Antara Aku Dan Maduku

Antara Aku Dan Maduku
Part 75. Ello Menggoda Nia


__ADS_3

Setelah berbicara dengan Oma dan Mamanya, Ello kembali ke kamar menyusul Nia. Setelah masuk dan menutup pintu, Ello berbaring di samping Nia dan memeluk tubuh Nia dari belakang. Sebenarnya Ello menginginkan sesuatu bersama Nia, namun saat melihat istrinya tertidur lelap. Ello mengurungkan niatnya, dia pun ikut terlelap sembari memeluk tubuh istrinya. Mereka pun tertidur hingga sore hari.


"sayang bangun sudah sore, ayo mandi terus Sholat. Baru kita ke kedai bantuin Ayah...." bisik Ello pada Nia yang masih tidur.


"hm..." jawab Nia. Mereka pun melangkah menuju kamar mandi, dan mandi bersama.


"sayang, kemarin kamu bilang kalau kamu percayakan Hotel dan Restaurant sama teman baikmu. Memangnya siapa? Apa aku mengenalnya?" tanya Nia penasaran, sebenarnya dari kemarin dia ingin bertanya pada Ello. Tapi karena Nia sibuk memikirkan larangan Oma dan Ayahnya, Nia sampai melupakan pertanyaan itu.


"tentu kamu mengenalnya...." jawab Ello sembari bercermin dan menyisir rambutnya.


"siapa? Kenapa jawabnya setengah setengah sih, aku penasaran siapa temanmu itu?" tanya Nia dengan nada manjanya, Ello berbalik dan dia semakin gemas melihat tingkah Nia yang sangat lucu menurutnya.


"teman kita yang paling menyebalkan....siapa lagi kalau bukan cewek bar bar!" seru Ello.


"Lena?" Ello pun mengangguk. "jadi dia sudah gak kerja di Ayu Group, dan bekerja denganmu?" lagi lagi Ello mengangguk dan tersenyum lebar pada Nia.


"kamu yakin Lena bisa mengerjakan semuanya?" tanya Nia ragu, karena itu bukanlah keahlian Lena.


"kamu tidak perlu meragukan itu, dia sudah banyak belajar tentang perhotelan dengan Zacky (asisten pibadi Ello). Aku lihat kerja Lena bagus, dan dia juga sudah mengerti tentang tugas tugasnya." jawab Ello.


"syukurlah jika Lena mengerti," ucap Nia lega.


Kini Nia dan Ello akan pergi ke kedai, di dalam mobil Ello terus saja menggoda Nia.


"sayang....aku cinta kamu...." Ello terus terusan menggoda Nia, hingga membuat Nia tersipu malu.

__ADS_1


"sampai kapan, kamu terus mengatakan kata kata itu. Ya aku percaya kamu cinta sama aku, jadi fokuslah pada kemudimu. Jangan terus terusan menggodaku!" pinta Nia, tanpa menatap Ello. Dia takut Ello melihat wajahnya yang memerah, karena kata kata Ello.


"sayang, aku ingin bertanya. Kenapa kamu memanggilku sayang?" tanya Ello dengan nada menggoda Nia.


"kamu suamiku dan aku sayang kamu, ya aku panggil sayang. Memangnya gak boleh?"


"boleh, tapi kenapa kamu gak panggil aku, Mas, Abang, Aa, atau apa gitu selain sayang?" Ello menelengkan kepalanya ke arah Nia, dia mengedipkan kedua matanya.


"genit...." ucap Nia sambil mendorong wajah Ello. "aku bingung mau panggil kamu apa, tapi aku lebih nyaman panggil kamu sayang." jawab Nia jujur, awalnya dia canggung untuk panggil Ello seperti itu. Namun kini dia sudah terbiasa, dan sebenarnya Ello sangat menyukai panggilan Nia untuknya.


"kamu tahu, pertama kali aku dengar kamu manggil aku sayang. Hatiku berbunga bunga, serasa aku pria paling beruntung karena di panggil sayang oleh seorang Thania."


"lebay," ucap Nia datar. Ello pun menepikan mobilnya sebentar, lalu mencium bibir Nia yang menurutnya sangat sangatlah menggoda.


"emmmm" Nia mendorong tubuh Ello, namun Ello tidak melepaskannya. Dia memeluk erat tubuh Nia, dan terus memangut bibir istrinya hingga Nia kehabisan nafas.


"biarkan saja jika ada yang melihat, aku gak peduli...." ucap Ello kembali memangut bibir mungil dan manis istrinya.


"permisi...." suara seseorang yang mengetuk kaca jendela mobil Ello.


"mengganggu saja...." gerutu Ello, dan dia menurunkan setengah kaca jendelanya.


"maaf Mas, jangan parkir di sini. Jika ada Polisi yang melihat, bisa bisa Masnya kena tilang!" ucap seseorang yang mengetuk kaca jendelanya. Dan menunjuk ke papan rambu.


"oh...iya Mas, makasih tegurannya!" jawab Ello. Lalu pria itu pergi berlalu, Ello masih menatap rambu di depannya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Mas, kalau parkir lihat lihat rambu dulu." ejek Nia.


"ha..ha..maafkan aku sayang, khilaf. Kamu yang membuatku tergoda." ucap Ello yang kembali melajukan mobilnya.


"aku tidak menggodamu, aku diam saja dari tadi!" ucap Nia sambil memanyunkan bibirnya. Dia kesal karena Ello menciumnya di sembarang tempat.


"wah...wah...itu bibir sangat menggoda, apa mau aku cium lagi di sini?" goda Ello lagi, dan Nia pun langsung menutup bibirnya dengan kedua tangannya. Ello pun terkekeh, dan tawa itu terhenti saat Ello melihat seseorang yang duduk di kedai.


"Mas Alan...." ucap Nia, dia masih takut untuk bertemu Alan.


"kamu gak perlu takut, ada aku. Jika dia berbuat macam macam, aku tidak akan tinggal diam!" Ello mengelus kepala Nia, dan memeluknya agar dia tidak menampakan wajah takutnya pada Alan. Kemudian mereka keluar dari mobil, bergandengan melangkah masuk tanpa menoleh pada Alan.


"hay....." sapa Alan kaku. Namun sapaan itu tidak di balas oleh Nia dan Ello.


Alan yang merasa dirinya di lewati begitu saja, hanya bisa menghela nafasnya dengan panjang. Dia menatap pilu pada dua insan tersebut, lalu dia duduk kembali di kursinya.


***


"ada Mas Alan di depan Yah!" ucap Nia, dia tak bermaksud acuh pada Alan. Hanya saja dia enggan menyapa Alan setelah semua yang terjadi dua bulan yang lalu.


"Ayah tahu, Ayah tidak ingin menemuinya. Jika hanya akan meminta maaf dan akan mengulanginya lagi dan lagi!" ucap Pak Ilham sambil memijat keningnya. Nia dan Ello paham dengan perasaan Pak Ilham.


"Ayah, pasti lelah. Biar Nia gantiin, Ayah istirahat dulu...." ucap Nia yang langsung di sela oleh Ello.


"istriku sayang....kamu ajak Ayah istirahat, biar aku yang gantiin Ayah!" ucao Ello manis.

__ADS_1


Nia pun mengajak Pak Ilham duduk di sofa samping meja kasir. Mereka istirahat sambil menyaksikan Ello yang melayani pengunjung dengan cekatan. Nia merasa sangat beruntung bisa mendapat suami baik dan perhatian padanya, bahkan sangat peduli dengan mantan Ayah mertuanya.


__ADS_2