
Satu bulan telah berlalu, saat ini Nia sekeluarga berada di Bandung. Dia kini berziarah ke makam kedua orang tuanya. Memang biasanya dia berziarah sebulan sekali untuk mengobati rasa rindu pada kedua orang tuanya. Dan kali ini dia datang bersama Oma, Mama dan juga Papa.
Seusai dari makam, mereka kembali ke rumah Ayah untuk membantu mempersiapkan pernikahan Alan dan calon istrinya. Ya, isi chat dari ayah waktu itu adalah memberi kabar pernikahan Alan. Setelah beberapa tahun akhirnya dia menemukan tambatan hatinya. Walau awalnya ragu untuk menikah kembali, namun Ayah selalu memberi nasehat padanya. Ayah selalu meyakinkan Alan, dan membimbing bagaimana menjadi seorang suami yang baik. Bagaimana cara mencintai dan menghargai wanita dengan kesungguhan hati.
Dan hati Alan telah jatuh pada seorang gadis manis dan cantik yang berasal dari Jogja. Gadis yang sukses mengelola kedai kopi yang Ayah berikan pada gadis tersebut. Gadis itu adalah Melly, gadis pekerja keras yang tidak ingin mengecewakan atau menyusahkan Ayah dan Ibunya. Dia begitu pandai mengelola kedai kopi miliknya, bahkan dia sering mengunjungi Nia, begitu juga sebaliknya. Mereka sudah seperti saudara kandung sendiri.
Awal mula Alan dan Melly saling jatuh cinta, seringnya mereka bertemu pada saat Alan di minta Ayah untuk mengantar beliau mengunjungi kedai sebulan sekali. Dan seringnya mereka berjumpa dan sering membicarakan soal perkembangan kedai, hingga membuat mereka merasa saling nyaman satu sama lain.
Awalnya Alan begitu tak percaya diri untuk menikahi Melly yang notabenenya masih lajang dan belum pernah menikah. Sedang dirinya adalah seorang duda dua kali dan duda yang penuh banyak keburukan. Namun Melly tidak mempermasalahkan status duda atau perjaka. Dia mencintai Alan karena memang baginya Alan itu lelaki yang baik, Alan yang sekarang berbeda dengan Alan yang pernah dia temui waktu Alan membuat keributan di rumah Ayah dulu. Alan yang sekarang begitu baik dan sangat sangat berbeda dengan Alan yang dulu saat menjadi suami Nia dan Lala.
Bahkan orang tua masing masing juga sangat mendukung dan ikut merasa bahagia. Pak Ratno dan Bu Sri juga tidak keberatan dengan masa lalu Alan, mereka tahu jika sebenarnya Alan adalah laki laki yang baik. Dan setiap manusia pasti pernah melakukan kekhilafan dan mereka berhak berubah dan bahagia.
Tetapi lain dengan Lala yang masih ingin sendiri dan mencoba menghapus bayang bayang kelam dulu. Lala turut bahagia mendengar berita pernikahan mantan suaminya itu. Dia juga berencana akan datang kepernikahan Alan.
Keesokan harinya setelah akad nikah, mereka menggelar resepsinya di malam hari dan acaranya begitu meriah. Berbeda dengan menikahi Nia dulu yang hanya di gelar sederhana yang di hadiri sanak saudara saja. Pernikahan ketiga Alan ini di hadiri banyak rekan bisnis Ayah maupun Alan sendiri. Kebahagiaan kini tengah menyelimuti keluarga Ayah Ilham dan Pak Ratno sekeluarga.
"Dulu saja sama Nia gak semeriah ini!" Celetuk Lena yang langsung mendapat bungkaman dari Zacky. Sepontan keluarga Sanjaya pun menatap tajam Lena yang suka keceplosan.
"Kamu bisa kontrol tidak mulutmu itu Len, jangan membahas masa lalu. Dan jangan pernah membuat masalah sama keluarga Papa Jaya. Kamu lupa kejadian sebulan yang lalu..." Bisik Zacky di telinga sang istri.
__ADS_1
"Iya..gak bakalan buat masalah sama mereka," jawab Lena dengan lemas. Apa lagi mengingat kejadian waktu itu saat Oma dan Mama mampir setelah shoping dengan Nia dan Twin B.
"Bagus..jadilah istri yang nurut sama suami!" Ucap Zac lembut dan Lena pun mengangguk.
"Kira kira mereka bisikin apa ya Ma?" Mama pun mulai berbisik pada Oma.
"Mana aku tahu, kalau penasaran coba kamu ikut mereka berbisik!" Sahut Oma ketus.
"Awas saja kalau mereka bikin masalah lagi."
"Bukannya yang suka buat masalah itu kalian berdua!" Ujar Papa yang mendengar pembicaraan Mama dan Oma. Mereka berdua pun menutup mulutnya dan menahan tawa untuk diri mereka sendiri.
Di sisi lain Nia dan Ello menghampiri Alan dan Melly untuk memberi mereka selamat. Bahkan mereka pun berfoto bersama, dengan posisi Ello merangkul Alan dan menggendong Bintang. Sedang Nia dan Melly berpelukan dengan menggendong Bulan.
"Selamat ya Mel..Mas..jaga Melly dan bahagiakan dia, dia pilihanmu Mas." Ucap Nia pada pengantin.
"Terima kasih Nia, aku pasti akan membahagiaakan dia. Tidak akan pernah aku mengulangi kesalahan seperti dulu." Ucap Alan dengan merangkul Melly.
"Terima kasih ya mbak Nia, sudah datang dan banyak membantu untuk menyiapkan pernikahan kami." Ucap Melly dengan memeluk Nia dan Bulan.
__ADS_1
"Aduh..Ante Mell sempit, Bulannya cucah belnapas.." Ucap Bulan yang membuat Melly melepas pelukannya dan mencium gemas pipi Bulan.
"Ya ampun..kamu makin hari makin gemesin ya," ucap Melly.
"Tium tium mulu," ketus Bulan dengan mengelap pipinya yang habis di cium Melly. Mereka semua pun tertawa melihat tingkah Bulan.
Seluruh keluarga yang menyaksikan mereka tertawa pun turut senang. Karena mereka berempat terlihat akur dan begitu mirip dengan saudara sendiri. Tawa itu terhenti saat melihat Lala ikut bergabung dengan mereka.
"Selamat ya Mas..Mel..aku turut bahagia!" Ucap Lala saat berjabat tangan dengan Alan dan Melly.
"Terima kasih ya La.." Sahut Alan.
"Terima kasih Mbak Lala.." Ucap Melly manis.
"Sama sama.." Ucap Lala sambil cipika cipiki.
"Nia..apa kabarnya?" Sapa Lala lembut.
"Alhamdulillah baik, kamu sendiri gimana kabarnya?" Ucap Nia yang tak kalah lembut.
__ADS_1
"Alhamdulillah baik Nia,"