Antara Aku Dan Maduku

Antara Aku Dan Maduku
Part 61. Jawaban Nia


__ADS_3

"Nak, dengarkan kata hatimu. Jawablah sesuai hatimu!" ucap Pak Ilham menatap Nia dengan penuh keyakinan.


"Thania, Will you marry me...," ucap Ello mengulanginya dengan berlutut sambil menyodorkan kotak cincin pada Nia.


Nia terdiam, dia masih tak percaya jika kini dirinya telah di lamar seorang pria yang begitu mencintainya.


"apa kamu menolakku?" tanya Ello sendu. Karena Nia tidak juga merespon lamarannya.


Ello putus asa, yang tadinya dia mendongak kini dia menundukkan kepalanya dengan rasa berkecambuk di hatinya. Dia tidak bisa mendapatkan cinta dari gadis yang begitu dia cintai selama ini.


"Marcello...Yes i will....!" akhirnya Nia pun mengucapkan jawaban yang begitu Ello inginkan.


Ello kembali mendongakkan kepalanya dan menatap pada gadis pujaannya. Cinta yang selalu dia pendam kini telah ia utarakan, dan kini dia mendapatkan jawaban yang mebuatnya tersenyum senang dengan hatinya yang tengah berbunga.


"are you serious...?"


"i'm serious!"


Ello tersenyum dan meneteskan air mata bahagianya. Akhirnya perasaan itu terbalaskan, andai saja dulu dia cepat datang sebelum Nia di jodohkan dengan Alan. Pastinya dari dulu dia dan Nia bahagia, dan Nia takkan pernah merasakan pedih di hatinya.


Pak Ilham, Pak Sanjaya dan Oma bertepuk tangan dan menghampiri Nia dan Ello. Mereka bertiga ikut meneteskan air mata kebahagiaan, cincin berlian itu kini tersemat di jari manis Nia.


"kami ikut senang mendengarnya!" ucap Pak Sanjaya dengan menepuk nepuk pundak putranya.

__ADS_1


"sebaiknya pernikahan di langsungkan secepatnya!" pinta Oma bersemangat, beliau sudah tidak sabar melihat cucunya menikah dengan gadis pujaannya.


"lebih cepat lebih baik," ucap Pak Ilham dan Pak Sanjaya bersamaan. Nia dan Ello saling menatap, mereka saling tersenyum dan merasa canggung.


"ini untukmu!" ucap Ello kembali menyodorkan sesuatu pada Nia.


"terima kasih...!" hati Nia semakin berbunga bunga saat Ello memberikan buket bunga kesukaannya padanya.


Ini pertama kalinya dia di berikan buket bunga oleh seorang pria. Bahkan saat menikah dengan Alan pun tak pernah dia memberikan bunga. Jangankan bunga, sebuah sapaan dan senyuman pun tak pernah Nia dapatkan dari Alan.


Mereka pun membahas pernikahan Nia dan Ello tanpa menunggu persetujuan Bu Sanjaya. Menurut Oma tidak perlu menunggu Bu Sanjaya setuju.


"Tante di mana Om?" tanya Nia kini matanya berkeliling mencari Bu Sanjaya di sekeliling taman itu. Namun dia tak juga menemukan Bu Sanjaya.


"oh...tadi tante pamit ke toilet sebentar. Tapi kenapa lama sekali ke toilet saja," gerutu Pak Sanjaya.


Pak Ilham pamit untuk pergi ke toilet sebentar, Ello pun mempersilahkan Nia untuk duduk dan makan malam bersamanya. Makan malam yang begitu romantis, sedang Pak Sanjaya dan yang lain sudah di siapkan meja makan yang terpisah sedikit jauh dari Nia dan Ello.


"brukk..." suara seseorang terjatuh.


"maaf Nyonya saya tidak sengaja," ucap seorang pria dengan mengulurkan tangannya.


"lain kali kalau jalan lihat lihat," ucapnya ketus dan masih sibuk membersihkan tangannya tanpa menerima uluran tanggan pria itu.

__ADS_1


"Anne....!" wanita itu mendongak melihat ke arah suara yang menyebut namanya.


"Ilham..," Bu Sanjaya pun bangun dan menerima uluran tangan Pak Ilham.


"apa kabarnya kamu dan keluargamu?" tanya Pak Ilham.


"baik Ham, kamu sendiri gimana kabarnya? Pasti anak anakmu sudah besar?" tanya Bu Sanjaya yang tadinya judes kini menjadi sedikit ceria.


Kini mereka saling bercerita tentang keluarga dan juga anak anaknya. Bu Sanjaya juga menceritakan tentang kehadiran Nia yang tak di inginkannya, tapi suami bahkan mertuanya begitu menyukai gadis itu. Pak Ilham hanya tersenyum mendengar cerita Bu Sanjaya, mereka melangkah menuju di mana Nia dan Ello berkumpul dengan keluarganya.


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Di Ibu Kota, rumah Alan sedang ada keributan. Lagi lagi Alan dan Lala bertengkar untuk yang kesekian kalinya. Lala tidak terima jika dia terus terusan di abaikan oleh Alan, sedang Alan sibuk pergi mencari cari Nia entah kemana. Meminta rekan kerja Nia yang dulu juga percuma hasilnya nol besar.


"lebih baik kita berpisah Mas..." dengan suara bergetar Lala memberanikan diri untuk berpisah dengan Alan.


"Lala, sampai kapan pun aku tak akan melepaskanmu. Aku ingin kita bertiga kumpul bersama, dan tolong sabarlah saat aku sibuk mencarinya. Seperti sabarnya dia dulu melihat kita beradegan mesra di hadapannya!"


"aku bukan Nia Mas, tolong jangan sama kan aku dan dia. Aku akan pergi, dan kau carilah dia sampai kau dapat." ucapnya lalu melangkah keluar rumah. Namun tangannya tertahan oleh cengkraman Alan.


"sakit Mas, lepaskan!" Lala kesakitan dan terus berusaha melepaskan cengkraman Alan, namun tak juga bisa terlepas.


"aku tidak akan melepaskan, ayo masuk!" Alan menarik Lala dengan sangat kuat, hingga dia tersandung dan tersungkur di lantai.

__ADS_1


"kamu tahu La, ini kali kedua Mas Alan melakukan ini padaku!' ini tidaklah sakit, di banding sakit di dalam sini!'" dia mengingat kembali kata kata Nia yang pelan tapi begitu menyakitkan saat mendengarnya.


Dan kini dia tahu bagaimana rasanya Nia dulu di perlakukan Alan dengan tidak baik. Betapa kuatnya Nia hingga bisa memiliki hati yang luas dan bisa bersabar menerima ketidak adilan Alan. Kini Lala terjatuh dan tak sadarkan diri, Alan pun panik karena dia begitu kasarnya menarik tangan Lala.


__ADS_2