Antara Aku Dan Maduku

Antara Aku Dan Maduku
Part 38. Surat Gugatan


__ADS_3

Keesokan hari, kini mereka berada di ruang makan untuk sarapan. Bu Sri yang baru saja membukakan pintu dan kembali masuk ke dalam. Dia memberikan sebuah amplop pada Alan. Amplop yang Bu Sri terima dari seorang kurir.


"apa ini Bu? tanya Alan santun.


"dari pengadilan, katanya untuk Aa Alan!" jawab Bu Sri.


"pengadilan...," ucap Alan terkejut. Dia menatap Nia, dia tak percaya Nia benar benar melakukannya. Dia pikir hanya gertakannya saja agar dia bisa berlaku adil pada Nia.


"kamu cukup baca dan tanda tangan saja!" ucap Pak Ilham. Kini Alan menatap Pak Ilham, dia juga tak percaya jika Ayahnya benar benar mendukung perceraian yang Nia inginkan.


Alan pun membacanya, benar dugaannya. Surat gugatan cerai dari Nia, kini dia merasakan ada rasa sakit di dalam dadanya.


Kini Alan menatap sendu pada Nia, Lala yang melihat wajah sendu suaminya. Dia tidak tega, dia semakin merasakan ada cinta di hati Alan untuk Nia.


"apa yang harus aku lakukan," gumam Lala dalam hati. Lena yang melihat Lala sedang memikirkan sesuatu, berdiri dan menghampiri Lala.


"dan kau Nona, jangan berbuat macam macam!" bisik Lena pada Lala. Lalu dia kembali ke tempat duduknya dengan seringai di wajahnya.


"bagaimana Al, apa kau bersedia tanda tangan?" tanya Pak Ilham.

__ADS_1


"apa Ayah tidak takut, kalau ini akal akalannya Nia untuk mendapatkan sebagian harta kita? Makanya dia minta cerai agar secepatnya tujuannya tercapai." tanya Alan curiga. Sebenarnya dia tidak bermaksut seperti itu, tapi dia berharap Pak Ilham tidak setuju dengan keputusan Alan.


"aku bukan wanita seperti itu, aku tidak minta sepeser pun harta darimu Mas. Aku memang orang miskin, tapi jangan seenak enaknya kamu hina aku. Aku hanya ingin bebas dari derita ini, aku hanya minta kamu tanda tangani surat cerai itu!" sahut Nia. Dia menahan air matanya agar tidak keluar.


"benarkah? Aku yakin setelah kita berpisah. Kamu pasti akan minta gono gini padaku," ketus Alan.


"jaga kata katamu Al, kamu benar benar tak punya adab. Kenapa kamu bisa bicara tanpa kamu berpikir dulu, itu menyakiti hati orang lain atau tidaknya!" geram Pak Ilham.


"aku sudah terbiasa di hina oleh Mas Alan Yah. Mungkin di mata Mas Alan aku ini wanita hina, makanya dia tak pernah menganggapku ada!" tutur Nia. Kini air mata yang tertahan di pelupuk matanya pun keluar, dia mengingat kembali kata kata Alan yang selalu merendahkannya.


"maafkan kata kata anak Ayah yang tidak beradab itu Nak!" Pak Ilham pun menghampiri Nia dan menenangkan Nia agar bisa kuat.


"maksut aku bukan seperti itu Nia, aku hanya ingin kamu membatalkan perceraian ini. Aku ingin memulainya dari awal," gumam Alan dalam hati. Tidak ada keberanian darinya untuk berkata jujur, karena dia sudah terlalu menyakiti hati dan perasaan Nia.


"aw....ww....," Alan yang mendengar Lala memekik langsung menatapnya.


"kamu kenapa La?" tanya Alan khawatir.


"tidak apa apa Mas, kakiku hanya kram saja!" jawab Lala berbohong. Dia melihat Lena yang menatapnya dengan tajam.

__ADS_1


"ayo aku antar ke kamar!" ajak Alan. Dia juga bermaksut untuk lari dari suasana ini.


"biar aku saja yang mengantarkan Lala, dan kau selesaikan urusanmu Al!" sahut Lena. Dan Alan pun kembali duduk, karena Lala sudah di gandeng oleh Lena.


"cepat tanda tangan Al, kamu tahu kan di mana kamu harus tanda tangan." ujar Pak Ilham.


"aku ambil dulu penanya," tutur Alan. Tapi alasannya itu selalu gagal, karena Pak Ilham dan Lena selalu bisa membuat Alan tidak bisa lari dari masalah ini.


"jangan mengulur waktu, cepat tanda tangan!" bentak Pak Ilham dengan melempar pena pada Alan.


Dan mau tidak mau Alan pun menandatangani surat gugatan cerai yang Nia ajukan. Nia pun tersenyum, perasaanya bercampur aduk. Antara senang dan sedih, dia senang akhirnya sebentar lagi dia akan berpisah dengan Alan. Tapi dia sedih karena cinta itu benar benar tak terbalas.


Setelah tanda tangan, Alan pergi meninggalkan Nia dan Pak Ilham di ruang makan. Dia benar benar merasa sedih, kenapa dia baru menyadari jika dia mencintai Nia. Dan sekarang terlambat, cinta atau tidak cinta Nia tetap akan meminta pisah dengannya.


Di teras rumah, Lena mengajak Lala ke teras. Dia tidak membawa Lala ke kamarnya, karena ada yang ingin Lena bicarakan dengannya.


"Nona, sudah ku bilang jangan macam macam. Masih saja kau mencoba pengaruhi Alan," geram Nia.


"apa kau tidak melihat jika Mas Alan juga mencintai Nia?" tanya Lala.

__ADS_1


"apa nona tidak mendengar perkataan Nia kemarin. Alan mencintai Nia atau tidak, itu tidak akan mengubah keputusan Nia!" ketus Lena.


"jika kamu masih macam macam, awas kamu Nona!" ancam Lena pada Lala. Lalu meninggalkan Lala yang masih tertegun karena ancamannya.


__ADS_2