
"jadi dugaanku selama ini benar, kalian ada hubungan yang lebih dari seorang sahabat. Hubungan gelap di belakang suamimu!" Alan bertepuk tangan menghampiri Ello dan Nia.
Ello semakin panas, namun Nia mencoba menahan Ello agar tak terpancing emosi.
"jaga kata katamu Tuan Alan yang terhormat," bentak Ello sambil menggenggam erat tangan Nia agar dia tidak lepas kontrol.
"aku bicara sesuai dengan kenyataan yang aku lihat, dulu kau pergi dari rumah karena ingin bebas bertemu dengan laki laki ini kan!" ucap Alan sambil menunjuk Ello.
"dan sekarang setelah kita perpisah kau pergi keluar kota juga ingin bebas bertemu dengannya, kau itu benar benar wanita murahan Nia."
Ingin rasanya Ello menghajar Alan, namun dia menahannya karena merasa tidak enak pada Pak Ilham. Dan juga karena Nia memeluknya dengan erat agar tak melakukan hal yang membuat Alan senang.
"hentikan kata katamu Alan Wiguna!" bentak Pak Ilham lalu menghampiri Alan.
"kenapa Ayah membelanya, lihat dia. Memeluk pria yang bukan mahramnya, apa itu menunjukan sikap terpuji Yah!" Alan terus saja berbicara, dia tak terima Nia berdekatan dengan Ello.
"sikapmu itulah yang menunjukkan tak terpuji, apa hakmu melarang Nia pergi atau berhubungan dengan pria lain. Dan ingat yang membuat Nia pergi dari rumahmu dulu bukankah karena penghinaanmu! Dan seharusnya kamu sadar dan bertobat, dulu kamu menyia nyiakannya dan sekarang kamu menginginkannya. Apa kau tak punya pendirian sebagai lelaki, seharusnya kau tetap pada pilihanmu dan tak menyesali semua pilihanmu!" ucap Pak Sanjaya, beliau merasa malu dengan Nia dan Ello karena sikap anaknya.
"aku dan Ello tidak seperti yang kau tuduhkan Mas, aku dan Ello tak pernah mempunyai hubungan gelap di belakangmu!" jelas Nia dengan meneteskan air matanya.
"gak usah mengelak, jika memang murahan mengakulah murahan...." teriak Alan penuh emosi dan hendak menarik tangan Nia, namun dengan sigap Ello menepiskan tangan Alan agar tak menyentuh Nia sedikit pun.
"plaaakkkk..." Pak Ilham pun menampar Alan dengan sangat keras.
"Ayah benar benar malu Al, kapan kamu bisa berubah. Seharusnya dengan Ayah pergi dan menghindarimu. Kamu sadar dan memperbaiki kesalahanmu bukannya memperburuk masalahmu!" tutur Pak Ilham.
__ADS_1
"kau sudah ada Lala Mas, dia pilihanmu bukankah dulu kau begitu mencintainya dan tak ingin kehilangannya. Kenapa sekarang kau berubah, jangan sampai kau mengacuhkan Lala seperti kau mengacuhkan aku dulu. Dan jangan sampai kau melakukan kesalahan untuk kedua kalinya!" ucap Nia yang di peluk erat oleh Ello, semakin membuat Alan terbakar hawa panas dari dalam hatinya.
"jangan kau ganggu istriku lagi...." ucap Ello datar namun penuh penekanan.
"apa kau bilang...." teriak Alan dengan hati yang tercabik cabik.
"Nia adalah istriku, jadi jangan kau ganggu dia lagi. Kau dan Nia sekarang punya kehidupan masing masing, jadi biarlah Nia bahagia dan kau juga akan bahagia dengan istrimu!"
"ini semakin membuatku yakin, jika kalian dulu memang berhubungan gelap. Kalian benar benar menjijikkan, dan kau Nia kau itu seperti p******"
"bugh....." Ello yang tak tahan dengan penghinaan Alan yang di tujukan pada Nia, akhirnya melayangkan pukulan ke wajah Alan.
