
"Alan, apa kau tahu. Kenapa proses perceraian kalian bisa lebih cepat dari waktu yang di tentukan?" tanya Jo pada Alan yang kini duduk berhadapan dengan dirinya.
"itu karena kau licik, aku baru tahu jika kau teman Nia. Apa jangan jangan kamu menyukai Nia, dan sengaja mempercepat perceraian kami agar kamu bisa segera memiliki Nia seutuhnya!" tukas Alan pada Johan.
"kau itu memang pria berotak kotor dan berotak ciut. Pantas saja Nia lebih memilih bercerai denganmu di banding bertahan dengan pria pecundang sepertimu!" sinis Johan.
"bisa bisanya kau menuduh Johan seperti itu, ini semua kesalahanmu Al... Jika saja kamu tidak melakukan hal yang ceroboh seperti kemarin, mungkin perceraian kalian tidak berakhir secepat ini," ucap Sinta membela Johan. Kemarin Ello yang di tuduh, sekarang Johan pun juga terkena tuduhan Alan.
"diam Kau" ucapnya dengan menunjuk Sinta. "aku bukan pecundang...," bentak Alan pada Johan.
"jika bukan pecundang, kenapa kau menyakiti hati seorang wanita. Dengan cara menikah dan mengacuhkannya dirinya, itu sama dengan pecundang. Kau tahu Nia tidak pantas mendapat suami seperti kau," bentak Johan.
"dan aku yakin jika Nia akan kembali pada diriku," ucap Alan percaya diri. Dia tersenyum sinis pada Johan.
"jangan mimpi kau Alan," Kini mereka saling menatap tajam.
"Alan, biarkan Nia bahagia. Dan jangan kau ganggu lagi dia, cinta itu merelakan bukan memaksakan.." ujar Sinta, Kini Alan menatapnya tajam.
__ADS_1
"jika aku tak merelakan, kau mau apa?" tutur Alan dengan menatap Sinta tajam. Lala yang mendengar kata kata Alan, langsung merasakan sakit yang begitu hebat di dalam hatinya.
"kenapa hatiku terasa sakit mendengar kata kata Mas Alan. Dia benar benar sudah mencintai Nia, aku memang rela jika Mas Alan mencintai Nia. Tapi itu kalau mereka masih ber suami istri, sedang mereka sudah bukan suami istri. Tentu saja hatiku terasa sakit dan tak rela....." gumam Lala.
"kau itu pria macam apa Al, jika kamu memang cinta pada Nia, kamu harus mendukung Nia agar bisa bahagia.." ujar Sinta kesal. Dia kini benar tahu sifat Alan, tak sebaik yang dia kira selama ini.
"bahagianya Nia, jika nanti kembali bersamaku." ucapnya percaya diri.
"ada hal yang lebih penting lagi," ucap Johan menyela pembicaraan Sinta dan Alan.
"katakan, aku tak punya banyak waktu...," ucap Alan.
Namun Alan tetap kekeh tidak ingin memberi apa pun pada Nia, kecuali Nia sendiri yang memintanya. Keegoisannya tidak bisa hilang, walau dia mencintai Nia dan sudah kehilangan Nia. Johan dan Sinta hanya bisa menggelengkan kepala, bagaimana bisa ada manusia over egois seperti Alan.
Dia tetap akan mengejar cinta Nia, sampai Nia luluh pada dirinya. Dia tidak terima cintanya di abaikan begitu saja oleh Nia, di tinggal di saat cinta itu sudah tumbuh dari hatinya.
*
__ADS_1
Di dalam mobil Pak Ilham, Nia masih bersandar di bahu Pak Ilham. Sedang Pak Ratno masih bingung dengan Tuannya dan anak anak Tuannya itu. Dia dan istrinya belum tahu jika Alan dan Nia sudah bercerai, dan dia juga bingung saat Alan dan Lala tidur di kamar yang sama dan tidur pisah dengan Nia. Karena Pak Ilham memang tidak bercerita pada siapa pun, beliau juga enggan bercerita soal Lala.
"Ayah tetaplah Ayah mu Nia, jangan takut. Ayah tidak akan menjauhimu, Ayah kan sudah berjanji pada mendiang orang tuamu." ucap Pak Ilham lembut. Beliau begitu perhatian pada Nia, mengusap lembut kepala Nia.
"Yah, Nia ingin ziarah ke makam Ayah dan Ibu!" pinta Nia. Dia menyeka air matanya dan mencoba tersenyum.
"Pak Ratno, kita ke TPU ya Pak!" titah Pak Ilham.
"baik Pak," jawab Pak Ratno.
Sesampainya di TPU, Nia duduk di samping makam Ayah dan Ibunya yang berdampingan. Dia membacakan Surat Yasin dan di akhiri dengan doa untuk Ayah dan Ibunya.
"ampuni dosa dosa Ibu dan Ayah hamba, terimalah mereka di sisimu dan tempatkanlah mereka di surgamu Ya Allah, Aamiin..." ucap Nia dengan mengusapkan kedua telapak tangannya pada wajahnya.
"Halimah....Maulana.... Maafkan aku, aku sudah membuat anak kalian bersedih. Aku sudah salah telah menjodohkan Nia dengan Alan, hanya karena aku percaya jika Alan akan melindungi dan menyayangi Nia. Dan caraku itu ternyata salah...," gumam Pak Ilham. Beliau menangis karena merasa bersalah pada Ayah dan Ibu Nia.
Nia mencurahkan isi hatinya di hadapan makam Ayah dan Ibunya. Dia berjanji akan menjadi wanita mandiri dan kuat, agar Pak Ilham tidak terlalu memikirkan dirinya.
__ADS_1
"ayo kita pulang Yah, Ayah harus segera istirahat." lirih Nia. Pak Ilham pun mengangguk, sambil mengusap usap batu Nisan Ayah dan Ibu Nia.
"Ayah Ibu, Nia dan Ayah Ilham pulang dulu....," ucap Nia sambil mengecup batu nisan orang tuanya.