
"Aku ini pria normal Ma," ucap Zac lemas.
"Kalau pria normal, kenapa tadi kau menggelengkan kepala? Dan kenapa kau tak memiliki kekasih." sederetan pertanyaan terus Mama berikan pada Zacky.
"Tadi gak konsen Ma, dan kenapa aku belum punya kekasih. Karena aku masih memilih wanita yang tepat, jika aku sudah mendapatkannya aku akan langsung menikahinya." jawabnya.
"Memangnya wanita yang kau inginkan itu seperti apa?"
"Baik, cantik luar dalam, sopan, tidak bar bar, tidak usil, tidak suka nyuruh nyuruh, tidak seenaknya padaku, tidak mengata ngatai aku, kalau bicara tidak nyolot, tidak memaksa, tidak memarah marahiku, tidak norak, tidak gesrek, tidak--" ucapannya pun di hentikan oleh Mama.
"Cukup cukup, banyak juga syaratnya. Kau mancari kekasih atau sedang mencari pekerja?"
"Lah..yang di tolak itu kan sifat Lena semua Oma, wah..sepertinya sulit untuk membuat mereka dekat. Kenapa Zac sebenci itu sama Lena, jangan jangan.." Lirih Nia.
"Jangan jangan apa?" Tanya Oma dengan berbisik.
"Nanti saja Oma, kita dengarkan dulu obrolan mereka." Mereka pun mendengarkan obrolan Mama dan Zac kembali.
"He..he..mencari kekasih lah," jawab Zac dengan tertawa kecil.
"Apa kau tak menyukai Lena?" Tanya Mama hati hati.
"Kenapa harus Lena sih Ma, tentu saja tidak Ma. Dia tidak masuk kriteriaku," Jawab Zac dengan ekspresi bingung.
"Zac, kenapa kau di situ. Aku dan Papa sudah menunggumu dari tadi, kau malah enak enakan duduk santai disitu. Mau makan gaji buta," Teriak Ello yang melangkah menuju ruang tamu. Namun langkahnya terhenti saat melihat Oma dan Nia yang duduk selonjoran di lantai dan bersandar di bagian belakang sofa.
"Maafkan saya Pak, saya sedang di wawancarai oleh Mama anda Pak!" Sahut Zac formal, dia berdiri dan membungkukkan badannya pada Ello. Namun Ello tak menghiraukan itu, dia berjalan menghampiri Nia dan Oma. Nia melambaiakan kedua tangannya kode agar Ello tak mengahampirinya. Ello tak peduli dengan kode yang Nia berikan, dia justru semakin mendekati Nia dan Oma.
"Aduh..ketahuan," gerutu Nia dengan memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Kalian kenapa duduk di lantai, dan kau Neng Nia sayang duduk di lantai itu dingin. Kasihan anakku," ucap Ello yang membantu Nia berdiri.
"Bu Nia sama Oma sejak kapan disitu?" Tanya Zac ketakutan, karena dia takut di tertawai oleh Nia tentang dia yang salah ucapannya tadi.
"Sejak Anne berkata jika kau tak menyukai wanita," cetus Oma.
"Kau tak menyukai wanita Zac," ucap Ello terkejut.
"Betul itu Sayang, aku mendengarnya loh." Sahut Nia.
"Bukan seperti itu Pak, mereka salah paham. Aku ini pria normal dan masih menyukai wanita. Serius," jelas Zac dengan menunjukan dua jari berbentuk V.
"Aku percaya dengan yang di katakan istriku Zac, jadi kau itu belum juga menikah karena kau itu tidak normal." Ucap Ello dengan tertawa keras.
"Kenapa kalian memojokanku, aku ini normal Kak. Dan Kak Nia dan Oma itu salah paham, iya kan Ma.." Zacky memasang wajah memelas pada Mama agar Mama membelanya dan membenarkannya.
"Benar itu.." Jawab Mama yang membuat Zac bernapas lega.
"Maksud Mama, benar yang di katakan Oma dan Nia barusan." Seketika itu Zac langsung terpaku dengan mulut terbuka lebar. Dia tak percaya jika Mama akan membenarkan Nia dan Oma.
"Pantas saja kau itu tak pernah punya kekasih dan tak berminat untuk mendekati wanita. Apa lagi jika dengan Lena, bagaikan Tom and Jerry. Sepertinya anti banget dekat dekat dengan gadis," ejek Ello bergidik.
