
Di Hotel Mars Jaya.
Terlihat pria tampan dan gagah yang baru keluar dari ruang meeting, dan kini tengah berjalan menuju lift.
"Zac..tunggu!" teriak seorang wanita yang berlari menghampiri pria tampan itu. Dan pria itu menoleh ke belakang, dan menggelengkan kepalanya.
"ada apa lagi..?" tanyanya dingin.
"hey..aku ini atasanmu, bisa bersikap ramah tidak kamu?" ketusnya.
"iya Mbak Lena..ada apa lagi?" ucapnya berusaha lembut.
"besok aku di minta Ello untuk pergi ke Jogja menemuinya, apa kamu juga di minta pergi ke sana?" tanya Lena pada Zacky.
"tidak.." jawabnya singkat.
"ah..tidak mungkin kamu tidak di suruh Ello menemuinya." ucap Lena tak percaya.
"memang Pak Ello tidak memintaku pergi ke sana Mbak." sahutnya dengan menahan kesal.
"ohh..ya sudah, aku kira kamu juga di minta pergi ke sana. Aku ke ruanganku dulu," pamit Lena dan kembali ke ruangannya.
"dasar wanita aneh.." gerutunya saat Lena meninggalkannya begitu saja. "aku tahu kenapa kamu tanya aku seperti itu, jika aku jawab jujur pasti aku akan kamu minta bawain barang bawaanmu saat sudah turun dari pesawat nanti seperti yang sudah sudah. Kita lihat besok Nona bar bar.." gumam Zacky dengan seringai di wajahnya. Pasalnya jika ada meeting di luar kota, dia selalu di minta Lena membawakan barang bawaannya.
"dasar cowok idiot, apa dia benar benar tidak di minta Ello pergi ke Jogja. Mau tanya Ello, malu nanti di sangkain aku ada rasa lagi sama si idiot. Baiklah..biar pun dia gak ikut, aku bisa bawa barang barangku sendiri." gerutu Lena.
"aku berangkat nanti sore saja," ucapnya berbicara sendiri di ruangannya.
**
"sayang..besok Lena biar nginap di rumah kita saja ya!" ucap Nia saat meletakkan kopi favorit Ello di meja kerja Ello. Hari ini dia di ajak Ello ke tempat kerjanya, namun Ello tidak memberi tahu Oma dan Mama jika hari ini Nia tidak di rumah.
"tidak boleh.." tolak Ello.
"memangnya kenapa? Dia sahabat kita lho..!" Tanyanya lesu.
__ADS_1
"dia pasti akan membuat ke onaran sayang..!" Jawab Ello yang bangun dari bangkunya dan menghampiri Nia yang duduk di sofa.
"sayang..aku kangen sama Lena, sudah lama aku dan dia tidak ngobrol bareng. Please..boleh ya..." ucap Nia memohon dengan menggenggam kedua punggung tangan Ello.
"tidak boleh sayang..biarkan dia tidur di hotel saja, lagi pula aku meminta Zacky untuk ke sini juga. Biarkan mereka tidur di hotel bersama!"
"mereka belum menikah, mana boleh mereka tidur bersama!" ucap Nia.
"maksudnya mereka tidur di hotel yang sama tapi beda kamar sayang..!" sahutnya dengan mencubit gemas pipi Nia.
"ah..maafkan Bunda ya Nak, kita tidak bisa bercada ria bareng Tante Lena. Padahal Bunda sangat sangat merindukan Tante Lena, sayangnya dia tidak di bolehin Ayahmu tidur di rumah kita." ucap Nia sembari mengusap usap perutnya.
"ah..baiklah..bar bar boleh tidur di rumah!" jawab Ello lemas.
"terima kasih sayang..." ucap Nia dan mengecup kedua pipi suaminya secara bergantian.
"kamu jangan menggodaku!" ucap Ello dengan tersenyum nakal.
"a-aku tidak menggodamu," ucap Nia yang langsung menggeser duduknya sedikit menjauh dari Ello.
"itu tanda terima kasihku sayang, karena sudah bolehin Lena tinggal bersama kita." jawab Nia dengan mendorong wajah Ello yang mendekatinya.
