikah, sedangkan Catty adikny sudah menikah dan mempunyai anak satu. Sedangkan anak sulungnya belum ada gambaran kapan akan menikah.
"Mama..Johan ini masih fokus pada karir Jo Ma..." protes Johan.
"apa tidak ada alasan lain selain fokus karir, bosan Mama mendengarnya Jo.." ucap Bu Dina dengan mendengus kesal dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.
"memang Mama maunya aku beralasan apa? Karena aku memang masih fokus pada karirku Ma!"
"Mama curiga jika kamu ini Gay," ketus Bu Dina.
"sembarangan, aku ini pria normal Ma. Jangan meragukan kejantanan anakmu ini." sahutnya kesal karena sudah di katai Gay oleh Mamanya sendiri.
Sejujurnya Johan belum ingin menikah karena dia takut seperti klien kliennya sebelumnya. Karena kasus yang selalu dia tangani kebanyakan adalah perceraian. Itu membuatnya berpikir panjang untuk segera menikah, dia takut akan mengalami seperti yang di alami oleh para kliennya. Namun dia enggan bercerita tentang ketakutannya pada Mamanya, karena dia tahu jika Mamanya pasti akan mentertawakannya.
__ADS_1