
"kau....kenapa kau bisa ada di sini...." pekik Ello dengan menghempaskan tubuh seseorang saat membalikkan badannya.
"Ello...aku...aku mencintaimu..." ucapnya sambil memeluk tubuh Ello yang hanya memakai handuk setengah badan. Ello yang memang tak pernah mau di sentuh oleh wanita apa lagi di peluk wanita yang bukan dia cintai, langsung menghempaskan kembali tubuhnya.
"jangan berani menyentuhku, kau sudah gila. Sama seperti suamimu....." bentak Ello lalu dia segera masuk kembali ke dalam kamar mandi. Dia menyiram kembali tubuhnya karena telah di sentuh wanita itu. Karena rasa risihnya sampai sampai dia lupa mengusir perempuan itu, agar pergi dari dalam Villanya.
Pintu kamar mandi di ketuk, namun Ello enggan membukanya. Dia terus menyiram tubuhnya di bawah shower, agar dia merasa bersih dari sentuhan tangan wanita itu.
"kenapa dia bisa masuk ke Villa dan masuk ke kamarku? Aku sudah menyuruh mereka berjaga ketat, dan melarang orang asing untuk masuk. Kenapa perempuan jalang itu bisa masuk ke sini...." gumam Ello dalam kamar mandinya.
"apa dia sudah pergi....?" Ello pun pelan pelan membuka pintu kamar mandinya, dan mengintainya. Apakah wanita itu sudah pergi atau masih berada di kamarnya.
Ello pun keluar dengan mengendap endap, dia tidak mau di sentuh lagi oleh wanita itu.
"kau wanita...." teriak Ello dan hampir saja mengucapkan kata kata kasar, dan ingin melempar orang yang mencoleknya dari belakang.
"kamu kenapa marah marah El, apa aku punya salah sama kamu?" tanya Nia sedikit terkejut dengan bentakan Ello.
"em...maafkan aku Nia, aku pikir tadi..." Ello tak melanjutkan kata katanya, dia merasa bingung. Karena tadi ada wanita asing berada di kamarnya dan tiba tiba memeluk tubuhnya.
"kamu kenapa El, kamu pikir aku siapa? Apa ada orang lain di kamar kita?" tanya Nia penuh selidik. Tak biasanya Ello bersikap aneh seperti orang kebingungan.
"nanti aku ceritain, ayo kamu bebersih dulu. Aku tungguin di sini," pinta Ello dan mendorong Nia ke kamar mandi. Sedang dia berdiri de depan pintu kamar mandi, sembari mengawasi seluruh sudut kamarnya, dan memastikan jika wanita itu benar benar sudah pergi.
"aku harus mengumpulkan para penjaga, kenapa bisa mereka lalai dan sampai kelolosan!" gumamnya sembari mengepalkan kedua telapak tangannya.
Setelah Nia selesai mandi dan berganti pakaian, Nia merasa risih karena Ello mengikutinya terus di sampingnya.
__ADS_1
"kamu kenapa sih El, kamu seperti menyembunyikan sesuatu dariku." ucap Nia.
"tadi ada Lala di sini...." ucap Ello jujur, Nia terkejut mendengar Lala ada di tempat ini.
"maksudnya di kamar ini?" tanyanya yang di jawab anggukan oleh Ello. "ada apa dia ke sini El? Apa dia ke sini bersama Mas Alan?"
Ello menceritakan semuanya pada Nia, jika Lala tiba tiba datang dan memeluknya. Tapi saat dia keluar dari kamar mandi untuk membersihkan diri, Lala sudah tidak ada dan yang ada justru Nia. Untuk memastikan Ello mengecek CCTV dan mengumpulkan para penjaganya.
Dan benar, jika yang masuk ke dalam Villa dan kamarnya adalah Lala. Dia mengaku sebagai saudara Nia dan di suruh Nia untuk datang ke Villa, dan bodohnya para pengawal percaya begitu saja.
"bukankah sudah ku perintahkan untuk tidak mengijinkan orang asing masuk, kecuali ada perintah dariku." omel Ello pada para penjaganya.
"sudah El, sebaiknya kita cari tahu. Kenapa Lala ke sini dan apa maksud dan tujuan melakukan itu!" Nia mencoba menenangkan Ello agar tak lagi memarahi penjaganya.
