Antara Aku Dan Maduku

Antara Aku Dan Maduku
Part 96. Kisah sedih Bu Dina


__ADS_3

Dinna Bakery.


Semua karyawan terlihat sibuk, ada yang sedang mengemas roti dan ada yang mengantar pesanan ke tempat Customer. Dan yang paling terlihat sibuk adalah di bagian produksi, para pekerja sibuk mengadoni, memanggang roti dan kue, dan ada juga yang menghias cake pesanan pelanggan. Sedang Lala sibuk membantu pengemasan dan mondar mandir ke meja kasir untuk mengecek barang yang akan di kirim oleh karyawan laki laki.


"Dia pekerja keras, aku rasa dia bukan gadis manja. Dia terlihat baik dan kalem, dan juga cantik." Gumam Bu Dina saat melihat Lala yang cekatan dalam bekerja.


"Ini tas yang Mama minta, lain kali jangan menyusahkan Jo. Dan lain kali jangan melupakan barang terpenting di rumah atau pun di mobil Jo." Gerutu Johan saat memberikan tas yang Mamanya minta untuk di antarkan, karena tas tertinggal di rumah.


"Kau ini, kalau di mintai tolong Mama pasti selalu begitu. Ayo ke ruangan Mama," Ajak Mama dengan menarik tangan Jo.


"Jo gak bisa Ma, Jo harus pergi ke Bandara menjemput seseorang!" Tolak Jo dengan menahan dirinya agar tidak di tarik oleh Mama.


"Menjemput siapa?" Tanya Mama dengan mengeryitkan dahinya, karena jika Jo pulang ke Surabaya dia tidak pernah mau di minta untuk menjemput temannya atau pun saudaranya di Bandara.


"Ini rahasia, jadi Mama tidak boleh tahu!" Ucap Jo dengan senyuman.


"Rahasia apa? Siapa sih yang kamu jemput?" Tanya Mama lagi, karena beliau sangat penasaran.


"Ini adalah kejutan untuk Mamaku sayang, jadi kalau aku kasih tahu namanya bukan kejutan!" Jawab Johan dengan memeluk Mamanya dengan penuh kasih.


"Mama jadi penasaran," ucap Mama yang membalas pelukan anaknya. Dan seseorang pun melihat keharmonisan Anak dan Ibu itu.


"Mereka begitu saling mengasihi, andaikan saja aku punya orang tua. Pastinya aku tidak akan merasakan kesendirian seperti ini," ucap Lala dengan menitihkan air matanya. Dia tersenyum getir melihat Bu Dina dan Johan yang saling mengasihi.

__ADS_1


"Bagaimana ya rasanya di peluk seorang Ibu dan Ayah, pasti itu sangat menyenangkan. Sayang sekali, aku tak pernah merasakan itu. Anda sangat beruntung Pak Johan, punya Ibu yang begitu menyayangimu." Ucap Lala tersenyum.


"Apa kau lihat lihat, aku congkel mata kau baru tahu rasa!" Ketus Johan dengan menatap tajam pada Lala yang memperhatikan kegiatannya.


"Ma-maaf Pak," ucap Lala yang langsung mendelik dan kembali fokus pada kerjaannya.


"Kau ini, jangan ketus ketus pada seorang gadis." Ucap Mamanya dengan mencubit perutnya dengan sangat kencang.


"Aw..aw..Mama hentikan, kau tega dengan anakmu ini. Sakit Ma.." Pekik Johan dengan meringis kesakitan.


"Jadi laki laki jangan ketus ketus, mana ada wanita yang mau mendekat jika kau seperti itu!" Ucap Bu Dina yang langsung melepaskan cubitannya.


"Gadis dari Hongkong..untuk apa aku bersikap manis pada wanita ja--" Jo tak meneruskan kata katanya, hampir saja dia keceplosan. Belum saatnya dia mempermalukan Lala di depan Mamanya, karena dia ingin mempermalukan Lala dan Alan bersamaan.


"Wanita ja--ja--," Johan tampak berpikir.


"Ja..ja.., Jaja Miharja maksudmu?" Seloroh Mama dengan tertawa.


