Antara Aku Dan Maduku

Antara Aku Dan Maduku
Part 86. Lala


__ADS_3

Di tempat lain, terlihat wanita yang sedang sibuk merapikan dan meletakan roti baru ke dalam etalase. Wanita itu adalah Lala, wanita yang dulu menjadi madunya Nia. Wanita yang kini tengah pergi dan menjauh dari kehidupan Alan.


"Lala, ini bukan tugas kamu La. Biar saya saja!" ucap Nadin rekan kerjanya di toko roti.


"tidak apa apa Din, ini sudahlah tugas semua karyawan di toko ini!" ucap Lala lembut, dan masih melakukan aktivitasnya.


"kamu duduk saja di meja kasir, nanti kalau ada pembeli yang mau bayar kelamaan nungguin kamu!" pinta Nadin yang langsung merebut keranjang roti dari tangan Lala.


"tuh kan, ada yang mau bayar!" ucap Nadin saat ada pegunjung yang tengah berdiri di depan meja kasir.


"he..he..iya sudah, aku ke sana dulu!" sahut Lala yang langsung berjalan menuju meja kasir.


Setelah pembeli pergi, Lala pun duduk dan menuruti kata kata Nadin agar tetap duduk di mejanya. Dia mengamati semua pergerakan Nadin yang begitu lihai dalam mengerjakan pekerjaannya. Aktivitasnya terganggu oleh kegaduhan seorang wanita dan pria yang sedang melangkah ke dalam toko.


"dasar perempuan gak tahu diri, berani beraninya kamu menggoda suami saya!" kata kata yang tengah wanita itu tujukan pada Lala.


"maksud Ibu apa? Siapa yang menggoda Pak Romi?" tanya Lala bingung.


"pantas saja suamiku lebih betah di toko, ternyata kamu yang membuatnya pergi pagi pagi dan pulang malam. Kau pasti sudah menggoda suamiku!" bentak wanita itu dan langsung menjambak rambut indah Lala.

__ADS_1


"aw...aw...sakit Bu..." pekik Lala dengan menahan tarikan wanita itu.


"hentikan Cat...dia tidak pernah menggoda aku, Lala itu perempuan baik baik Cat.." teriak pria itu yang tak lain dan tak bukan adalah menantu pemilik toko kue tempat Lala bekerja.


"perempuan baik baik tidak mungkin menggoda suami orang, pecat dia atau aku pecat kamu sebagai suamiku!" ancam istri Pak Romi.


"baik aku pecat dia, tapi hentikan dulu perbuatanmu Catty. Kau sudah menyakitinya!" bentak Pak Romi tak mau kalah. Dan Bu Catty pun menghentikan aksinya, sedang Lala meringis kesakitan karena ulah Bu Catty.


"maafkan saya La, saya harus memecatmu. Dan saya juga minta maaf atas kesalah pahaman ini." ucap pak Romi


"tidak apa apa Pak, saya mengerti. Saya sangat berterima kasih pada Pak Romi dan Ibu Dina, karena sudah mau menerima saya kerja di sini." ucap Lala dengan berusaha tersenyum, walau hatinya sakit sudah di tuduh menggoda suami orang. Jelas jelas dia tidak melakukan itu.


"siapa yang berani memecat Lala dari toko ini!" bentak Bu Dina.


"a..aku Ma," ucap Catty.


"beraninya kamu memecat karyawan pilihan Mama, toko ini milik Mama. Kenapa kamu berani beraninya memecat karyawan Mama, apa hakmu!" ucap Bu Dina dengan menatap tajam pada anaknya.


"Catty..kenapa kamu berani memecat karyawan Mama?" teriak Bu Dina karena tidak mendapat jawaban dari anaknya.

__ADS_1


"dia menggoda Romi Ma.." rengeknya penuh manja, berbeda saat dia membentak Lala tadi.


"atas dasar apa kamu menuduh Lala menggoda suamimu."


"Romi berubah Ma, dia pergi pagi dan pulang malam. Sampai sampai dia tak punya waktu untuk aku!" rengeknya yang langsung bergelayut manja pada lengan Mamanya.


"dia pulang malam bukan karena Lala, Mama meminta Romi untuk mengelola toko cabang baru kita. Dan jaraknya dari rumahmu itu kisaran dua jam, ya wajarlah dia pulang malam terus!"


"apa itu benar Rom?" tanya Catty dengan menatap tajam pada suaminya.


"iya Cat, aku di minta Mama mengelola toko cabang!"


"kenapa kamu tidak mengatakan itu padaku!" protesnya dengan memanyukan bibirnya.


"bagaimana aku mengatakan itu, jika kamu saja tidak pernah mau mendengarkan ucapanku!" jawab Romi.


Lala pun bernapas lega karena tidak jadi di pecat oleh Romi dan Catty karena kesalah pahaman ini. Dan Catty pun minta maaf pada Lala dan dia juga meminta Lala untuk mau berteman dengannya. Lala merasa senang, akhirnya dia mempunyai teman baik di kota yang dua bulan ini dia singgahi. Dia pun kembali mengingat Nia.


"apa kabar Nia dan Ello? Semoga Ello adalah lelaki yang tepat untuk Nia. Dan semoga Mas Alan menyesali semua kesalahannya,!" gumamnya sambil menatap ponsel yang ada di genggamannya. Ingin rasanya dia menghubungi Nia dengan nomor barunya, namun dia tak ada keberanian. Dia begitu malu pada Nia, apa lagi dengan ulah konyolnya yang berencana mengahancurkan pernikahan Nia dengan Ello..

__ADS_1


__ADS_2