Antara Aku Dan Maduku

Antara Aku Dan Maduku
Part 103. Ekspresi wajah Mama yang berbeda


__ADS_3

Selesai sarapan, Papa dan Ello pergi ke ruang kerja untuk membahas pekerjaan. Sedang Nia mengajak Oma dan Mama menonton acara kesukaannya. Saat acara selesai, giliran Nia mengikuti acara kesukaan Oma.


Namun Mama hanya diam, raut wajahnya terlihat masam dengan terus melihat ponsel tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel itu.


"Dasar perempuan gak tahu di untung, anaknya tidak mau di jodohkan kok di paksa. Seperti takut kehabisan jodoh saja," Omel Oma saat menonton acara kesukaannya.


"Tuh kan, di bilang anaknya gak mau di paksa. Ngeyel sih, anaknya kabur kan. Dah Le..pergi saja jangan balik ke Emakmu, biar dia kapiran nyari nyariin kamu." Celoteh Oma kembali dengan berkacak pinggang dan menunjuk nunjuk ke arah televisi.


"Tumben Mama gak nyahutin omelan Oma," gumam Nia dalam hati. "Apa jangan jangan masih marah padaku karena sudah keceplosan pada Oma semalam." Imbuhnya.


"Mama kenapa? Kok sedih sih, apa karena perkataan Oma pada televisi itu. Atau Mama marah padaku soal semalam? Nia minta maaf ya Ma," Ucap Nia lembut, dia ikut sedih karena tak biasanya Mama seperti ini. Oma pun menghentikan omelannya, dan ikut melihat ekspresi tak wajar di wajah menantunya.


"Mama tidak apa apa, soal semalam itu kamu tidak salah Nak." Jadi jangan meminta maaf." jawab Mama berpura pura tersenyum.


"Kau kenapa, ada angin apa kau jadi pendiam seperti itu? Apa ada jin kalem yang merasukimu," seloroh Oma dengan tertawa. Namun Mama tetap diam, Oma kira Mama akan membalasnya namun itu tidak berhasil. Oma bingung dengan perubahan sikap Mama.


"Mama kenapa sih, coba cerita deh sama Nia!"


"Mama sedih, Tante Binti menyalahkan Mama. Dia sudah terlanjur menyukai Lena, tapi Lena dan Zacky tidak saling suka. Nyesel Mama sudah kenalin Tantemu pada Lena, dia kalau sudah suka tidak bisa di ganggu gugat." Ucap Mama jujur.


"Itu salahmu, ngapain suka jodoh jodohin anak orang. Jadinya seperti ini, keponakanku marah padamu." Ucap Oma.

__ADS_1


"Iya Ma ini salahku, dia minta Anne untuk bisa dekatin dan satuin Lena dan zacky Ma, dan membuat mereka saling cinta. Sepertinya keras kepalanya Binti keturunan dari Tantenya, yaitu Mama.Tak bisa terima kenyataan jika Lena tak menyukai Zac, begitu juga sebaliknya." Ketus Mama.


"Benar juga sih, dia itu selalu keras kepala sepertiku." Ucap Oma mengakui. "Tapi itu salahmu, seharusnya kamu tidak perlu kenalin Binti pada Lena dulu. Kau lihat dulu Lena dan Zacky itu ada rasa tidak pada Lena atau sebaliknya. Mereka saja bagai Tom and Jerry bila bertemu, bagai mana bisa jadi Romeo and Juliet."


"Lena sebenarnya baik Ma, hanya sikapnya saja arogant. Tapi dia akan lembut pada pria yang dia cintai atau mencintainya," ucap Nia.


Kini Oma, Mama dan Nia terdiam dan berpikir. Bagaimana caranya membuat Lena dan Zacky bisa baikan, dan Nia mencoba mengingat ingat pertama kali Lena menceritakan tentang Zacky. Lena berkata jika dia senang kerja dengan Ello, bisa ketemu bule tampan dan gagah.


Namun seminggu kemudian dia bilang bule tampan itu selalu menyebalkan, tidak peka dengan capernya Lena padanya. Lena selalu mengumpat Zacky bahwa dia pria tak berperasaan tak peka terhadap seorang wanita yang ingin di perhatikan olehnya.


"Aku mengingatnya," teriak Nia yang mengejutkan Oma dan Mama yang sedang melamun.


"Mengingat apa?" Tanya Mama datar sambil mengusap dadanya karena kaget.


"Kebetulan itu ada Zac datang, kau coba tanyakan padanya kenapa dia itu bisa bersikap dingin pada wanita! Dan beri dia banyak pertanyaan, agar kita bisa dapat info tentang kriteria wanita pilihannya." Pinta Oma saat melihat Zac yang memasuki rumah mereka. Oma mendorong tubuh Mama hingga terjatuh ke lantai.


"Mama..sakit Ma," pekik Mama dan segera bangun dan menghampiri Zacky yang baru masuk.


"Zac..Mama mau bicara denganmu sebentar saja," ucap Mama menunjukan wajah memelas.


"Ada apa Ma?" Tanya Zac santun.

__ADS_1


"Sini duduk dulu, Mama Anne mau tanya banyak padamu." Ucap Mama sambil menepuk sofa, beliau mengajak duduk di ruang tengah. Sedang Oma dan Nia sudah bersembunyi sedari tadi.


"Katanya sebentar, tapi memintaku duduk dan mau memberiku banyak pertanyaan." Gerutu Zac dalam hati.


"Maaf Ma, Zac gak bisa lama lama. Sudah di tunggu Kak El sama Papa Jaya di ruang kerja."


"Sebentar saja, nanti jika mereka memarahimu. Mama Anne yang akan membelamu, jadi menurutlah sama Mama!" Pinta Mama.


"Iya Ma," jawab Zac lemas.


"Zac, apa kamu belum punya kekasih?" Zac hanya menjawab dengan gelengan kepala.


"Kau tidak sedang dekat dengan seorang wanita?" Zac lagi lagi hanya menggeleng.


"Apa kau trauma pada seorang wanita?" Dan lagi lagi Zac menggelengkan kepalanya.


"Apa kau penyuka wanita," Zac pun spontan menggeleng lagi.


"What..kau tak menyukai wanita Zac," pekik Mama.


"Ma..bukan begitu, aku menyukai wanita Ma. Aku ini pria sejati Ma, jangan teriak seperti itu jika ada yang dengar nanti salah paham."

__ADS_1


"Zac tidak menyukai wanita Oma," lirih Nia saat menguping pembicaraan Mama dan Zac dari belakang sofa di mana Mama duduk.


"Stt..jangan keras keras, nanti Zac dengar." Bisik Oma.


__ADS_2