
Kini Alan semakin frustasi, karena rencananya gagal. Lala sudah mengatakan semuanya di depan keluarga besar Sanjaya dan juga Pak Ilham. Lala juga minta maaf atas kebodohannya yang mau saja di manfaatkan Alan, dan dia juga meminta maaf pada Pak Ilham atas semua kesalahannya.
"Ayah sudah memaafkanmu, semua sudah terjadi. Dan bagaimana pun kamu adalah istri Alan dan juga menantuku, Ayah menerimamu sebagai menantuku!" ucap Pak Ilham dengan hati yang tak bisa ia gambarkan.
"terima kasih sudah memaafkan Lala, dan terima kasih Ayah sudah mau menerima kehadiran Lala. Tapi maaf Yah, Lala sudah tidak bisa bersama Mas Alan lagi. Dia sudah menyakitiku, mungkin ini teguran untukku karena sudah membuat Nia semakin menderita dengan hadirnya aku di pernikahannya dengan Mas Alan dulu." Lala kini sedang belutut di kaki Pak Ilham, Nia menghampirinya dan memeluknya.
"La, semua yang terjadi biarlah terjadi. Aku sudah melupakan semuanya, aku sudah mendapatkan kebahagiaanku. Dan aku tak ingin mengingat ingat lagi masa laluku, aku harap kamu memaafkan kekhilafan Mas Alan. Dan aku doakan kamu bahagia bersama Mas Alan!" ucap Nia tulus. Dia memang belum seratus persen melupakan semua perlakuan Alan dulu padanya, namun dia berusaha untuk bisa melupakan semuanya.
"aku sudah tak sanggup hidup bersama orang yang sudah tak mencintaiku lagi Nia, dan dia sudah tega menjadikanku umpan agar dia mendapatkanmu kembali...!"
"maksud kamu apa?" tanya Alan meraih tangan Lala dengan kasar.
"aku ingin kita berpisah..." ucap Lala dengan mengeratkan giginya. Membuat Alan terdiam dan pikirannya semakin panas.
"kamu tidak bisa mendapatkan Nia, dan aku juga sudah tak ingin bersamu lagi Mas. Aku sudah kecewa dengan perlakuanmu ini..." ucap Lala dan mencoba melepaskan pegangan Alan yang sangat kuat.
"kalau kamu cerai denganku, maka anak itu takkan aku anggap sebagai anakku!" ancam Alan.
"anak?" pekik mereka semua bersamaan.
"kamu sedang hamil La?" tanya Nia dan Lala pun mengangguk, Nia senang karena sekian lama akhirnya Lala hamil juga.
"kamu keterlaluan Al...." teriak Pak Ilham, lalu beliau menampar wajah anaknya dengan sangat keras.
"istri sedang hamil, kamu seenaknya memperlakukan dia seperti itu. Dia itu wanita pilihanmu sendiri, kau tega mempertaruhkan istrimu demi tercapainya ambisimu. Di mana hati nuranimu Al, Ayah benar benar malu dan kecewa punya anak sepertimu. Seharusnya kau beri perhatian lebih istri dan calon anakmu, bukannya menyiksa batin dan dirinya seperti ini...." Pak Ilham memekik sambil memegang dadanya yang terasa sakit.
"Ayah..." teriak Nia dan Lala bersamaan. Ello menopang tubuh Pak Ilham, dan menuntunnya untuk duduk dan memberikan air putih agar lebih tenang.
"Ayah...." Alan menghampiri Pak Ilham.
__ADS_1
"jangan menyentuhku, aku bukan Ayahmu." tegas Pak Ilham.
Pak Ilham marah besar pada Alan, hingga beliau menyuruh para penjaga menyeret Alan keluar dengan paksa. Sedang Lala juga berniat pamit meninggalkan Villa itu, dia meminta maaf sudah membuat kekacauan di Villa itu.
"kamu hati hati ya La, jaga dengan baik calon keponakanku!" ucap Nia sambil memeluk Lala dan mengelus lembut perut Lala yang masih terlihat datar.
"iya Nia, aku akan menjaganya dengan baik. Aku harus segera menyusul Mas Alan, karena aku lupa alamat penginapan kami."
