Antara Aku Dan Maduku

Antara Aku Dan Maduku
Part 127. Gusar


__ADS_3

"Ello, kamu salah paham El." Ucap Ridho sedikit teriak pada Ello.


"Singkirkan tangan kotormu dari pundakku," teriak Ello yang langsung menepis tangan Ridho yang menyentuh pundaknya.


"Ello, dengarkan aku dulu." Teriak Ridho.


"Diam kamu, aku tidak mau mendengar kata katamu." Ucap Ello yang masih menangis.


"Terserah kamu El," ucap Ridho yang langsung berdiri meninggalkan Ello.


Dan beberapa Perawat mendorong ranjang Nia keluar ruang operasi. Ello masih terduduk dan enggan berdiri untuk melihat wajah istrinya. Sedang Lena langsung menyeka air matanya dan menghampiri Nia.


"Nia.." Ucap Lena dengan memeluk tubuh Nia.


"Maaf Bu..kami harus segera memindahkan pasien ke ruang rawat!" Ucap Salah satu perawat, Ello yang mendengar langsung berdiri dan menghampiri istrinya yang terbaring lemah. Dia membelai lembut wajah Nia.


"Nia..kamu baik baik saja kan Sayang.." Lirih Ello. Hatinya begitu kacau melihat istrinya terpejam di atas ranjang.


"Cepat bawa pasien ke ruangannya Sus!" Perintah Ridho kembali.


"Baik dok!" Perawat pun membawa Nia ke ruang rawat, dan kondisinya masih tidak sadarkan diri.


"Nia baik baik saja kan Dho?" Tanya Ello yang menatap sendu pada Ridho. Seolah dirinya ingin mendengar berita baik dari mulut sahabatnya. Namun Ridho hanya diam saja dan berlalu meninggalkan Ello dan juga yang lainnya.


"Dho.." Teriak Ello dan dirinya hendak mengikuti Ridho, namun langkahnya terhenti saat Johan memanggilnya.


"Bukankah kamu meminta dia untuk diam, Ridho seperti itu karena perkataanmu yang kelewatan El. Saat ini dirimu menjadi orang yang begitu egois tidak mau mendengarkan apa yang ingin di sampaikan orang lain terhadapmu." Ucap Johan yang melihat sikap sahabatnya.


"Sebaiknya kamu lihat keadaan Nia, biarkan aku dan Zac menemui Ridho!" Ucap Lena dengan menarik tangan Zac dan dia berjalan cepat untuk menemui Ridho.


Sedang Ello melangkah cepat ke ruangan Nia, namun karena dirinya masih berpakaian yang penuh dengan darah dan tangan yang terluka. Perawat menyarankan Ello untuk berganti pakaian dan mengobati lukanya. Setelah luka terobati dan berganti pakaian, ia bergegas melihat istrinya.


"Sayang..bangunlah, anak anakmu terlahir sehat. Mereka ingin melihat Bundanya bangun dan menggendong mereka. Kamu adalah Ibu yang kuat, aku percaya jika dirimu tidak akan pernah meninggalkan kami." Ucap Ello dengan menggenggam dan mencium lembut tangan Nia.


.


.


.


Diluar ruangan kini Mama, Oma dan juga Papa sudah datang. Bahkan Ayah dan juga Alan juga sampai bersaman dengan keluarga Sanjaya. Tak perlu di tanya lagi bagaimana raut wajah mereka, sudah pasti di penuhi oleh kekhawatiran. Bahkan Oma terus menangis saat mendengar kabar Nia terjatuh dan mengalami pendarahan hebat. Bahkan sesampainya di rumah sakit, Oma masih menangis histeris. Beliau begitu menyayangi Nia hingga beliau takut terjadi sesuatu pada cucu menantunya.

__ADS_1


Namun Bu Dina yang masih ada di sana, mencoba menenangkan Oma dan meminta menunggu Lena dan Zacky datang untuk mengetahui apa yang di katakan oleh dokter. Bu Dina mengajak Ayah, Oma, Mama dan juga Papa untuk melihat anak Nia. Mereka bahagia melihat cucu dan cicitnya terlahir sehat dan selamat. Apa lagi cucu dan cicitnya kembar, Oma dan Mama sebenarnya kecewa karena tidak tahu bayi Nia kembar. Namun saat ini mereka begitu menghawatirkan keadaan Nia.


"Sudah Ma..kita doakan Nia segera siuman," ucap Mama dengan mengelus pundak Oma lembut.


"Jika terjadi sesuatu pada Nia, aku tidak akan memaafkan Mars. Dia tidak bisa menjaga istrinya dengan baik," ucap Oma sesegukan.


"Ini kecelakaan Bu, tidak bisa menyalahkan siapa siapa." Ucap Bu Dina.


"Lena..Zac.." Teriak Johan.


"Apa kata dokter Zac? Nia baik baik saja kan Zac? Nia bisa siuman kembali kan Zac? Tidak akan terjadi apa apa pada Nia kan Zac?" Tanya Oma.


"Kak Nia pasti akan baik baik saja Oma, dia wanita yang kuat." Ucap Zac.


"Nia.." Teriak Oma dengan menangis pilu di pelukan Mama.


"Nia.." Lirih Mama yang tak kalah sedihnya, namun beliau masih bisa menahan air matanya agar tidak keluar.


"Dho..apa yang terjadi pada Nia?" Tanya Johan saat Ridho datang menghampiri keluarga.


