Antara Aku Dan Maduku

Antara Aku Dan Maduku
Part 45. Terlambat Menyesalinya


__ADS_3

Alan yang sudah kembali ke rumahnya dan kini dia tengah duduk di kamar Nia. Dia menatap sendu kamar itu, bayang bayang Nia semakin menghantuinya.


Pov Alan.


Seharusnya dulu aku juga tidur di kamar ini bersama mu Nia. Jangankan tidur bersama, menyentuhmu pun aku dulu tidak pernah. Aku tahu banyak sekali kesalahanku padamu, apa dulu kamu selalu menantiku untuk datang dan tidur bersamamu? Aku pun mengusap bantal di ranjang Nia dulu, wanita baik yang sudah aku lukai.


Kecil kemungkinan aku bisa bersatu dengan Nia, karena aku sudah begitu melukainya. Bukan hanya melukainya, aku begitu menghancurkan hidupnya, menghancurkan hati dan perasaannya dan tak pernah sedikit pun memberinya kebahagiaan. Hampir saja aku merusak harta berharga yang dia jaga, dan ulahku itu pasti membuatnya semakin membenciku.


Caraku agar Nia tidak menceraikanku itu salah, seharusnya aku tak berencana merusak kehormatannya.


"Mas, ternyata kamu disini. Dari tadi aku mencarimu kemana mana!" ucap Lala saat membuka pintu kamar Nia. Aku tak menoleh ke arahnya, tapi dia jalan menghampiriku.


"kamu kenapa Mas," ucapnya cemas saat melihat wajahku yang babak belur dan tanganku yang terluka.


"aku tidak apa apa, aku ingin sendiri La. Biarkan aku disini..,"


"tapi Mas, tolong jelasin dulu kamu kenapa. Aku ambilkan air hagat dan obat dulu," ucapnya lalu dia beranjak dan tak perduli dengan penolakanku.


"apa yang terjadi Mas?" tanyanya lembut. Dia mengobati tanganku dan membungkusnya dengan perban. Lalu dia kompres luka memar di wajahku, sebenarnya perutku juga terasa sakit. Karena Ello sudah memukul perutku beberapa kali, tapi itu tak sebanding dengan perlakuan terhadap Nia.

__ADS_1


Aku pun menceritakan semua pada Lala, dia begitu marah dengan kelakuanku yang tak pantas aku lakukan.


"seharusnya kamu memperbaiki masalah bukan menambah masalah Mas. Kelakuanmu ini bisa mempercepat perceraianmu dengan Nia," ucap Lala kesal dan meninggalkanku di kamar Nia sendirian.


Aku tahu ini salah, walau aku berhak atas Nia. Tapi dengan semua perlakuanku yang tak baik terhadapnya, aku tak pantas meminta hakku dan memaksanya memberikan hak itu padaku.


Hari hariku di penuhi dengan penyesalan, bahkan semenjak aku cerita tentang kejadian itu, Lala pun ikut mendiamkanku. Aku tak ada keberanian untuk menemui Nia lagi, ingin rasanya bertemu dengannya dan meminta maaf padanya. Kesempatan agar aku bisa memperbaiki hubunganku dengannya sirna sudah. Hingga pengacaraku memberi kabar padaku, jika lusa sidang keputusan akan di gelar. Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan agar aku dan Nia tidak berpisah


Author.


Satu minggu setelah kejadian di Resort Nilam, kini Nia kembali ke Bandung di temani Sinta. Karena Lena tidak bisa cuti dari kerjanya, dia hanya bisa mendoakan agar sidang perceraiannya dengan Alan terkabulkan.


"Assalamu'alaikum Yah," sapa Nia sembari mencium punggung tangan Pak Ilham.


"wa'alaikumsallam,"


"Om..," sapa Sinta dengan mencium punggung tangan Pak Ilham.


"dia Sinta Yah, teman aku sewaktu kuliah dulu. Dia yang mengantar dan menemaniku karena Lena tidak bisa ikut," ucap Nia.

__ADS_1


"hallo Sinta, senang bertemu denganmu Nak. Ayo masuk," ajak Pak Ilham. Namun langkah mereka terhenti, saat ada mobil memasuki pekarangan rumah Pak Ilham.


Alan datang bersama Lala, Nia seketika merasa tubuhnya bergetar dan mengeluarkan keringat dingin. Dia masih teringat kejadian satu minggu lalu, Sinta yang melihat wajah Nia yang memancarkan ketakutan. Langsung mencoba meyakinkan Nia jika dia pasti kuat.


"kamu harus terlihat kuat, lupakan kejadian itu. Besok sidang keputusan Nia," bisik Sinta. Akhirnya Nia pun menghilangkan rasa takutnya, dan tersenyum pada dua sejoli yang menghampirinya, seolah tidak pernah terjadi apa apa dengan dirinya.


Sinta merasa ilfeel saat melihat Lala tersenyum dengan dirinya, dia tahu Lala tidak sepenuhnya bersalah. Tapi baginya tetap saja Lala salah karena sudah mau menikah dengan suami orang lain.


Lala yang merasa di cueki oleh Sinta, hanya bisa menghela nafasnya dengan berat. Sebenarnya dia masih bingung dengan hubungan Sinta dengan Nia yang begitu akrab, Lala bahkan sempat ingin bertanya dengan Sinta. Tapi Sinta selalu menghindarinya, entah itu di kantor ataupun di luar kantor.


"Nia, boleh kita bicara sebentar?" tanya Alan pada Nia yang kini tengah di gandeng Pak Ilham.


"maaf, aku lelah dan ingin istirahat!" tolak Nia.


"sebentar saja!" ucap Alan memohon.


Pak Ilham tersenyum dan menganggukan kepala pada Nia, isyarat jika Nia boleh bicara dengan Alan.


"dia tidak akan berbuat macam macam Nak!" ucap Pak Ilham meyakinkan Nia. Beliau merasa, mungkin memang mereka harus bicara sebelum mereka resmi bercerai.

__ADS_1


"baiklah, sebentar saja." ucap Nia terpaksa dan tanpa menatap Alan.


__ADS_2