"Ah..aku lupa mau berkata apa, aku buru buru Ma. Anak tampanmu harus pergi dulu Mama Cantik," pamit Johan dengan mencium punggung tangan Mamanya dan mencium pucuk kepala Mamanya.


"Hati hati, jangan ngebut ngebut."


"Siap Ratu Dina," seloroh Ello dengan memberi hormat pada Mamanya.

__ADS_1


"Dasar anak menyebalkan," sahut Bu Dina dengan terkekeh.


"Menyebalkan tapi sangat Mama rindukan jika aku tak pulang kan." Teriak Johan dari dalam mobil.


"Kau itu.." Ucap Mama tersenyum dan melambaikan tangannya pada Johan.


"Kenapa aku tak pernah melihat Si Alan di sini, tunggu..tunggu..kenapa dia ada di kota ini." Gumam Jo sambil berpikir. "Bukannya dia itu sekertaris Hans suaminya Sinta, kenapa dia bisa bekerja di toko Mama. Dan kenapa aku bisa lupa untuk menanyakan soal Lala yang di terima kerja oleh Mama. Ah..gak penting, bukan urusanku. Tunggu saja pembalasanku pada kalian.." Imbuh Jo yang memang belum mengetahui soal perceraian Alan dan Lala.


**


Kini Bu Dina tengah duduk di ruangannya, dia tampak sedih. Beliau menyandarkan tubuhnya dan menatap langit langit ruangan.


"Andaikan Papamu masih ada di sini, pasti dia akan sangat bangga padamu Jo. Dan dia lasti akan sngat menyesal telah memberi duri tajam pada kita. Andaikan di pernikahan Mama dan Papa tidak ada wanita lain, mungkin keluarga kita akan sempurna dan akan semakin bahagia." Gumam Bu Dina dengan menitihkan air matanya, membayangkan betapa sakitnya dulu yang terkhianati oleh suami yang sangat dia sayangi.


"Tapi semua sudahlah terjadi, dan Mama sangat bahagia melihat kamu yang sudah sukses. Dan Mama juga bahagia setelah mendapat Cucu dari adikmu, dan Mama akan lebih bahagia jika bertambah cucu darimu Jo." Gumam Mama sambil memeluk potret masa kecil Johan dan Catty.


Suami yang harusnya menjadi sandarannya di kala sang istri bersedih, justru dia yang melukai hati dan perasaan istrinya. Papa Johan Berselingkuh dan menikah sirih dengan adik kandung Bu Dina, yang begitu mengguncang jiwa Bu Dina. Dan yang semakin membuat beliau hancur hingga membuat beliau semakin depresi yaitu saat mengetahui mereka memiliki anak yang usianya beda dua tahun dari Johan. Dan saat itu Bu Dina tengah mengandung Catty, hingga Bu Dina di bawa ke Psikiater karena depresi.


Dan Papa Johan dan adiknya Bu Dina pun mendapatkan balasan yang setimpal. Mereka mengalami kecelakaan yang mengakibatkan mereka meninggal di tempat, sedang anak mereka selamat dan Bu Dina menyerahkan anak itu ke Panti Asuhan setelah Bu Dina sembuh dari depresi. Dan Bu Dina menerima lapang dada takdir hidupnya yang kelam, dan beliau berjuang seorang diri membesarkan Johan dan adiknya hingga mereka dewasa dan sukses. Beliau menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi. Dan kini Johan bekerja sebagai Pengacara dan Catty sebagai Dokter Spesialis Onkologi satu tahun belakangan ini.


Dan mulai dari situlah, beliau sangat membenci yang namanya pelakor. Beliau berharap tidak akan ada lagi pelakor di dalam kehidupan rumah tangga anak anaknya kelak. Dan bagaimana jika beliau mengetahui masa lalu kelam seorang Lala yang sebenarnya? Apa beliau masih akan berbaik hati pada Lala, atau beliau akan memecat Lala dari pekerjaannya?


"Bagaimana kabar Adela, semoga kau bahagia Nak. Maafkan Budhe yang tak bisa merawatmu Nak, karena Budhe takut akan melukaimu karena di sini kamu tidaklah bersalah."

__ADS_1


__ADS_2