"jangan pernah menghina orang yang tak pernah melakukan kesalahan yang hina, dan aku tak terima kau menghina istriku!" ucap Ello yang terus menghajar Alan, sampai sampai dia tak mendengar teriakan Nia. Dia sudah di kuasai oleh amarah yang memuncak.
Mereka saling memukul, hingga Nia dan Pak Ilham tak bisa menghentikannya. Alan terkulai lemas di atas rerumputan di halaman, Ello masih saja memnghajar Alan.
"El, hentikan! aku mohon," Nia memeluk Ello dari belakang agar Ello bisa meredam emosinya dan menghentikan pukulannya.
Ello menghentikan pukulannya dan mengajak Nia sedikit menjauh dari Alan. Dia takut Alan akan berbuat nekat.
"kenapa berhenti....ayo pukul aku lagi.....cuihhh...pengecut...." gerutu Alan dengan lemas dia masih menantang Ello.
"Ayah mohon, berubahlah Al. Ayah ingin melihat anak Ayah bisa menjadi lelaki yang bijaksana, bukan seperti ini. Jika memang kamu mencintainya, relakan dia bahagia. Ayah ini sudah tua, tolong berubahlah sebelum Ayah tiada Nak!" kini beliau menangis dan memeluk Alan anak satu satunya.
Beliau berharap di sisa hidupnya, Alan bisa berubah menjadi lelaki yang baik dan bertanggung jawab. Menjadi lelaki yang tak perlu mengejar ambisinya untuk kepuasan hati dan dirinya agar bisa memiliki segalanya.
__ADS_1
"Ayah jangan bicara seperti itu, aku menyayangi Ayah. Ayah harus sehat terus," Alan pun memeluk Ayahnya dan menangis di pelukan Ayahnya.
"jika kamu ingin Ayah sehat, tolong berubahlah Al. Jangan kau ganggu ganggu Nia lagi, biarlah dia tenang dengan kehidupannya yang sekarang!" ucap Pak Ilham sesegukan.
Alan terdiam, dia bingung harus bagaimana. Dia sangat mencintai Nia dan ingin memiliki Nia seutuhnya, namun Ayahnya sangat berharap dia tak mengganggu Nia kembali. Dia bimbang antara menjaga hati Ayahnya atau mengejar obsesinya.
"Alan....Alan...." dia melirik ke arah Ello yang memeluk Nia dengan erat. "sial, kenapa aku bisa keduluan laki laki itu!" gumamnya dalam hati.
"Alan akan berusaha berubah Yah, tapi Ayah harus janji. Ayah harus sehat terus!" ucap Alan yang membuat Pak Ilham dan Nia bernafas lega. Beliau memeluk Alan dengan penuh kasih, Nia merasa terharu dengan kejadian di depan matanya ini.
Lain dengan Ello, dia merasa jika Alan hanyalah berpura pura. Dia melihat tidak adanya ketulusan dan keseriusan dalam wajah Alan. Namun Ello juga berpura pura mempercayai omongan Alan, agar Alan tak curiga jika dia tahu Alan hanya berakting saja.
Mereka masuk kedalam rumah, Nia mengobati wajah Ello yang memar akibat pukulan Alan. Sedang Pak Ilham mengobati wajah Alan.
"maafkan Ello Yah...." ucap Ello pada Pk Ilham. Dia merasa tak enak karena sudah memukul anak beliau di depan mata beliau.
"kamu tak perlu meminta maaf, kamu tidak salah. Ayah berterima kasih karena kamu sudah menjaga Nia dan membela Nia dari orang yang menghinannya. Ayah percaya kamu bisa menjaga Nia dengan baik,"
"Ello pasti akan menjaganya dengan baik Yah.."
"apa ini sakit?" tanya Nia lembut.
"tadi sakit, tapi melihatmu sakit itu hilang seketika. Kau itu bagai penawar racun yang mematikan bagiku..." rayu Ello berhasil membuat Nia menunduk tersipu malu, Ello semakin gemas dan mencium kening Nia dengan lembut.
"sial, kenapa mereka harus bermesraan di depanku. Awas kau Ello..." gumamnya dalam hati dengan seringai.
__ADS_1