Antara Aku Dan Maduku

Antara Aku Dan Maduku
Part 114. Bu Dina menemui Adella


__ADS_3

Di tempat lain, di Panti Asuhan Kasih. Terlihat sosok wanita paruh baya yang tengah berdiri di luar gerbang Panti, dia menatap nanar pada bangunan di balik gerbang tersebut. Bu Dina memang berniat ingin mengajak Adella pulang, sudah lama beliau ingin menjenguknya. Namun beliau takut terbayang bayang oleh penghianatan yang menimpanya dahulu.


.


.


.


"Maafkan Budhe Del, kamu harus hidup sendiri tanpa kasih sayang orang tuamu. Seharusnya Budhe merawatmu dengan baik, bukan malah menyerahkanmu ke Panti. Sekarang kamu sudah besar dan pasti tumbuh menjadi gadis yang cantik. Mungkin kamu sudah tidak di sini dan kamu sudah di rawat oleh orang tua angkatmu. Jika benar, semoga mereka mengasihimu dan memberimu kasih sayang yang lebih." Gumam Bu Dina dengan menitihkan air matanya, membayangkan wajah bayi tak berdosa yang beliau tinggalkan di Panti.


"Ada yang bisa saya bantu Bu?" Tanya Bu Surti yang sedari tadi melihat seorang wanita berdiri di depan gerbang, merasa curiga Ibu pun menghampirinya.


"Em..em..apa saya boleh masuk Bu?"


Bu Surti hanya diam dan menatap dengan intens pada Bu Dina. Karena beliau bertanya tidak di jawab justru Bu Dina balik bertanya pada beliau.


"Saya orang baik baik Bu, saya jauh jauh dari Surabaya ke sini karena ada perlu dengan Ibu. Apa boleh saya masuk?"


"Sepertinya dia memang orang baik, tapi tunggu dulu..sepertinya aku pernah melihat wajahnya. Tapi di mana?" Gumam Bu Surti dengan menatap wajah Bu Dina.


"Bu.."


"Bu.." lirih Bu Dina kembali, karena Bu Surti diam seolah sedang berpikir sesuatu.

__ADS_1


"Bu.." Lirihnya lagi.


"Bu.." Ucap Bu Dina dengan menepuk lembut lengan Bu Surti.


"Eh..iya..maaf tadi tanya apa ya?" Tanya Bu Surti gugup.


"Apa saya boleh masuk?" Bu Dina kembali mengulanginya.


"Ah..iya, silahkan Bu." Ajak Bu Surti ramah.


.


.


Kini mereka duduk di teras, dan Bu Surti sudah menyuguhi secangkir teh untuk Bu Dina.


"Begini Bu, sebelum saya menjawab pertanyaan Ibu. Perkenalkan dulu Bu, saya Dina. Apa Ibu masih mengingat wajahku?"


"Dina siapa? Kalau wajahmu saya merasa seperti pernah melihatmu. Tapi saya lupa di mananya!" Jawab Bu Surti.


"Saya adalah Budhe dari anak yang pernah saya titipkan dua puluh empat tahun yang lalu pada Ibu, apa Ibu mengingatnya?" Bu Surti masih bingung dengan penuturan Bu Dina.


"Waktu itu hujan lebat di malam hari, saya datang mengetuk pintu Ibu dan tiba tiba saya memberikan bayi perempuan berumur satu tahun pada Ibu. Dan waktu itu Ibu manggil manggil saya, tapi saya tak menghiraukan dan berlari di bawah derasnya hujan. Apa Ibu mengingatnya?" Tanya Bu Dina kembali, Bu Surti pun mengingatnya dan pikirannya langsung tertuju pada Lala.

__ADS_1


"Saya mengingatnya, kenapa anda menitipkan anak yang seharusnya di rawat oleh Ibunya sendiri. Apa anda memisahkan anak dari Ibunya?"Tanya Bu Surti menahan tangisannya.


"Saya tidak pernah memisahkannya dari Ibunya, dia adalah anak yatim piatu. Dia anak adik saya," jelas Bu Dina.


"Jika dia anak yatim piatu, dan masih memiliki sanak saudara dan keluarganya itu mampu untuk merawatnya. Seharusnya dia di rawat oleh keluarganya. Kenapa Ibu tega menelantarkannya, apa Ibu tahu. Dia sangat menderita, dari kecil hingga dia dewasa. Dia selalu berharap kedatangan Ayah dan Ibunya datang menjemputnya, namun penantiannya selalu terbalas dengan kekecewaanya." Air mata yang tertahan di pelupuk mata, akhirnya meluncur juga.


Bu Surti pun menceritakan semuanya, dari semua kelakuan baik dan buruknya Lala pada Bu Dina. Bahkan Bu Surti menceritakan kisah rumah tangga Lala yang begitu miris pada Bu Dina. Bu Surti bercerita dengan iringan tangisannya, begitu juga dengan Bu Dina yang mendengarkan dengan derai air mata.


"Adel..kenapa kamu sampai salah jalan seperti itu Nak," ucap Bu Dina penuh penyesalan. Beliau menyesal sudah menelantarkan keponakannya sendiri.


"Dia seperti itu karena dia tak ingin kehilangan seseorang yang begitu menyayangi dan melindunginya. Sosok laki laki yang menurutnya nyaman, kasih sayang yang tak pernah dia dapat dari siapa pun. Hingga dia berpikir dangkal dan dia kira dia akan bahagia, ternyata itu hanya kebahagiaan sesaat. Dia seperti itu karena dia tak ingin kehilangan kebahagiaannya."


"Dia dimana Bu? Saya ingin menemuinya, saya ingin mengajaknya kembali bersama." Ucap Bu Dina.


"Dia sedang keluar mencari pekerjaan kembali, setelah di pecat dari kerjanya empat bulan yang lalu."


"Oh..Adel..maafkan Budhe Nak, kau sampai harus hidup susah seperti ini." Gumam Bu Dina dan menangis.


Bu Dina memutuskan untuk menunggu Lala sampai dia kembali, beliau ingin membawa keponakannya berkumpul dengan beliau dan anak anaknya. Dan Bu Surti pun segera menghubungi Lala agar segera kembali, dan diiyakan oleh Lala.


Bu Dina paham betul, jika ini tak semudah itu. Pasti akan ada penolakan dari Lala, secara berpuluh puluh tahun beliau tak pernah sekali pun mengunjungi ponakannya itu.


"Adel pasti sangat cantik ya Bu," ucap Bu Dina.

__ADS_1


"Dia memang sangat cantik, mungkin seperti Ibunya." Ucap Bu Surti.


Bu Dina hanya tersenyum getir, jauh di lubuk hatinya beliau sangat terluka. Luka yang tak pernah bisa terlupakan walau beliau sudah memaafkannya. Namun jauh lebih di dasar hatinya yang terdalam, beliau tak mau terus terusan membuat Adel menderita. Beliau begitu menyesal dan tak bisa membayangkan betapa menderitanya Adel tanpa kasih sayang darinya yang seharusnya menjadi Budhe sekaligus Mama yang baik untul Adel.


__ADS_2