
Alan mengajak Ello ke sebuah Restaurant yang tak jauh dari kedai. Mereka tak memesan makanan, mereka hanya memesan dua gelas minuman.
"apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Ello sembari menyecap minumannya.
Alan mengungkapkan semua beban di hatinya, dia juga meminta maaf pada Ello. Karena dia sudah banyak menuduh Ello dan dia juga meminta maaf sudah berniat memisahkan Ello dengan Nia.
Ello merasakan ketulusan dari ucapan Alan, dia pun ingin membantu Alan untuk memperbaiki hubungan antara anak dengan Ayahnya. Dia juga merasa jika Pak Ilham sangat merindukan anaknya, namun rindu itu tertutup oleh sebuah kekecewaan.
"El, aku mohon. Bahagiakan Nia, aku percaya kamu adalah pria yang tepat untuknya." ucap Alan saat Ello akan turun dari mobilnya.
"tanpa kamu minta, aku pasti akan membahagikannya!" jawab Ello.
Alan pergi, dan melajukan mobilnya menuju tempat penginapannya.
"kok temannya gak di ajak masuk dulu El,"
"oh...dia sedang buru buru Yah, jadi tidak bisa mampir!" sahut Ello.
"kita Sholat Maghrib berjama'ah!" ajak Pak Ilham.
๐ฟ๐ฟ
Selesai Sholat Maghrib, mereka kedatangan tamu yang selalu membuat Nia senam jantung.
"Mars.....Nia...." teriak Oma saat menghampiri Ello, Nia dan Pak Ilham.
"Oma...ngapain kesini?" tanya Ello heran.
"memang kenapa melarang Oma ke sini, ini kedai bukan milikmu! Jadi kamu gak berhak melarang Oma ke sini," jawab Oma dengan suara nyaringnya.
"memang bukan milikku, aku yakin Oma sama Mama akan buat masalah."
"kamu itu suudzon saja sama Mama dan Oma!" sahut Mama.
__ADS_1
"Oma boleh ke sini kapan saja Oma mau," ucap Pak Ilham dengan tersenyum.
"tuh boleh datang kapan saja Ma, bahkan tengah malam juga boleh. Ya kan Ham....!" sahut Mama tanpa beban. Oma langsung memberikan pukulan pada lengan Mama.
"kenapa kau itu selalu mengajakku ribut!" ucap Oma dengan sinisnya.
"ya gak tengah malam juga lah Ne, dari jam buka sampai tutup saja. Oma boleh datang," ucap Pak Ilham dengan tertawa kecil.
"memang besanmu itu selalu sentimen denganku Nak, kalau ngomong sepedas cabe dieng. Orangnya pingin menang sendiri, gak suka kalau Oma senang sedikit saja!" ketus Oma yang membuat Mama melebarkan kedua matanya dengan wajah merah padam.
"bisa bisanya Mama bicara seperti itu di depan Ilham, selama ini yang selalu ingin menang sendiri dia kenapa jadi aku. Sabar...sabar Ne, semua pasti ada hikmahnya!" batin Mama dengan wajah gregetnya, dan mengusap dadanya.
"iya Ma, memang aku ini selalu salah. Pingin menang sendiri, bahkan ucapanku selalu pedas." ucap Mama penuh penekanan.
"itu tahu..." ucap Oma tersenyum penuh kemenangan.
"kenapa kalian selalu saja berdebat, apa tidak ada topik lain selain berdebat!" ucap Papa menengahi.
"tidak apa apa Pa, jika tidak seperti itu. Mungkin rumah Papa akan terasa sepi," sahut Nia.
Karena kamar di rumah Ayah hanya ada empat kamar, jadi Oma dan Mama tidur satu kamar di kamar tamu. Sedang Papa tidur bersama Ayah, di kamar Ayah. Selesai makan malam mereka masuk ke kamar masing masing, namun Oma dan Mama justru masuk ke kamar Nia dan Ello. Beliau membuka pintu kamar tanpa mengetuknya, membuat Ello dan Nia terlonjak.
"kenapa Mama sama Oma ke sini, kamar kalian ada di sebelah kamar Melly. Masuk tidk permisi..." gerutu Ello.
"Mars- Oma boleh tidur sama Nia tidak?" tanya Oma dengan lembut dan dengan suara manja.
"iya El, Mama juga mau tidur sama menantu Mama!" kini Mama menampakan wajah memelas dan memohon.
"kenapa mau tidur sama Nia, jika Oma sama Mama tidur sama Nia. Ello tidur sama siapa?" tolak Ello tak setuju.
"sekali ini saja Mars, kamu tidur sendiri lah di kamar tamu!" ucap Oma dengan bergelayut manja pada lengan Ello. Namun ada seringai di wajahnya.
"tidak, kalian mengganggu saja. Ah...nyesel tadi menyetujui kalian menginap di rumah Ayah." dengus Ello kesal.
__ADS_1
"boleh kan Nia..." ucap Mama memohon, Nia hanya tersenyum. Dia tidak tahu mau menjawab apa, jika mereka tidur dengannya pasti akan membuatnya susah. Jika menolak, Nia takut mereka akan marah.
"tidak boleh..." sahut Ello.
"boleh..." teriak Oma dan Mama kompak.
"tidak boleh..."
"boleh..." jawab Nia lembut.
"ti-dak. Kenapa kamu bolehin sayang, mereka itu mengganggu kita." protes Ello saat Nia menyetujui permintaan Oma dan Mama.
"Nia saja setuju, kamu keluar Mars..." sahut Oma senang, Oma dan Mama kompak menarik paksa Ello untuk keluar kamarnya sendiri.
"Oma sama Mama keterlaluan..." gerutu Ello saat dirinya berhasil di usir dari kamarnya sendiri. Dia melangkah gontai ke kamar tamu, dengan mulut yang komat kamit.
"berhasil..." ucap Oma dan Mama bersamaan.
"berhasil apa Oma?" tanya Nia bingung. Mereka pun menghampiri Nia yang tengah duduk di ranjang.
"berhasil tidur dengan menantu cantik dan cucu Mama!" sahut Mama dengan membaringkan tubuhnya di samping Nia.
"sudah malam cepat kita tidur, dan kamu jangan mendengkur Ne..."
"mana mungkin Anne mendengkur." jawab Mama.
"tidur jangan berisik, ayo Nia kamu cepat istirahat Nak!" Nia menurut dan membaringkan tubuhnya, dia tidur di tengah tengah Oma dan Mama.
"tadi nyuruh aku jangan mendengkur, justru dia sendiri mendengkur!" gerutu Mama saat Oma sudah terlelap dan mendengkur keras.
"astaga Mama, berisik sekali...kita tidur di kamar lain saja Nia...jika Omamu berisik seperti itu, mama tidak bisa tidur." ajak Mama tak tahan.
"tapi Ma, Oma sendirian. Nanti Oma pasti mencari kita," ucap Nia tak tega.
__ADS_1
"biarkan saja, suruh siapa ngorok kenceng seperti itu. Ha..ha.. Mama ada ide..." ucap Mama dan beliau mengambil ponselnya. Lalu mereka keluar kamar dan meninggalkan Oma tidur sendiri di kamar Nia dan Ello.
Sebenarnya ini semua adalah rencana Oma, karena sudah di kerjai Ello dengan mengajak Nia bersembunyi di butik. Dan membuat Oma kalang kabut saat tahu Nia hilang karena ulah cucu kesayangannya sekaligus cucu terusilnya. Jadi Oma dan Mama kompak mengerjai Ello balik. Dan sekarang Oma di kerjai balik oleh Mama.