Antara Aku Dan Maduku

Antara Aku Dan Maduku
Part 56. Kutu Duit


__ADS_3

Pagi hari di kediaman Keluarga Sanjaya tampak bising, karena Oma dan Bu Sanjaya merebutkan seorang pria. Agar pria itu mau menemani kemana pun mereka pergi.


"hentikannnnn..." teriak Pak Sanjaya. Seketika Oma dan Bu Sanjaya menghentikan acara tarik menarik tangan Ello.


"astagaaa, Oma dan Mama benar benar keterlaluan," umpat Ello dengan mengibas ngibaskan kedua tangannya yang tadi di terik oleh kedua wanita yang begitu dia sayangi.


"Mama, ikut Papa. Karena Papa harus menemui klien dan Mama harus menemani Papa sampai selesai!" titah Pak Sanjaya tegas pada istrinya.


"tapi Pa..." ucapan beliau terpotong oleh perkataan Pak Sanjaya.


"tidak ada tapi tapian Ma, ayo cepat!" titah Pak Sanjaya lagi.


"sudah temani suamimu, jadilah istri yang penurut!" kelakar Oma. Ello dan Oma pun tertawa kecil, melihat Bu Sanjaya yang harus ikut suaminya dengan terpaksa.


Ello bernafas lega, karena Mamanya gagal mempertemukannya dengan gadis pilihan Mamanya. Sedang Oma sangat senang karena bisa mengajak Ello berkunjung ke Kedai Nia, tanpa gangguan dari Mamanya.


"Anne..kita Lihat siapa yang akan di pilih Ello untuk menjadi pasangan hidupnya." gumam Oma dalam hatinya, dengan seringai di wajahnya.


Oma dan Ello menuju Kedai Kopi Una Putri. Namun sesampainya di kedai, kedai itu belum buka.


"kita datangnya ke pagian Mars..." ucap Oma dengan nada sedikit kecewa.


"Oma sih, kan bukanya jam sepuluh, kenapa Oma jam delapan sudah mengajak kesini." protes Ello. "kerajinan banget...," gumam Ello dengan tersenyum geli melihat Omanya yang terlihat masam.


"karena Oma terlalu bersemangat...." seloroh Oma. Mereka pun tertawa, dan pergi meninggalkan Kedai itu.


Ingin rasanya Oma selalu dekat dengan Nia, dan berharap bisa menjadi istri untuk cucunya. Walau beliau tahu, Nia belum ingin membuka hatinya untuk pria mana pun. Namun Oma berusaha ingin membuat Nia menghilangkan rasa trauma, karena pernikahan sebelumnya.


Oma tidak akan memaksa Nia bersama Ello, tapi tak salah jika Oma berharap mereka bisa berjodoh. Oma juga tahu Nia hanya menganggap Ello sebagai sahabatnya, tapi hati orang siapa yang tahu.


Pukul 10.00.WIB, Kedai Kopi Una Putri sudah buka. Oma dan Ello adalah pengunjung pertama yang memasuki Kedai tersebut. Nia dan Pak Ilham menyambutnya dengan ramah.

__ADS_1


"pagi Oma...." sapa Nia dari meja kasir.


"pagi sayang...." sapa Oma balik. Nia yang belum pernah di panggil sayang oleh orang lain selain kedua orang tuanya dan Pak Ilham, kini merasa senang.


"ini untukmu Nia," ucap Oma kembali dengan menyodorkan sebuah paper bag pada Nia. "dan ini untuk Nak Ilham...," ucap Oma yang juga memberikan paper bag pada Pak Ilham.


"ini apa Oma?" tanya Nia bingung.


"ini untukmu, anggap saja tanda perkenalan Oma!" jawab Oma cepat.


"terima kasih banyak Oma, seharusnya Oma tidak perlu repot repot!" ucap Nia


"itu sama sekali tidak merepotkan Oma," ucap Oma dengan tersenyum.


"terima kasih banyak Bu, mari duduk Bu..." ajak Pak Ilham. Beliau mempersilahkan tamunya duduk dan membawakan Oma dan Ello jamuan.


Mereka pun kembali mengobrol, untung saja jam segini masih sedikit sepi pengunjung. Jadi Nia bisa lebih tenang saat menemani Oma mengobrol.


Pukul 12.30.WIB.


Di depan perusahaan Ayu Group, seperti biasa Alan mencari tahu tentang keberadaan Nia lewat rekan kerja Nia.


"apa kamu sudah berhasil mencari tahu keberadaan Nia?" tanya Alan pada salah satu rekan kerja Nia dulu.


"maaf Pak, saya sudah mencari tahu lewat atasan saya. Namun dia berkata jika dia tidak tahu kemana Nia pergi. Dia hanya bilang jika Nia hanya mengundurkan diri dengan tiba tiba, itu pun juga di wakilkan oleh seseorang." jelas rekan kerja Nia.


"siapa orang yang mewakilkan Nia?" tanyanya lagi.


"Pak Hendri bilang, seorang pria Pak!" jawabnya.


"seorang pria? Apa jangan jangan itu Ello...!" geram Alan dengan mengepalkan kedua tangannya.

__ADS_1


"katanya sih, Ayahnya Pak!" ucapnya kembali.


"Ayahnya," pekik Alan terkejut. Orang itu pun menganggukan kepalanya.


"itu artinya Ayah yang menyuruh Nia mengundurkan diri. Kenapa aku bisa bodoh seperti ini, seharusnya aku mencari Nia ke Bandung. Aku harus ke sana sekarang..." gumam Alan dalam hatinya.


"kenapa Ayah tega melakukan ini padaku." gumanya kembali.


"ini untukmu, terima kasih sudah mau membantu saya!" ucap Alan sambil memberikan amplop coklat berisikan uang pada rekan Nia.


"terima kasih Pak!" ucapnya dengan membungkukan badannya, lalu Alan melajukan mobilnya menuju Bandung.


Lena tak sengaja melihat semuanya dari balik gerbang, namun tak mendengar obrolan Alan dan rekannya itu.


"aku mencium bau bau persekongkolan." gumam Lena. Lalu menghampiri rekannya yang hendak masuk kembali ke kantor.


"ehem...." deheman Lena membuat rekannya terkejut.


"kamu tidak makan siang Len?" tanyanya berusaha bersikap biasa agar Lena tak curiga padanya.


"aku lihat kamu menemui seseorang, siapa orang itu?" kini Lena menekannya.


"ohh..itu teman lamaku?" sanggahnya.


"aku tak percaya kamu berteman dengan Alan?"


"kalau tak percaya ya sudah...," ucapnya lalu segera meninggalkan Lena.


"hey...kutu...aku belum selesai." teriak Lena. Namun rekannya langsung berlari dengan sangat cepat.


"percuma kamu Alan, aku saja gak tahu di mana Nia. Apa lagi kutu duit itu, mau kamu cari ke Bandung pun jejak kaki Nia juga gak bakalan kamu temui...." lirih Lena dan tertawa penuh kemenangan dari Alan.

__ADS_1


__ADS_2