"Nia mengalami pendarahan hebat dan jantungnya sempat berhenti namun bisa teratasi dan jantung kembali berdetak. Dan saat ini dia mengalami koma, dan penyebabnya adalah jantung yang berhenti tadi yang membuat otak kekurangan oksigen. Saat ini kondisinya sudah stabil, dan kita menunggu Nia siuman. Dokter sudah berusaha yang terbaik untuk pasiennya, kita doakan Nia segera siuman." Jelas Ridho yang tadinya ingin mengatakan ini pada Ello. Namun Ello tidak ingin mendengarkan penjelasannya.


"Kita doakan saja Om," ucap Ridho yang tidak bisa memberi jawaban pasti untuk keluarga.


"Kapan Nia bisa siumannya?" Tanya Oma.


"Belum pasti kapan dia akan siuman, semoga saja dia segera siuman!"


"Baiklah, kita sama sama mendoakan Nia." Ucap Papa.


"Aku tak pernah melihat Ello serapuh ini, bahkan tak pernah melihat dia mengeluarkan air matanya. Sebegitu berartinya Nia untuk dirinya, aku gak tega melihat Ello seperti itu." Ucap Johan yang tidak ikut masuk karena dia tidak sanggup melihat Ello dan Nia.


.


.


Pagi harinya Nia belum juga membuka matanya, Ello masih setia menemani Nia. Bahkan Ello enggan meninggalkan Nia sedetik pun, rasa ingin ke kamar kecil pun ia tahan karena tidak mau meninggalkan Nia.


"Sayang bangunlah, anak anak kita sangat membutuhkan Bundanya. Kamu ingat tidak sayang, kamu pernah berkata ingin mendidik anak anak kita bersama sama hingga mereka dewasa. Bahkan kamu berkata jika anak anak kita kelak akan meneruskan kebahagiaan kita. Kamu akan mengajarkan anak bagaimana cara menghargai pasangannya, bagaimana cara menjadi suami dan istri yang baik. Bagaimana aku bisa mengajari mereka tanpamu sayang." Ello kembali menangis dan terus mencium tangan Nia dengan lembut.


"Kamu tahu sayang, Bulan begitu cantik sepertimu. Dan Bintang begitu tampan seperti Ayahnya." Ucap Ello dengan berusaha tertawa namun dirinya kembali menangis.

__ADS_1


"Mereka ingin Bundanya segera bangun dan menggendong mereka. Bahkan saat aku mengadzani mereka, seolah mereka bertanya pada Ayahnya. Dimana Bunda Yah, beritahu Bunda jika kami ingin di peluk cium oleh Bunda." Ucap Ello kembali dengan suara yang gemetar. Tak terasa air mata Nia pun ikut menetes. Namun dia masih terpejam.


Zacky dan Lena pun datang membawakan sarapan untuk Ello. Sedang Papa, Mama, Oma, Ayah dan juga Alan berada di depan ruang rawat Nia.


"Sarapanlah dulu Kak," ucap Zac dengan menyodorkan kotak nasi pada Ello. Namun Ello enggan menerimanya.


"Aku tidak lapar Zac," ucap Ello tanpa mengalihkan pandangannya dari Nia.


"Jika kamu seperti ini aku yakin Kak Nia akan sedih melihatnya Kak. Kamu juga harus menjaga kesehatanmu, agar tetap bisa jagain kak Nia." Rayu Zac.


"El..makanlah walau sedikit, jika kamu sakit siapa yang akan jagain Nia?" Lena pun ikut merayu Ello agar mau makan karena dari kejadian itu Ello belum makan sama sekali.


"Aku tidak mau makan apa pun, kalian dengar tidak!" Teriak Ello yang membuat Nia kejang kejang, dan mereka pun panik. Zacky berlari keluar untuk memanggil dokter. Membuat semua orang di luar ikut panik.


"Ada apa Zac?" Tanya Oma yang tidak di jawab oleh Zac.


"Cepat Dok, Kak Nia kejang kejang dok!" Ucap Zacky pada Dokter yang berlari menuju ruangan Nia. Semua pun melemas mendengar apa yang dikatakan oleh Zac barusan.


Dokter pun segera masuk dan melihat keadaan Nia dan memeriksanya. Dan terpaksa Ello harus keluar dan meninggalkan Nia di dalam. Kekhawatiran terlihat jelas di wajah keluarga besar. Apa lagi Ello, dia nampak gusar dan memaki dirinya sediri. Ayah pun menghampirinya dan memeluk Ello, beliau mencoba menenangkan Ello agar bisa kuat.


"Aku tidak sanggup jika terjadi sesuatu pada Nia Yah, maafkan aku tidak menjaga Nia dengan baik Yah. Aku suami yang begitu buruk untuk Nia Yah," Ucap Ello yang menangis.


"Kamu sudah menjadi yang terbaik untuk Nia, jangan salahkan dirimu. Berdoalah agar Nia baik baik saja!" Ucap Ayah dengan menepuk pundak Ello.


"Nia..lihatlah betapa Ello mencintaimu dan tak ingin kehilanganmu Nia. Bangunlah Nia, kamu harus terus mendampingi Ello dan saat ini anak anakmu juga sangat membutuhkanmu. Bangunlah demi orang yang begitu menyayangimu lebih dari apa pun!" Gumam Alan dalam hati, dia ikut merasakan kesedihan yang begitu dalam melihat Ello yang begitu rapuh.


Para perawat berlari keluar masuk ruang rawat Nia bergantian. Dan beberapa dokter turut masuk ke ruangan Nia, kecemasan semakin melanda seluruh, keluarga. Detak jantung Nia berhenti dan dokter melakukan kejut jantung pada Nia. Setelah beberapa saat para Dokter pun keluar bersama para perawat dengan raut wajah yang tak bisa di gambarkan.


"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" Tanya Ello pada salah satu dokter.


🌿🌿


.


.


.


.


Nyicil up, next nanti malam ya kakak kakak😘

__ADS_1


__ADS_2