
Sore hari pengunjung ramai berdatangan di kedai, untung saja Pak Ilham sudah memiliki beberapa karyawan lagi. Dan Melly juga membantu kerepotan di kedai, dan bisa menemani beliau sekaligus menjaga beliau.
Tanpa beliau ketahui, dari kejauhan ada yang memperhatikan beliau. Tepatnya di dalam mobil yang terparkir di sebrang jalan depan kedai. Orang tersebut menatap pilu pada pria separuh baya di dalam kedai, tepatnya di meja kasir. Buliran bening mengalir dari pelupuk matanya, dan membasahi kedua pipinya. Perasaan bersalahnya kian mendalam, bahkan saat melihat tubuh paruh baya itu kian menusuk hatinya. Tubuh yang terlihat lemah dan tak segagah dulu, tubuh yang dulu selalu menggendong dan menjaganya di kala anaknya masih kecil. Tubuh yang rela bekerja keras penuh perjuangan, agar anaknya bisa sekolah tinggi dan menempuh pendidikan yang lebih baik dalam sekolah.
Dan di rumah beliau tak pernah lupa untuk selalu mengajarkan kebaikan pada anaknya, mengajarkan perilaku yang beradab. Namun kenyataannya, ajaran beliau tak di gunakan oleh anaknya. Saat dia sudah dewasa dan sudah mengenal cinta.
"sampai kapan Ayah tidak ingin bertemu denganku!" lirihnya dengan derai air mata.
"Ayah, jika ada syarat untuk Ayah mau memaafkanku. Aku akan memenuhinya, asal jangan memintaku pergi dari Ayah. Itu akan membuatku semakin menyesal, kehilangan dua perempuan yang baik dan juga kehilangan anakku sudah membuatku di penuhi rasa bersalah. Apa lagi harus di jauhi olehmu Yah, itu akan membuat hidupku semakin di penuhi penyesalan."
Kini Nia dan Ello datang ke kedai, sesui janji Ello. Setelah istirahat maka sore hari dia akan mengajak Nia datang ke kedai. Mereka tidak menyadari kehadiran Alan, dan di saat Alan melihat Ello yang begitu perhatian pada Nia. Dia hanya bisa tersenyum getir, dia mentertawai dirinya yang begitu bodoh.
"aku bahagia, melihat Ello memperlakukanmu dengan baik. Perlakuan yang tak pernah kau dapat dariku. Sikap lembut Ello berbeda dengan sifat acuhku padamu, andai waktu bisa terulang lagi. Aku pasti akan menyayangi dan menjagamu degan baik. Aku janji Nia, aku tak akan lagi mengganggumu, aku hanya bisa berdoa agar kau selalu dalam kebaikan dan kebahagiaan." Alan semakin menyesalinya.
Kini dia tahu antara obsesi dan cinta itu berbeda. Dulu dia terobsesi pada Lala dan menikahinya agar tidak kehilangannya dan tidak di miliki pria lain. Dan setelah dia terobsesi dengan Nia, dirinya mencampakkan Lala untuk mengejar obsesinya.
"mbak..." panggil Alan pada seseorang di depan mobilnya yang hendak menyebrang.
"iya Mas," sahutnya menelengkan kepalanya.
"boleh minta tolong," ucap Alan dengan wajah memohon.
__ADS_1
"minta tolong apa ya?" tanyanya ragu dan sedikit takut.
"jangan takut, saya anak pemilik kedai itu. Saya cuma minta tolong, nitip ini!" ucap Alan dengan menyodorkan bungkusan pada wanita tersebut.
"tolong berikan ini pada Ayah saya, tapi jangan bilang dari saya. Bilang saja dari Mbak atau teman Mbak ini!" ucap Alan dan dia juga memberikan beberapa lembar uang pada kedua wanita tersebut.
"siap Mas, terima kasih ya..." ucapnya dengan tersenyum, lalu melangkah menuju kedai.
"Alan akan selalu menjaga Ayah dari jauh! Alan sayang Ayah," ucapnya dengan tersenyum.
**
"ini bungkusan apa ya?" tanya wanita itu sambil membolak balik bungkusan dari Alan.
"ah...aku yakin, pria tadi orang baik kok. Apa kamu gak lihat, wajahnya juga mirip pemilik kedai ini kan. Aku yakin dia anak Bapak ini," ucapnya lalu dia melangkah menghampiri Pak Ilham.
Setelah memberikan bungkusan tersebut, Pak Ilham berterima kasih karena sudah di berikan makanan yang sangat beliau sukai. Dan Pak Ilham juga mengratiskan pesanan mereka. Beliau tidak merasa curiga, karena dua wanita itu sudah lama menjadi pelanggan setia di kedainya.
"wah....mochi..." gumam Nia sambil menelan salivanya. Entah sejak mengandung dirinya selalu ngiler jika melihat makanan enak.
"kamu mau Nak?" tawar pak Ilham saat melihat Nia yang menatap lekat pada bungkusan tersebut.
__ADS_1
"i-iya Yah, boleh ya Yah. Dikit saja," ucap Nia memelas.
"tentu boleh, kita habiskan mochinya!" ucap Pak Ilham tanpa merasa curiga.
Ello hanya diam menatap tulisan pada bungkusan tersebut, "tidak mungkin di sini ada mochi ini. Toko itu hanya ada di Bandung". Lalu dia menatap ke seluruh ruangan di kedai dan sekelilingnya. Lalu tatapannya terhenti pada mobil yang terparkir di sebrang jalan, mobil yang sedari tadi terparkir dengan jendela yang sedikit terbuka.
"mobil siapa?" gumam Ello, lalu berjalan menghampiri mobil tersebut. Alan yang melihat Ello menghampirinya pun panik.
"permisi...." Ello mengetuk jendela mobil tersebut, Alan pun memberanikan diri membuka kaca jendela tersebut.
"Alan...sudah ku duga." ucap Ello dengan tersenyum.
"ada apa?" tanyanya enteng.
"untuk apa kamu menyuruh dua wanita tadi, dan kenapa kamu tidak memberikan langsung pada Ayah!"
"apa mereka memberi tahu kalian, jika itu dariku?"
"mereka tidak mengatakan itu darimu, itu tebakkanku sendiri. Dan ternyata itu benar, kenapa tidak kamu berikan sendiri pada Ayah?" tanya Ello penuh selidik.
"bisa kita bicara, tapi tidak di sini? Aku akan menjawabnya nanti."
__ADS_1
"baiklah, aku pamit dulu sama Nia dan Ayah!" ucap Ello tanpa ragu, lalu kembali ke dalam kedai. Dan beberapa menit kemudian dia keluar dan pergi bersama Alan, dengan mobilnya Alan.