Antara Aku Dan Maduku

Antara Aku Dan Maduku
Part 36. Keputusan


__ADS_3

"jika kamu juga ingin pisah dengan Alan. Pisah saja, jangan menyuruh Nia bertahan!" ucap Lena ketus. Dia benar benar muak sama Lala, dia cantik dan sempat Lena berpikir jika dia perempuan baik. Tapi nyatanya justru menginginkan Nia untuk bertahan.


"Nia, kalau kamu cinta sama Mas Alan. Perjuangin Nia, jangan menyerah seperti ini!" bujuk Lala.


"aku memang mencintai Mas Alan, tapi aku tidak bisa memaksanya untuk membalas cintaku. Dan satu hal yang harus kamu tahu La, cinta itu tak harus memiliki!" ujar Nia.


"dengar itu, cinta itu tak harus memiliki Nona!" ketus Lena. Dia berharap Lala mengerti maksut dari ucapan Nia.


Lala terdiam, dia menyesali keputusannya dulu. Keputusan yang mau menjadi istri ke dua Alan, hanya karena dia tidak ingin kehilangan Alan. Andai dulu dia tak menyetujui ajakan Alan, mungkin dia tidak akan menyakiti hati Nia. Dan pastinya dia tidak akan di benci oleh mertuanya sendiri.


"Mas, kenapa kamu diam saja. Kamu mencintainya Mas, katakan pada Nia. Dan Kamu tidak boleh cerai dengan Nia, lebih baik kita saja yang berpisah!" ucap Lala. Dia menangis dengan menggenggam tangan Alan.


"Lala, hentikan kata katamu!" bentak Alan. Lala tersontak dengan bentakan Alan, karena dia tak pernah mendapat perlakuan kasar dari Alan.


"kalau pun Mas Alan juga mencintaiku, aku tetap akan berpisah dengannya. Dan ini sudah keputusanku, tidak akan terpengaruh oleh apa pun!" ujar Nia. Pak Ilham terus menenangkan Nia yang terus terusan menangis.


"keputusan Nia sudah bulat, kamu dan Nia harus bercerai. Nia berhak bahagia, kamu bukannya menjaga Nia dengan baik justru membuatnya sakit. Suami macam apa kamu, dan kau wanita ular. Jangan harap saya bisa menerimamu begitu saja!" ujar Pak Ilham. Beliau menatap Lala dengan tatapan kebencian.


Lala hanya bisa menunduk dan menangis, Alan pun tak membelanya lagi. Alan hanya diam seribu bahasa.

__ADS_1


"kenapa kamu diam?" tanya Pak Ilham pada Alan. "kau benar benar laki laki pengecut, Ayah benar benar telah gagal mendidikmu Al!" ucap Pak Ilham putus asa.


Kekecewaannya terhadap Alan benar benar dalam, beliau ingin Alan bisa menyadari kesalahannya.


"La, jika kamu memaksaku bertahan dengan Mas Alan. Itu artinya kamu bukan wanita sebaik yang aku kira selama ini. Itu artinya kamu juga sangat ingin aku menderita!" ucap Nia sesegukan.


"bukan seperti itu maksut aku Nia, aku..." lagi lagi Pak Ilham memotong ucapan Lala.


"diam kamu, jika kamu hanya ingin membuat Nia mengurungkan niatnya. Itu salah besar,!" tegas Pak Ilham.


Pak Ilham mengajak Nia pergi dari ruang keluarga, meninggalkan Alan dan Lala. Beliau meminta Nia untuk istirahat dan menenangkan dirinya.


Di kamar lain, Alan sedang berdiri di balkon kamarnya. Dia juga masih terjaga, hingga dia memutuskan keluar menuju balkon.


"kenapa rasanya sakit, seharusnya aku senang. Karena Ayah sudah tahu dan akhirnya Nia minta cerai, dan aku bisa bahagia dengan Lala!" lirih Alan sembari menatap bulan dan bintang.


"apa mungkin aku mulai mencintainya dan tak ingin berpisah dengannya? 'agrhh...'" Alan mengacak acak rambutnya. Dia bingung akan perasaannya, mungkinkah benar cinta untuk Nia mulai tumbuh. Tapi itu sudahlah terlambat, Nia sudah tidak bisa mengubah keputusannya.


Pagi hari, di dalam kamar tamu. Lena yang melihat wajah Nia yang sedikit lesu. Dia mencoba membuat Nia, tersenyum agar tidak larut dalam kesedihannya.

__ADS_1


"Nia, kamu sudah membuat keputusan yang benar. Harusnya dari dulu kamu berpisah dengannya, jadi aku tak akan melihat wajah sedihmu terus terusan!" ucap Lena.


"apa rencana konyolmu itu sudah musnah?" tanya Nia.


"lupakan, itu memang rencana bodoh. Setelah aku fikir fikir itu sama saja aku membuat kamu seperti Lala. Dan aku tak mau punya teman seperti Lala" ucap Lena. Dia menyadari kebodohannya itu.


"baguslah kalau kamu sadar, sekarang aku sangat butuh semangat darimu Len. Aku minta doanya agar aku dan Mas Alan segera berpisah. Aku ingin melanjutkan hidupku, aku ingin bahagia Len!"


"aku pasti selalu support kamu Nia, aku yakin kamu pasti bisa melewati ini semua. Kamu pasti akan mendapatkan kebahagiaanmu!" ucap Lena menyemangati.


"terima kasih Len, kamu selalu ada untukku dan kamu juga selalu mendukungku."


"kamu harus membayar mahal semua ini," seloroh Lena.


"Lenaa....," teriak Nia.


Pagi hari, selesai sarapan Pak Ilham pun berangkat ke Kafe miliknya di Bandung. Nia dan Lena pun ikut dengan Pak Ilham, sekalian menemui Pengacara Pak Ilham.


Maaf kakak hari ini lama up nya. Hari ini up 1 bab saja๐Ÿ™ besok akan up lgi. Di tunggu ya kak up berikutnya. Terima kasih semuanya๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2