Antara Aku Dan Maduku

Antara Aku Dan Maduku
Part 105. Ayah memaafkan Alan


__ADS_3

Empat bulan sudah Alan dan Ayah lewati dengan kebersama yang serasa canggung. Karena Ayah belum juga luluh pada perlakuan baik Alan, sebenarnya Ayah merasa kasihan pada Alan. Karena setiap hari Alan selalu mengikuti kemana pun Ayah pergi, bahkan saat menjenguk Nia ke Jogja pun Alan mengikutinya. Walau tak ikut masuk ke rumah Ello, karena dia masih merasa malu jika bertemu dengan keluarga besar Ello.


Bahkan Alan rela meninggalkan usahanya di Ibu Kota dan di Tangerang, usaha yang dia impi impikan. Semua pekerjaannya di ambil alih oleh kepercayaannya. Kepercayaannya akan datang seminggu sekali ke Bandung, untuk memberi laporan padanya.


Dan hari ini Ayah memutuskan akan mengatakan pada Alan, jika beliau memanglah sudah memaafkannya. Dan beliau sudah tak tahan ingin memeluk putra tunggalnya, putra yang begitu beliau rindukan. Beliau benar benar salut pada putranya, karena Alan sudah benar benar menunjukan sikap baik dan pedulinya pada Ayahnya. Hingga melupakan dirinya sendiri dan melupakan soal hatinya dan percintaannya.


Memang saat ini Alan enggan mencari cinta, setelah kegagalannya dengan Nia dan Lala. Dia tidak ingin mencari cinta secepat itu, karena dia takut cintanya akan berubah menjadi obsesi. Lagi pula dia masih ingin meluangkan waktu untuk selalu dekat dengan Ayah, karena waktunya selalu ia habiskan untuk bekerja dan membesarkan usahanya.


"Ayah ingin bicara denganmu Al," ucap Ayah yang membuat Alan terdiam. Karena biasanya Ayah tak pernah berkata Ayah ataupun menyebut namanya. Ayah hanya akan berkata aku dan kamu, atau saya dan anda, tentu saja Alan sangat senang dan bahagia.


"Iya Yah, Ayah ingin bicara apa?" Tanya Alan antusias.


"Ayah tidak suka basa basi, Ayah hanya ingin mengatakan jika Ayah sudah memaafkanmu." Ucap Ayah dengan menitihkan air matanya.


"Ayah serius, apa ini mimpi!" Alan pun memukul mukul kedua pipinya, dia pikir ini mimpi ternyata ini benar nyata.

__ADS_1


"Maafkan sikap Ayah yang selalu acuh denganmu, dan maafkan Ayah sudah membuatmu kesulitan."


"Jadi Ayah benar benar sudah memaafkan aku?" Tanyanya memastikan, Ayah hanya mengangguk dan tersenyum.


"Terima kasih Yah, aku bahagia Ayah sudah memaafkanku. Aku janji takkan pernah membuat Ayah kecewa lagi, aku sadar jika Ayah lebih berarti dari segalanya. Aku janji aku akan selalu menjaga Ayah," ucap Alan yang berlutut dan mencium tangan Ayah tanpa henti.


"Pesan Ayah, selain menjadi anak yang berbakti. Jadilah laki laki yang bisa menjaga perasaan wanita, jadilah laki laki yang penuh dengan tanggung jawab. Jadilah laki laki yang penuh cinta dan kasih sayang bukan di penuhi obsesi, jadilah laki laki yang berwibawa, beretika dan bisa menjaga nama baik keluarga. Dan kesalahan fatalmu harus kau jadikan pelajaran, agar tak kembali membuat kesalahan seperti itu lagi." Ucap Ayah dengan menepuk nepuk pundak Alan dengan lembut.


"Alan janji takkan pernah lagi membuat Ayah kecewa, dan takkan pernah mengulangi kesalahan yang sama. Alan sadar jika menghargai seorang perempuan itu sangat penting, karena itu sama dengan kita menjunjung tinggi derajat Ibu. Hanya saja Alan belum juga mendapat maaf dari Lala Yah, dan aku tidak tahu dia pergi kemana. Saat Alan datang ke tempat Ibunya, Lala tak ada di sana bahkan Ibunya tak tahu kemana Lala pergi." Ucap Alan dan dia pun menangis di depan Ayah.


Rindu yang sempat tertahan karena kecewa, kini telah terobati. Ayah sudah membuang jauh jauh kekecewaannya, dan rasa lega pun telah memenuhi hatinya. Kini seorang Ayah dan Putranya saling berpelukan, melepas rindu yang sudah satu tahun lebih tertahan.


"Tapi Yah, Lala sebenarnya tinggal di Panti. Dia anak yatim piatu, aku takut jika aku berkata jujur pada Ibu Panti. Lala akan di benci oleh Ibu Pantinya, dan pasti akan di larang kembali ke Panti." Ucap Alan, Ayah pun melepas pelukannya dan menatap tak percaya pada putranya.


"Al, Ayah benar benar tak percaya kau berani menyakiti dua wanita yatim piatu. Tapi apalah daya itu sudah terjadi, apa pun resikonya. Kau harus meminta maaf pada mereka, dulu kau meminta Lala dengan baik baik, dan kau harus berani mempertanggung jawabkan semuanya. Dan bicaralah pada Ibunya agar beliau tak membenci Lala, dan Ayah juga ingin meminta maaf padanya." Ayah menepuk nepuk kembali pundak Alan.

__ADS_1


"Kenapa Ayah meminta maaf?" Tanyanya dengan menatap Ayah.


"Jika seorang anak berbuat kesalahan, itu artinya Ayahnya juga bersalah karena tak bisa menasehatinya. Maka Ayahnya juga harus meminta maaf atas kesalahan anaknya,"


"Ayah tidak salah, ini semua salahku yang tak pernah mengingat apa yang Ayah ajarkan padaku. Aku menikahi Lala tanpa Ayah ketahui, itu artinya Ayah tidaklah salah." Alan menatap Ayah dengan sendu.


Ayah tak menjawab beliau kembali memeluk anaknya, karena beliau sadar kesalahan yang Alan lakukan bermula dari beliau. Saat ini beliau hanya ingin memeluknya dan tak ingin mengungkit ungkit kembali. Hati Ayah sudah merasa plong tak ada lagi beban yang membuat dadanya sesak setiap harinya.


Keesokan harinya, Ayah dan Alan sarapan bersama dengan suasana hangat dan di iringi obrolan dan candaan ringan. Tak seperti sebelumnya yang terasa kaku, canggung dan hanya suara piring dan sendok yang beradu. Selesai sarapan Ayah dan Alan bersiap untuk pergi ke Ibu kota menemui Ibu asuh Lala.


"Bismillahirrahmaanirrahiim," ucap Ayah di dalam mobil.


"Semoga Bu Surti mau memaafkanku, dan tak menyalahkan Lala." Gumam Alan dalam hati.


Di dalam perjalanan, Ayah dan Alan tak henti hentinya bercerita. Pak Ratno pun sangat senang melihat Tuan dan anak Tuannya sudah akur, beliau tersenyum melihat wajah Ayah yang tak pernah terlihat sebahagia ini sebelumnya. Bahkan selama beberapa bulan Alan tinggal di rumah Ayah, Ayah hanya menunjukan sikap dingin dan kaku terhadap Alan.

__ADS_1


__ADS_2