πΏπΏ
Di luar gerbang Lala sedang menunggu taksi yang dia pesan datang, karena Alan sudah pergi lebih dulu dan meninggalkan dirinya begitu saja. Lala tak tahu harus pergi kemana, karena dia juga tak tahu daerah sini.
"kamu benar benar tega denganku Mas, kamu membuatku malu di depan keluarga baru Nia. Dan sekarang kamu tega meninggalkan aku di sini begitu saja." Lala menangis mengingat kejadian memalukan di dalam Villa.
"mau kemana Mbak?" tanya supir taksi. Lala sudah duduk di dalam taksi.
Taksi itu pun melaju menuju hotel, dan sesampainya di hotel xxx Lala turun dari taksi. Dengan langkah gontai karena lemas dan banyak fikiran dia tak sadar hampir menabrak anak kecil yang sedang berlari. Namun saat Lala menghindar justru dirinya terkilir dan terjatuh dengan sangat keras.
Semua orang panik, saat melihat darah segar keluar dari paha wanita itu. Dan pegawai hotel segera menghubungi ambulans, Lala pun teriak kesakitan dan tak sadarkan diri.
"aku akan menghubungi, nomor terakhir yang dia hubungi." ucap salah satu pengunjung hotel dengan mengutak atik ponsel Lala.
**
Rumah Sakit XXX
Lala kini menangis histeris, dia tak menyangka semua ini terjadi padanya dengan bertubi tubi. Alan datang dengan penuh kecemasan, dia mengutuki dirinya yang sudah tega meninggalkan Lala begitu saja.
Alan melangkah menuju kamar di mana Lala di rawat, dan tak berselang lama Pak Ilham dan yang lain juga sudah sampai. Mereka di hubungi oleh Alan jika Lala sedang di rawat di rumah sakit.
__ADS_1
"La....apa yang terjadi.." dengan wajah penuh kepanikan Alan memeluk Lala yang tengah berbaring dan menangis.
"pergi kamu Mas....ini semua salahmu!" teriak Lala yang masih terbaring lemas.
"ada apa ini sus, apa yang terjadi dengan Lala?" tanya Nia panik pada suster yang berada di ruangan itu.
"Nyonya Lala mengalami keguguran, karena perutnya mengalami benturan yang sangat keras. Dia pendarahan dan janinnya tak dapat di selamatkan," jawab suster.
"keguguran...? Astaghfirullah...." ucap Nia dan Pak Ilham bersamaan, baru saja dirinya senang mendengar Lala hamil. Kini dia harus melihat mantan madunya kehilangan calon bayinya yang begitu Lala nanti nanti.
"semua ini karena kamu Mas, jika kamu tidak mengajakku ke sini dan kamu tidak menyuruhku melakukan hal konyol itu aku tak akan kehilangan bayiku. Dan kamu juga tega meninggalkanku pulang sendiri dan mencari penginapan sendiri, sampai terjadi kecelakaan ini. Aku benci kamu Mas....aku benci kamu....." teriak Lala dengan memukul mukul Alan penuh kemarahan.
"maafkan aku La, pukul aku sepuasmu. Ini semua memanglah salahku, aku sudah kehilangan anakku karena ke egoisanku." Alan pasrah dengan pukulan murka yang Lala layangkan untuknya.
"kamu jahat Mas, kamu jahat.... aku benci kamu...." Lala begitu histeris hingga suster terpaksa menyuntikan obat penenang untuknya.
"maafkan aku La...." Alan menangis dan mengusap wajah yang terlihat pucat itu. Dia mengecup lembut kening Lala, dengan perasaan yang penuh rasa bersalah.
Pak Ilham tidak tega melihat Lala terbaring lemas, dan beliau merasa sedih harus kehilangan calon cucunya. Meskipun beliau belum seutuhnya menerima Lala, tetapi bagaimana pun anak yang ada di dalam kandungan Lala adalah cucunya.
ππ
Ke esokan hari di Rumah Sakit XXX
"sit...." Lala bangun dengan tubuh yang masih lemas.
"apa yang terjadi...." Lala mencoba mengingat ingat kejadian yang membuat tubuhnya serasa remuk.
"Mas Alan....., kau yang sudah membuat anakku pergi dari hidupku." lirih Lala dengan meremas selimut dengan penuh amarah. Pipinya di penuhi oleh buliran bening yang keluar dari kelopak matanya.
__ADS_1