Antara Aku Dan Maduku

Antara Aku Dan Maduku
Part 99. Kekasih Johan


__ADS_3

Malam yang sama di tempat lain, di kediaman keluarga Bu Dina. Johan membawa seseorang yang tadi siang dia jemput di Bandara, dia memperkenalkannya pada Mama dan Adiknya.


"Jadi wanita ini yang kamu jemput tadi siang?" Tanya Mama.


"Iya, kami berdua sudah lama berpacaran Ma. Hanya saja Jo belum ada waktu untuk mengenalkannya pada Mama." Jawab Johan.


"Mama ingin bicara berdua denganmu," ucap Bu Dina dan langsung berdiri.


"Bicara apa lagi Ma?" Tanya Jo malas.


"Tante tinggal sebentar ya Nak," ucap Bu Dina lembut. Dessy pun mengangguk dan tersenyum manis. Beliau menarik paksa anaknya menuju kamar beliau.


"Hai Kak, tadi siapa namanya? Aku lupa," tanya Catty basa basi saat Mama dan Kakaknya berlalu.


"Dessy.." Jawabnya santun.


"He..he..Maaf ya kak, aku orangnya agak agak pikun. Oh..iya Kak Dessy kenal Kak Johan dimana? Dan sudah berapa lama berpacaran, Kak Dessy kerja di mana dan sebagai apa? Kak Des__" Pertanyaannya terpotong oleh bungkaman suaminya. "em..." pekiknya dan mencoba membuka bungkaman tangan Romi.


"Kau ini, Kak Dessy ini calon Kakak iparmu. Bukan pasienmu yang harus kau beri banyak pertanyaan sayang." Ucap Romi.


"Tidak apa apa Mas, kami sudah lama saling mengenal. Aku dan Johan satu profesi, jadi kami mengenal di pengadilan. Dan kami sudah satu tahun ini menjalin hubungan lebih dari teman." Jawab Dessy.


"Oh..kenal di pengadilan, pasti saat Kak Jo menjadi lawan Kak Dessy."


"Betul, waktu itu kami berlawan menangani kasus perceraian yang sangat rumit. Nah..saat itulah Jo pertama kalinya kalah dalam menangani kasus perceraian." Jelas Dessy.


"Oh.." Ucap Catty dan Romi bersamaan dengan mengangguk anggukan kepala.

__ADS_1


"Jadi Kak Dessy ini lawan terberat Kak Jo!"


"Tidak juga Mbak--" Ucapannya di sela oleh Catty.


"Eits..jangan panggil Mbak, panggil nama saja Kak. Catty dan Romi!" Ucap Catty yang menyela ucapan Dessy.


"Betul itu Kak, kami ini adik Kak Jo, jadi panggilnya jangan seformal itu." Sahut Romi.


"Oke..Catty..Romi,"


Mereka bertiga pun mengobrol banyak, dan Catty sudah merasa sangat cocok dengan Dessy. Orangnya ramah dan santun dalam ucapannya, Catty rasa jika Dessy adalah wanita baik dan cocok untuk Kakaknya.


**


Di kamar Bu Dina,


"Kau bawa wanita itu dari mana?" Tanya Bu Dina curiga.


"Maksudnya kau menyewanya dari mana?"


"Aish..Mama pikir anakmu ini laki laki seperti itu." Ucap Jo kesal.


"Jangan karena Mama kemarin mendesakmu, dan kau langsung putuskan untuk menyewa perempuan. Kasihan anak gadis itu,"


"Dia benar kekasihku Ma, kami sudah lama berpacaran. Jadi Mama salah sudah menuduhku seperti itu." Jo pun mendengus kesal dan menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Jika dia kekasihmu, kenapa kamu tidak pernah mengenalkan pada Mama. Dan kenapa kau tidak pernah bilang ke Mama?" Jo kini tengah merasa di wawancarai oleh seorang wartawan televisi.

__ADS_1


"Aku belum ada waktu untuk mengenalkan pada Mama, dia juga tengah sibuk dalam pekerjaannya. Dan kenapa aku tidak pernah katakan, karena aku takut cepat cepat di suruh Mama menikah." Awal berbicaranya tegas, namun di akhir kalimat Jo bersuara lemas.


"Kenapa takut?" Tanya Mama.


"Aku takut akan gagal seperti klien klienku Ma, perceraian itu sangat menyakitkan." Ucap Jo.


"Ha..ha..kau takut perceraian?" Tanya Mama dan Jo pun mengangguk.


"Jo..Jo..kau itu pengacara. Seharusnya kau jadikan itu pelajaran, bagaimana caranya kau harus menciptakan kerukunan, keharmonisan dalam rumah tanggamu. Jangan kau jadikan itu trauma dalam hidupmu, kau ambillah sisi baiknya. Dan kau pastinya tahu apa yang membuat mereka bercerai, dan jangan sampai kau membuat kesalahan seperti mereka."


"Tapi Ma__"


"Tapi apa? Jangan lagi lagi kau menyewa perempuan hanya untuk membuat Mamamu senang. Jika memang belum punya kekasih, ya sudah jujur saja Jo!"


"Ma..Dessy itu memang kekasih Jo Ma, apa wajahnya itu seperti wanita bayaran." Lagi lagi dia mendengus kesal karena Mamanya tidak percaya dengannya.


"Memang dia terlihat baik dan tidak ada tampang wanita mur*h*n. Hanya saja Mama ingin sekali mendekatkan kamu dengan Lala!" Ucap Mama dengan hati hati.


"What..Mama ingin mendekatkanku dengan wanita mur*h*n itu..!" Pekik Johan, dia tak habis pikir jika Mamanya ingin dia dan Lala dekat.


"Jaga kata katamu Jo, jangan kau berkata seperti itu tentangnya. Dia itu perempuan baik baik,"


"Mama tahu dari mana dia perempuan baik baik, Mama bisa mengatakan jika Dessy perempuan bayaran. Tapi Mama menilai wanita jal***g itu baik, padahal Mama tidaklah tahu kehidupannya itu seperti apa." Ujar Johan kesal.


"Mama tidak bermaksud mengatai Dessy seperti itu, hanya Mama belum percaya jika kau dan dia itu benar benar serius. Dan Lala itu memang baik lugu dan polos, dia juga cantik, mandiri entah mengapa Mama ingin sekali dia menjadi bagian keluarga kita." Tutur Bu Dina lembut.


"Aku tak habis pikir dengan Mama, kenapa dia selalu menilai orang hanya karena dia baik dan lugu. Karena yang baik dan lugu belum tentu baik, seperti layaknya Papa dan Bulek dulu." Gumam Johan dalam hati, dia mengepalkan tangannya mengingat kejadian di saat dirinya berumur tiga tahun.

__ADS_1


Walau terbilang masih terlalu kecil, namun dia sedikit sedikit mengingat kejadian berat yang menimpa Ibunya. Hingga akhirnya Bu Dina menceritakan semuanya setelah Jo masuk kuliah. Dan saat itulah dia selalu merenung, dan satu satunya teman yang menguatkannya adalah Ello.


"Aku tak akan pernah sudi, dia menjadi bagian dari keluargaku. Asal Mama tahu, dia itu wanita yang sudah menghancurkan rumah tangga sahabatku. Dan dia juga melukai hati dan perasaan sahabatku, hingga sahabatku memilih pergi dari suaminya!" Ucap Jo jujur dan dia menjelaskan dengan berteriak kesal membayangkan wajah mengesalkan Lala dan Alan.


__ADS_2