
Di kediaman Ello dan Nia, mereka tengah duduk santai di ruang tengah bersama Oma. Sudah satu minggu ini Mama sibuk ke rumah Tante Binti dan tidak ikut menemani Nia seperti biasanya. Mereka mengira jika Tante Binti benar benar sakit, dan harus ada orang yang menemaninya.
"Lena lama sekali Babang Sayang," rengek Nia.
"Sabar Sayang, sebentar lagi mereka pasti sampai." Ucap Ello menenangkan.
"Dari tadi sebentar sebentar terus, memangnya jarak Bandara ke rumah kita itu sampai berjam jam!" Gerutunya sambil memanyunkan bibir sexinya.
"Tadi Zac mengajak Lena ke rumahnya dulu untuk menemui Tante Binti," akhirnya Ello mengatakannya.
"Ke rumah Tante Binti..untuk apa Zac mengajak Lena ke sana, tumben banget."
"Iya, tumben sekali dia mengajak rekan gelutnya." Ucap Oma merasa heran.
"Katanya Tante Binti sangat menginginkan Lena menyuapinya," jelas Ello sambil mengunyah cemilan yang Nia buatkan untuknya.
"Oh.." Ucap Nia dan Oma bersamaan.
"Kamu merasa ada yang aneh gak sih?" Bisik Oma pada Nia.
"Aneh kenapa Oma?" Bisik balik Nia.
"Masa' sakit jantung gak mau di periksa lebih lanjut ke rumah sakit. Terus masa' tiap hari ngerengek minta Lena, bukannya minta obat biar cepat sembuh." Bisik Oma lagi.
"Siapa tahu obatnya itu Lena, pas sudah lihat Lena. Tante langsung sembuh deh.."
"Itu sungguh mencurigakan Nia, Oma sangat curiga pada Tantemu itu." bisik Oma yang merasakan ada keanehan tentang sakitnya Tante.
"Jangan suudzon sama orang Oma," karena Nia rasa tidak ada yang mencurigakan dari Tante Binti. Yang dia lihat Tante itu sangat baik walau kadang radak gesrek seperti Mama dan Oma. Namun tidak ada alasan yang tepat untuknya, buat mencurigai Tante.
Ello yang melihat gerak gerik aneh Oma dan Nia, dia pun merasa curiga. Dia ikut menempelkan telinganya di dekat Nia, dia sangat ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan.
"Ello nguping Oma.." Bisik Nia yang tahu jika suaminya sedang menguping.
__ADS_1
Oma dan Nia pun diam dengan saling menempelkan kepala mereka satu sama lain dan tatapan fokus ke arah televisi.
"Kenapa diam," ucap Ello dengan menatap heran pada kedua wanita di depannya.
"Emangnya kamu ingin kita teriak teriak gitu," sahut Oma.
"Tadi aku lihat kalian sedang bisik bisik, emangnya apa yang kalian bisikin?" Tanya Ello penuh selidik.
"Kepo.." Seru Nia dengan tertawa.
"Nia.." Teriak Lena yang baru datang bersama Zacky.
"Lena.." Ucap Nia riang.
"Minggir.. Minggir," pintanya dengan menarik tubuh Ello dari samping Nia.
"Astaga..kenapa aku punya teman sekaligus karyawan arogant sepertinya." Gerutu Ello dengan mulut yang komat kamit.
"Sabar Kak, orang sabar akan dapat anak kembar." Ucap Zac dengan terkekeh, lalu dia ikut duduk di bangku lain.
"Dari tebakanku saja," ucap Zac dengan terkekeh.
"Oh.." Ello pun mengelus dadanya.
"Aku sangat merindukanmu," ucap Lena yang langsung memeluk erat tubuh Nia dari samping.
"Aku juga merindukanmu," balas Nia. Mereka saling berpelukan untuk melepas rindu.
"Ehem.."
"Eh..ada Oma ternyata," ucap Lena dengan merenges pada Oma. Oma pun membelalakan kedua matanya lebar lebar dan mulut terbuka.
"Kau dari tadi tak menyadari jika di sini ada bidadari yang sedang duduk manis!"
__ADS_1
"Bidadari.." Seru mereka berempat.
"Kenapa kalian terkejut seperti itu," sinis Oma.
"Bidadari dari mana Nia?" Tanya Lena pada sahabatnya.
"Entah.." Sahutnya dengan mengangkat kedua bahunya.
"Bidadari jatuh dari plafon," sahut Ello dengan menunjuk ke atas.
Mereka berempat pun terkekeh, sedang Oma memanyunkan bibirnya dan mendengus kesal. Beliau berdiri dan berpindah duduk di sofa lainnya.
"Oma kan memang seperti Bidadari," ucap Zac yang langsung ikut duduk di samping Oma dan merangkulnya.
"Ah..terima kasih Zac, kau itu cucu ponakan paling baik." Ucap Oma dengan mengelus kepala Zac dengan lembut.
"Sama sama Oma.." Ucap Zac, membuat El dan yang lain merasa heran. Karena biasanya Zac pasti akan ikut menjahili Omanya.
"Kenapa kau lama sekali mengantar Lena Zac?" Tanya Nia."
"Maaf Kak, tadi ada insiden yang sangat sangat menggemparkan dunia." Ucap Zac lemas.
"Insiden menggemparkan." Ucap Ello, Nia dan Oma bersamaan.
Zacky dan Lena pun menceritakan semuanya pada Ello dan yang lain. Dan kebetulan saat itu Papa yang baru datang ke rumah Ello ikut mendengarkannya. Mereka pun terkejut atas penuturan yang Lena dan Zac katakan, namun hanya Papa yang merasa biasa saja.
"Tumben sekali Mama pjntar memilih seorang gadis. Lena memang gadis yang baik, kalau menjodohkan Zac dengan wanita baik baik sepertinya baru aku setuju dan tak menentangnya. Lain dengan wanita yang dulu Mama jodohkan dengan Ello, materialistik." Gumam Papa dalam hati.
"Papa hanya bisa doakan kalian bisa hidup bahagia dan rukun." Ucap Papa.
"Terima kasih Pa, semoga saja kita memang bisa rukun." Sahut Zac dengan melirik Lena.
"Rukun apanya, jika bukan karena Tante Binti dan Ibu yang suka mengataiku. Pasti aku sudah menolaknya, nasib nasib harus punya suami songong dan kaku sepertinya. Saking sibuknya, aku sampai tidak ada waktu mencari kekasih." Gerutunya dalam hati.
__ADS_1
"Tebakanku benar, aku mencium bau bau kibulan. Binti pasti tidak sedang sakit parah," Gumam Oma.