"tapi mereka lalai Nia, jika sampai wanita jalang itu melukaimu mereka semua akan ku bunuh hidup hidup!" para penjaga yang mendengarnya hanya bisa menelan salivanya dengan begitu susah.
"iya, kembali ke tempat kalian masing masing!" pinta Nia agar Ello tak lagi memarahi mereka.
"jaga yang benar!" perintah Ello tegas.
"ba...baik Tuan," mereka pun kembali berjaga.
Ello dan Nia kembali mengamati gambar di laptopnya, melihat semua gerak gerik Lala saat memasuki Villa hingga keluar Villa. Mereka tak melihat Lala meletakkan sesuatu atau melakukan hal yang mencurigakan di seluruh ruangan Villa. Hanya saja saat keluar dari kamar Ello dan Nia dia terlihat gugup dan terburu buru.
"tidak ada yang mencurigakan, lalu kenapa dia me...luk..mu El?" ucap Nia merasa ragu untuk bertanya.
"aku gak tahu, kamu cemburu?" goda Ello.
__ADS_1
"aku..aku gak cemburu. Kamu benar kan gak ada hubungan apa apa dengannya?"
"demi Allah, aku gak ada hubungan apa pun dengan wanita itu. Kamu tidak percaya denganku Nia?" tanya Ello memelas, dia menatap sendu pada Nia.
"aku percaya kamu tidak ada hubungan dengannya, sebaiknya kamu lihat cctv di kamar!" pinta Nia.
"hm..." Ello pun mengecek cctv yang ada di kamar, kamera itu hanya tertuju ke area tertentu kecuali ranjang dan sekitarnya.
Di situ Lala terlihat meletakkan ponselnya di atas meja depan sofa. Dan kejadian saat Lala memeluk Ello tak bisa dilihat di cctv, tapi Nia percaya jika Ello memang tak ada hubungan dengan mantan madunya.
Setelah beberapa saat, Nia dan Ello bisa menyimpulkan gerak gerik Lala di dalam kamarnya. Saat masuk meletakkan ponsel, dan saat akan keluar mengambil kembali ponselnya dan melihat sesuatu di ponselnya. Lalu dia seperti berbicara pada seseorang melalui ponselnya, dan dengan terburu buru dia pergi dari kamar itu.
"jika mereka merencanakan sesuatu, kita juga harus bisa merencanakan sesuatu yang lebih dari mereka. Kita pura pura saja tidak tahu!" ucap Ello dengan menyandarkan tubuhnya di sofa.
"tapi jika Ayah tahu bagaimana? Pasti Ayah sangat kecewa dengan mereka, dan pasti Ayah akan syok tahu Mas Alan hanya berpura pura baik dan berubah."
"kita kasih tahu pelan pelan pada Ayah, Oma dan juga Mama Papa, pasti mereka mengerti. Dan dengan begitu kita bisa bekerja sama menjalankan rencana kita, dan kita harus bisa membuat mereka berdua jera, Nia..." ucap Ello.
Dan akhirnya mereka memberitahu Pak Ilham, Oma dan juga Bu Sanjaya. Kecuali Pak Sanjaya yang tengah ada meeting dadakan di luar kota, beliau sendiri yang belum tahu semuanya.
Bu Sanjaya terkejut jika Alan anak Pak Ilham mempunyai sifat yang mirip psikopat. Beliau tak menyangka orang sebaik Pak Ilham, sifatnya tidak bisa menurun ke anaknya. Pantas saja Nia memilih pergi darinya ketimbang bertahan dengannya.
"rencana harus tersusun rapi, jika nanti Alan melakukan sesuatu. Kita harus bersikap seolah terkejut, dan seolah kita tak mengetahui rencana busuknya!" ucap Ello memperingatkan yang lain agar bisa kompak.
"maafkan kelakuan anak Ayah, semoga dengan ini dia bisa sadar jika kelakuannya ini sangatlah salah!" Pak Ilham tertunduk lemas, kesekian kalinya beliau di bohongi Alan.
"Ayah jangan sedih, kita berdoa agar Mas Alan bisa berubah dan kembali menjadi anak yang baik untuk Ayah!" Nia tak tega melihat Pak Ilham terus menyalahkan dirinya, jelas jelas semua itu adalah kesalahan Alan sendiri.
__ADS_1