"ini di kantor, tidak baik jika ada yang lihat." ucap Nia.
"tidak akan ada yang melihat," ucap Ello menggoda. Dia langsung mematuk bibir manis istrinya dengan penuh gairah.
"emmmmm..." Nia tidak bisa melepaskan ciuman panas Ello, dia takut Ello akan melakukan yang lebih dari sekedar ciuman di kantor. Ciuman panasnya semakin dalam, hingga Nia seperti kehabisan oksigen. Nia memukul mukul punggung Ello, namun tidak di hiraukan olehnya. Ello tetap melanjutkan aksinya, sampai sampai dia tidak sadar ada ketukan pintu.
"astaga....kita datang di waktu yang salah Ma!" teriak Mama dengan mengalihkan pandangannya.
"Mama..Oma.." pekik Ello dengan nafas yang terengah engah. Lalu dia berdiri merapikan pakaiannya, begitu juga dengan Nia. Dia nampak kesal pada Ello, dia merasa malu karena perbuatan Ello tadi.
"kalau masuk ke ruangan Bos, ketuk pintu dulu. Apa perlu di beri tulisan jika masuk harus ketuk pintu?" ketus Ello yang langsung menghampiri Oma dan Mama yang membelakanginya.
"apa kamu itu tuli..kita sudah gedor gedor pintu sekencang itu, kamu tidak mendengarnya." Teriak Mama dengan menghentakkan kedua kakinya karena kesal pada Ello.
__ADS_1
"apa kamu mendengar ketukan pintu sayang..?" tanya Ello pada Nia yang sedang menunduk di sofa.
"mana aku bisa mendengarnya, kamu saja membuatku susah bernapas. Gak konsen dengerin suara di luar," gerutu Nia kesal.
"kau itu suami kejam," omel Oma dengan membalikan tubuhnya dan langsung memukul Ello dengan tas andalannya.
"ampun Oma..ampun..." Pekik Ello.
"itu pelajaran buatmu, sudah membuat cucu mantuku sulit bernapas. Suami gend*ng!" omel Oma yang terus memberi pukulan pada Ello.
"terus Ma...terus..pantatnya itu belum kena. Lebih kencang lagi Ma, kesal aku sama anak itu. Berani beraninya membuat menantuku susah bernapas." Ucap Mama yang kini tengah duduk santai di sofa bersama Nia.
"ampun Oma..." ucap Ello pasrah dan terduduk di lantai.
"jika sampai kamu buat Nia seperti itu lagi, Oma bikin kamu juga sulit bernapas mau kamu..." Ucap Oma yang menghentikan pukulannya dan duduk menghampiri Nia.
"kamu tidak apa apa kan Nak?" tanya Oma.
"tidak Oma," jawab Nia tersenyum.
"tunggu..kenapa Oma sama Mama ke sini?" tanya Ello yang duduk bersila di lantai.
"tentu saja ingin menemui menatuku!" jawab Mama.
"bukannya tadi aku sudah memberi pesan Bibi, jangan memberi tahu Oma sama Mama jika Nia aku ajak ke kantor." ucap Ello.
"aku yang kasih tahu Mama, karena Mama tadi mengirim pesan terus terusan padaku. Ya sudah aku jawab kalau aku di sini," jawab Nia dengan nada yang masih sedikit kesal.
"huft..aku mengajakmu ke sini itu supaya kamu tidak di ganggu oleh Oma dan Mama. Ini kamu malah kasih tahu Mama, jadi keganggukan kesenangan kita tadi." ucap Ello kesal.
"kesenangan gund*lmu," gerutu Oma.
"ah..gak asyik kerja ada Oma dan Mama, bikin konsentrasiku pecah saja. Tadinya kalau kerja dengan menatap Nia pasti akan lebih semangat, ini bikin aku lemas saja." Gerutu Ello.
Ello kembali ke tempat duduknya dengan perasaan kesal, dia pun kembali bekerja dengan menatap laptopnya. Dia tersenyum saat melihat wajah cantik istrinya, dan senyum itu langsung mengkerut saat melihat wajah mengesalkan Oma dan Mamanya.
__ADS_1