Antara Aku Dan Maduku

Antara Aku Dan Maduku
Part 37. Pengacara


__ADS_3

Di Cafe Wiguna.


Pak Ilham, Nia dan Lena sudah duduk di dalam ruangan Pak Ilham. Mereka menunggu pengacara datang untuk membahas soal perceraian Nia dan Alan.


"semoga Pengacara yang Ayah pilih bisa mengurus perceraianku dengan Mas Alan secepatnya!" gumam Nia dalam hati. Dia terlihat gelisah, dia memikirkan apa mungkin proses perceraiannya bisa berlangsung cepat.


"kamu kenapa Nak?" tanya Pak Ilham dari meja kerjanya.


"Nia...Nia tidak apa apa Yah," jawab Nia gugup.


"kamu harus yakin, jika semua akan berjalan dengan lancar. Ayah memilih pengacara hebat agar proses perceraianmu dengan Alan tidak berbelit belit. Pengacara ini tidak perlu di ragukan lagi Nak, kamu tidak perlu khawatir!" ujar Pak Ilham.


"terima kasih Yah, Nia merasa sedikit tenang." ucap Nia dengan tersenyum.


Tak menunggu waktu lama, Pengacara itu pun datang juga.


"selamat siang Pak Ilham." sapa Pengacara setelah masuk dalam ruangan Pak Ilham, dengan di antar salah satu karyawan kafe.


"selamat siang Pak Johan, silahkan duduk!" ucap Pak Ilham, mempersilahkan duduk pada Pengacara buat Nia.


Nia dan Lena yang sedang duduk di sofa, mereka penasaran dengan wajah Pengacara yang Pak Ilham pilih. Karena posisinya memunggungi Nia dan Lena.


"terima kasih Pak, karena sudah mau membantu perceraian menantu saya dan anak saya," ucap Pak Ilham. Setelah Pak Ilham berbicara banyak hal tentang masalah Nia pada Pengacara.


"sama sama Pak, saya usahakan semua bisa selesai secepatnya!" ujar Pengacara. Pak Ilham tersenyum, beliau yakin ini sudahlah keputusan yang benar.

__ADS_1


"Nak sini," panggil Pak Ilham pada Nia. Nia pun menghampiri Pak Ilham, dia ingin tahu siapa pengacara tersebut. Karena dari suaranya Nia dan Lena merasa tak asing.


"kenal kan ini menantu saya Nia...," ucap Pak Ilham. Nia yang berdiri di samping Pak Ilham terkejut saat melihat Pengacara tersebut. Begitu juga Pengacara itu tak kalah terkejutnya.


"Thania...," pekik Pengacara.


"Johan...," Lena yang mendengar Nia menyebut nama Johan, langsung berdiri dan menghampiri Pengacara tersebut.


"Johan...," teriak Lena. Dia menepuk pundak Johan dengan begitu keras.


"au...sakit..," pekik Johan.


"Lena..," ucap Johan tekejut. "kau masih sama saja seperti Lena yang dulu. Bar bar!" imbuh Johan kesal.


"aku memang Pengacara hebat," ucap Johan bangga. Membuat Pak Ilham bingung dan bertanya.


"apa kalian saling mengenal?" tanya Pak Ilham bingung. Lalu beliau menatap Nia dan Lena bergantian.


"Johan ini teman kuliah Nia sama Lena yah," jelas Nia. Pak Ilham mengangguk angguk dan tersenyum.


"Om, apa tidak ada pengacara lain selain dia Om?" tanya Lena. Dan Johan langsung menatapnya tajam.


"memang kenapa denganku? Walau dulu aku kuliahnya tidak pintar pintar amat. Sekarang aku terbukti selalu berhasil dalam menghadapi masalah klien ku!" ucap Johan bangga.


"kamu tidak perlu dengarkan kata kata Lena, Jo. Aku percaya kamu bisa mengurus perceraianku dengan suamiku!" ucap Nia. Dia yakin sahabatnya bisa membantunya dalam perceraiannya dengan Alan.

__ADS_1


"aku pasti akan membantumu agar segera bercerai dengan suamimu!" sahut Johan.


"maaf Pak Ilham, saya tidak terima. Teman saya di sakiti oleh anak Bapak, tapi saya berterima kasih karena Bapak sudah membela teman saya!" ucap Johan pada Pak Ilham.


"saya juga sangat kecewa dengan anak saya, maka dari itu. Saya ingin mereka berpisah agar Nia bisa mendapatkan kebahagiaannya," ujar Pak Ilham. Beliau berdiri dan mengusap lembut kepala Nia dengan penuh kasih, lalu beliau merangkulnya.


Mereka lanjut membahas apa saja yang di perlukan untuk menggugat cerai Alan. Nia tidak minta harta gono gini, dia hanya minta agar secepatnya bisa bercerai dengan Alan. Johan pun mengerti perasaan Nia, dia berjanji agar semua tidaklah berbelit belit.


"akan aku usahakan, kamu dan suamimu segera bercerai dalam satu bulan ini!" ucap Johan yakin.


"terima kasih Jo," ucap Nia.


"jika tidak selesai dalam satu bulan. Akan aku ganti pengacara yang lain," ketus Lena. Dia masih meragukan Johan, dia takut Johan tidak bisa behasil membuat Nia dan Alan bercerai.


"jika suami Nia menyetujui dan menandatangani surat gugatannya. Itu akan lebih mudah Len!" ucap Johan.


"Alan pasti mau tanda tangan dan setuju. Asal Lala tidak membujuk Alan agar tidak tanda tangan!" ucap Lena. Nia pun cemas jika apa yang di katakan Lena itu benar. Bagaimana jika Lala melarang Alan, untuk tidak tanda tangan surat gugatannya.


"Len, kamu jangan membuatku takut!" ucap Nia.


Johan kembali menenangkan Nia, jika perceraiannya akan tetap berhasil. Karena Alan memang terbukti bersalah dengan berpoligami dan tidak bisa adil pada Nia.


"Len, seharusnya kamu beri Nia semangat. Support Nia, jangan malah kau buat Nia takut!" tutur Johan.


"iya maaf," ucap Lena.

__ADS_1


__ADS_2