"Aku ini normal Kak, apa perlu aku menunjukan kejantananku padamu." Ucap Zac.
"Wah..wah..itu semakin membuatku yakin jika kau itu Gay," Ello menggelengkan kepala dan bergidik.
"Sembarangan," teriak Zac.
"Buktinya kau ingin aku melihat kejantananmu," Ello merangkul pundak istrinya dan menjauh dari Zac.
__ADS_1
"Jangan dekat dekat dengan Om Zac nak, eh..Tante Zac, Ayah sampai salah ngomong!" Sinis Ello dengan mengusap lembut perut buncit Nia.
"Tante..Tante..apa kalian benar benar tak yakin jika aku ini pria beneran." Zacky berkata dengan nada menantang.
"Tidak.." Seru mereka bersamaan.
"Kompak banget, aku akan membuat kalian percaya jika aku ini lelaki sejati. Lihat saja nanti," Zacky pun meninggalkan mereka yang terdiam mendengar ucapan Zac. Dia melangkah menuju ruang kerja untuk menemui Papa. Dia merasa jengah sudah di pojokan oleh keluarga absurd, dan jalan satu satunya segera pergi dan segera menghindari mereka agar tak berlalu panjang.
"Apa yang akan dia lakukan Ma?" Tanya Mama pada Oma.
"Manaku tahu, jika kau bertanya padaku. Aku bertanya pada siapa?" Ketus Oma. Oma dan Mama pun langsung menatap ke arah Ello dan Nia.
"Ello dan Nia juga tidak tahu, kami bukan orang yang bisa menebak pikiran orang!" Sahut Ello yang sudah tahu maksud pandangan tetuanya.
"Aku kembali ke ruang kerja dulu, ingat Neng Geulis jangan lagi lagi bersembunyi di balik sofa. Kasihan babyku," Ello mencium pucuk kepala Nia sebelum meninggalkan Nia.
"Jangan membuat istriku kesusahan," tegas Ello pada Mama dan berjalan menyusul Zac.
"Nasibmu Ne, Binti akan marah padamu. Kau tahu sifatnya jika sudah marah, akan sulit untuk di jinakan. Bisa bisa semua kebohonganmu akan di bongkar ke Jaya," Oma tertawa jahat pada Mama.
"Kebohongan apa Oma?" Nia penasaran kebohongan apa yang sudah Mama lakukan dan di rahasiakan dari Papa.
"Mamamu ini sudah menghabiskan banyak uang dan perhiasannya untuk memenuhi kebutuhan wanita pilihan Mamamu dulu tanpa sepengetahuan Papamu. Dan lebih parahnya, saking ingin anaknya segera menikah. Mamamu rela memberikan mobil mahalnya yang di minta wanita itu, dan berbohong pada Papa jika mobilnya dijual dan uangnya di pinjam Binti untuk modal usaha. Papamu bodoh percaya begitu saja, dan Tantemu itu mengiyakan saja orang mereka kompak menjodohkan Ello dengan wanita itu. Oma sih tahu tapi diam saja, nanti di kira Oma tukang ngadu." Jelas Oma panjang kali lebar.
"Mama.." Lirih Nia dengan menatap Mama.
"Jangan bilang ke Papa ya, nanti dia akan marah besar pada Mama." Mama menunduk lemas.
"Saran Nia, lebih baik Mama jujur deh. Dari pada nanti Papa tahu dari orang lain, lebih baik tahu dari Mama sendiri. Pasti Papa akan maklumi kesalahan Mama," Nia pun memberi saran agar Mama mau jujur.
__ADS_1
Mama pun tak menjawabnya, beliau belum siap jika Papa akan marah padanya. Mau tidak mau Mama berusaha sendiri untuk membuat Lena dan Zac bersatu, agar Tante tidak membongkar kebohongan Mama ke Papa. Nia dan Oma hanya menghela napasnya dengan berat, mereka berdua tak mau ikut campur jika sesuatu yang buruk menimpa Mama. Yaitu kemarahan besar Papa yang tak rela Mama memberi kemewahan pada wanita mur****.
Di dalam kamar Mama merenung dan berpikir, tak butuh waktu lama Mama pun menemukan ide untuk mendekatkan Lena dan Zacky. Mama tak peduli jika idenya akan mendapat omelan dari Papa, yang terpenting Tante tak memberi tahu kebohongannya pada Papa. Mama yakin Zac pasti akan menurut, karena Zac sangat menyayangi Mama seperti menyayangi Mamanya sendiri.